Peyek Buatan Pemuda Asal Blitar Ini Laris hingga ke Luar Negeri
Produk peyek koin milik Ipong Wahyudianto (28) warga Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar laris manis dipesan untuk keperluan lebaran
BLITAR, SJP - Rempeyek atau peyek merupakan salah satu camilan renyah yang banyak disukai berbagai kalangan usia. Tidak heran, makanan tradisional ini lebih banyak dipesan pada bulan Ramadan. Terutama mendekati Hari Raya Idulfitri.
Biasanya, peyek yang dijual di pasaran berukuran besar. Namun, di tangan seorang pemuda asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Ipong Wahyudianto (28), peyek yang dibuat disulap menjadi berukuran mini atau disebut dengan peyek koin.
Meski berukuran mini, peyek koin yang diproduksi Ipong memiliki rasa yang sama dengan peyek yang berukuran besar. Rasanya garing, renyah dan gurih.
Saat ditemui di rumahnya, Ipong mengaku mulai menekuni usaha produksi peyek koin ini sejak awal tahun 2020 atau saat awal terjadi pandemi Covid 19.
"Saya masih menjadi mahasiswa. Kan pembelajaran dilakukan secara online atau dari rumah. Saya kepikiran membuat peyek koin sampai sekarang," kata dia, Rabu (5/3/2025).
Ketika merintis usahanya, Ipong sempat melakukan uji coba resep sebanyak tujuh kali untuk menemukan rasa yang pas dan sesuai dengan keinginannya.
Saat awal produksi, dia hanya mampu membuat peyek koin sebanyak 1 kilogram dalam satu hari. Kini, per harinya mampu produksi sebanyak 15 kilogram.
"Bentuknya seperti koin bulat. Saya mencetak menggunakan cetakan kue bikang mini atau cetakan jajanan makaroni telur. Setelah dicetak, dikumpulkan dulu dan selanjutnya digoreng lagi di minyak goreng panas," ujarnya.
Pada momen Ramadan seperti saat ini, peyek koin milik Ipong laris manis dipesan pelanggannya. Baik lokal maupun luar daerah. Pada dua hari awal Ramadan, dia sudah mendapat orderan 15 kilogram peyek koin dan diprediksi jumlah orderan terus mengalami peningkatan.
Biasanya, produk peyek koin yang dibuat Ipong dijadikan suguhan saat lebaran dan dijadikan sebagai oleh-oleh untuk sanak keluarga.
Berkaca pada Ramadan tahun sebelumnya, Ipong mendapat pesanan peyek koin sebanyak 150 kilogram dan omset produksi mencapai Rp65 juta. Sementara pada hari-hari biasa, omset yang didapat hanya berkisar Rp15 juta.
"Untuk Ramadan ini pesanan meningkat. Saya menambah pekerja juga. Kalau biasanya dua orang, sekarang ada empat orang," terangnya.
Ada dua varian peyek koin yang dia produksi. Yakni peyek koin original dan rasa manis pedas. Harga jual peyek koin buatan Ipong sebesar Rp97.000 per kilogram dan seharga Rp50.000 per kilogram untuk kemasan 500 gram.
Selama ini, dia memasarkan peyek koinnya secara online melalui media sosial dan berhasil menyasar pelanggan di luar pulau hingga luar negeri. Dia juga pernah mengirim ke Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Aceh dan Lampung.
Selain itu, Ipong juga rutin mengirim produk peyek koin ke Taiwan tiap hari Rabu dan ke Hongkong pada tiap hari Kamis.
"Pelanggan saya itu dari medsos rata-rata. Karena kan saya memang suka ngonten. Ketika saya unggah konten termasuk produk saya, di situ pelanggan mulai muncul," ungkapnya.
Menurut Ipong, produk peyek koin sebenarnya sudah ada di daerah Tulungagung. Namun, untuk produknya dipastikan berbeda dengan produk di luar daerah tersebut.
Dia mencoba membuat rempeyek koin agak tebal, tetapi dengan tekstur yang empuk dan renyah. Jika biasanya memakai kacang cincang, peyek koin buatannya menggunakan kacang tanah utuh. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

