PHRI Kota Batu Dukung Penyediaan Ruang Ekspresi Pelaku Seni di Tempat Wisata
Ketua PHRI Kota Batu Sujud Hariadi pada Sabtu (14/6/2025) menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan elemen penting dalam memperkaya pengalaman wisatawan. Namun demikian, ia menekankan perlunya sistem kurasi agar pertunjukan yang ditampilkan benar-benar menarik dan berkualitas.
KOTA BATU, SJP—Dukungan terhadap pelaku seni untuk tampil di destinasi wisata Kota Batu terus menguat. Kali ini, dukungan datang dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu serta pihak manajemen wisata legendaris, Taman Rekreasi Selecta.
Mereka menyatakan kesiapan membuka ruang pertunjukan seni sebagai bagian dari penguatan kebudayaan yang selaras dengan pengembangan sektor pariwisata daerah.
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi menegaskan, seni dan budaya merupakan elemen penting dalam memperkaya pengalaman wisatawan.
Namun demikian, dia menekankan perlunya sistem kurasi agar pertunjukan yang ditampilkan benar-benar menarik dan berkualitas.
“PHRI dan Selecta mendukung penuh panggung bagi pelaku seni. Tapi harus ada kurasi. Apa yang ditampilkan harus menarik, interaktif, dan memiliki durasi yang jelas. Jangan asal tampil,” katanya.
Apabila konsep tersebut diterapkan di Selecta, panggung seni diusulkan dilakukan di dua sesi. Yakni pagi, hari pukul 10.00–11.00 WIB, dan sore hari, dari pukul 14.00–15.00 WIB, setiap akhir pekan. Waktu ini dinilai efektif menjangkau pengunjung yang sedang menikmati suasana taman bunga dan wahana.
Terkait sistem pembiayaan, Sujud menolak model ‘ngamen’ atau pelaku seni harus mencari uang dari pengunjung. Dia menegaskan, seharusnya pihak manajemen wisata yang menyiapkan kebutuhan teknis dan memberikan fee yang layak.
“Kami tidak ingin pelaku seni seperti mengamen. Idealnya, pihak pengelola wisata yang memberikan honor, menyiapkan tempat, dan fasilitas lainnya,” tegasnya.
Meski demikian, Sujud menilai bahwa orisinalitas karya tidak harus menjadi syarat mutlak. Yang terpenting adalah karya tersebut bisa menghibur dan menarik perhatian wisatawan.
Meski belum ada komunikasi resmi dari Pemkot Batu terkait kebijakan ruang seni di tempat wisata, Sujud berharap ke depan pemerintah lebih terbuka dan melibatkan stakeholder wisata, termasuk PHRI, dalam menentukan skema dan pelaksanaan.
“Intinya, kami mendukung. Tapi kami juga ingin diberikan kewenangan untuk ikut menentukan siapa yang layak tampil dan berapa kisaran honor yang masuk akal untuk para seniman. Dukungan ini setidaknya menjadi sinyal positif bagi pelaku seni di Kota Batu. Jika disinergikan dengan baik oleh pemerintah, seni pertunjukan dapat menjadi bagian integral dari daya tarik wisata yang tak hanya menghibur, tetapi juga merawat dan memperkuat identitas budaya lokal Kota Batu,” pungkasnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

