Puluhan Santri di Tiga Ponpes di Mojokerto Diasah Ketahanan Mental dan Empatinya

Kegiatan Qoryah Thoyyibah ini menjadi bagian dari program Pesantren Mengabdi, salah satu implementasi tridarma perguruan tinggi yang dijalankan UIN Maliki Malang.

19 Oct 2025 - 19:23
Puluhan Santri di Tiga Ponpes di Mojokerto Diasah Ketahanan Mental dan Empatinya
Puluhan santri Pondok Pesantren Hidayatul Hikmah Sawahan, Mojokerto, antusias mengikuti sesi penguatan empati dan ketangguhan mental bersama Tim Qoryah Thoyyibah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. (Foto : UIN Maliki Malang)

KOTA MALANG, SJP – Unit Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang melalui program Qoryah Thayyibah menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat di tiga pesantren wilayah Mojosari, Mojokerto, Ahad (19/10/2025).

Program bertajuk “Menumbuhkan Empati, Persaudaraan, dan Ketangguhan di Pesantren” ini menjadi langkah perguruan tinggi dalam membangun ketahanan psikologis santri sebagai bagian dari penguatan karakter religius dan sosial.

Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Hikmah, Darul Hikmah, dan Alhikmah, Mojosari, Mojokerto ini melibatkan 69 santri, 16 pengurus pesantren, serta dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi. 

Pendekatan psikologi humanistik dan spiritual menjadi basis utama setiap sesi, menekankan kesadaran diri, pengelolaan emosi, dan empati sosial di lingkungan pesantren.

Ketua Qoryah Thoyyibah, dari Fakultas Humaniora UIN Malang, Ulil Fitriyah, menyampaikan bahwa pengabdian ini merupakan wujud implementasi bahasa sebagai media untuk membentuk karakter santri dalam konteks sosial, keagamaan yang dinamis.

“Santri perlu memahami bahwa kesehatan mental juga berhubungan dengan penggunaan bahasa dan komunikasi yang santun serta memiliki kesadaran dalam berbahasa,” terangnya, Ahad (19/10/2025).

Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang, Muh. Anwar Fu’ady, yang hadir sebagai pemateri utama, menegaskan pentingnya membangun empati dan komunikasi terbuka di lingkungan pesantren.

“Pesantren memiliki potensi besar untuk melatih resiliensi. Dengan pendekatan psikologi positif dan spiritualitas Islam, santri dapat belajar menghadapi tekanan hidup dengan bijak serta menjadikannya proses menuju kematangan diri,” terangnya saat dikonfirmasi.

Dalam sesi reflektif, Anwar mengibaratkan kehidupan santri seperti proses pembentukan guci. Melalui pembakaran, tempaan, serta pembentukan yang panjang agar akhirnya mencapai bentuk yang bermakna dan memiliki value.

“Begitu pula santri, setiap ujian dan tantangan adalah bagian dari proses menuju ketangguhan dan kemuliaan,” ujarnya.

Disela agenda, pengasuh Ponpes Hidayatul Hikmah Mojosari, Gus Abul Ma’ali, menyambut positif kegiatan tersebut.

“Kehadiran tim UIN Maliki memberi warna baru dalam cara pandang santri terhadap kesehatan mental. Semoga kerja sama seperti ini terus berlanjut sebagai sinergi ilmu dan pengabdian,” tuturnya.

Program ini difokuskan pada penguatan pesantren ramah anak serta peningkatan kesejahteraan psikologis, spiritual, dan sosial bagi santri.

"Kami juga berkomitmen untuk menjadikan pesantren Sawahan (kawasan Mojokerto) ramah anak sebagaimana amanah kementerian agama," Gus Abul Ma'ali memungkasi.

Kegiatan Qoryah Thoyyibah ini menjadi bagian dari program Pesantren Mengabdi, salah satu implementasi tridarma perguruan tinggi yang dijalankan UIN Maliki Malang. (*)

Editor: Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow