Petani Kanigaran Kota Probolinggo Berjuang Lawan Invasi Keong Emas di Awal Musim Tanam
Masuk musim penghujan, bukannya cuma berkah yang datang, tapi juga hama keong emas! Sejumlah petani di Kelurahan Kanigaran mulai was-was karena tanaman padi mereka yang masih muda habis digerogoti hama kol.
KOTA PROBOLINGGO, SJP - Awal musim penghujan tahun ini membawa tantangan berat bagi para petani di Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo.Di saat tanaman padi mereka baru saja memasuki fase pertumbuhan awal, hama keong emas atau yang akrab disebut "kol" oleh warga setempat, muncul secara masif dan merusak area persawahan.
Fenomena ini menyebabkan kerusakan fisik pada batang padi muda dan mengancam keberhasilan panen di masa depan.
Keong emas ini diduga bermigrasi ke lahan-lahan pertanian melalui saluran irigasi yang debit airnya meningkat seiring tingginya curah hujan. Target utama hama ini adalah bibit padi yang masih berusia belasan hari, karena teksturnya yang lunak dan mudah dikonsumsi. Dampaknya, pertumbuhan padi menjadi kerdil atau bahkan mati sebelum berkembang.
Kondisi ini memaksa para petani untuk bekerja ekstra keras. Selain tenaga, mereka juga harus mengalokasikan anggaran lebih untuk membeli pestisida guna menekan populasi hama tersebut.
Poniman, salah seorang petani terdampak, mengungkapkan keresahannya mengenai efektivitas penanganan hama yang belum maksimal meski modal sudah dikeluarkan.
“Jadi hama keong emas atau disebut kol ini mulai banyak sejak musim penghujan. Bahkan, keong ini hampir ditemui di setiap petak sawah milik petani,” jelas Poniman saat ditemui di sawahnya.
“Selain menggunakan obat, kalau ke sawah keong tersebut saya ambil agar tidak merusak pertumbuhan tanaman padi.” imbuhnya.
Meski telah dilakukan penyemprotan obat pembasmi seharga Rp60.000 per botol, ancaman belum sepenuhnya hilang. Telur-telur keong berwarna merah muda masih banyak ditemukan menempel di sela-sela pematang dan pangkal tanaman, menandakan populasi baru akan terus menetas.
Masalah ini ternyata tidak hanya merugikan petani padi. Holili, seorang petani bawang merah di wilayah yang sama, juga merasa terganggu dengan keberadaan kol yang jumlahnya sangat banyak di saluran air. Walaupun keong emas tidak memakan daun bawang, kehadirannya cukup menghambat aktivitas rutin di sawah.
“Karena keong masuk ke saluran air, kadang saat saya menyiram tanaman bawang, kaki tidak sengaja menginjaknya,” ujar Holili yang mengeluhkan gangguan fisik saat beraktivitas di lahan.
Hingga saat ini, para petani masih mengandalkan kombinasi antara pembersihan manual dan obat-obatan kimia. Mereka berharap ada bantuan teknis atau solusi jangka panjang dari pihak terkait agar invasi keong emas ini tidak semakin meluas dan memicu kerugian ekonomi yang lebih besar bagi sektor pertanian lokal. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

