Petani Desa Kiping Tulungagung Lakukan Penyemprotan Massal Atasi Hama Wereng

Selain pestisida, petani juga disarankan untuk menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satunya dengan memanfaatkan musuh alami wereng, seperti kumbang koksi, yang biasa hidup pada tanaman refugia.

09 Sep 2025 - 12:58
Petani Desa Kiping Tulungagung Lakukan Penyemprotan Massal Atasi Hama Wereng
Petani di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung, beramai-ramai menyemprotkan pestisida untuk pengendalian hama wereng. (Beny/SJP)

TULUNGAGUNG, SJP - Puluhan petani di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung, melakukan penyemprotan massal tanaman padi untuk mengendalikan hama wereng, Selasa (9/9/2025).

Aksi serentak ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar serangan tidak kembali meluas seperti yang terjadi pada bulan Agustus lalu.

Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan pestisida bantuan dari Dinas Pertanian Tulungagung. Dua kelompok tani di desa tersebut mendapat jatah total 20 botol pestisida dengan bahan aktif dimehipo yang dibagikan rata kepada para petani.

“Untuk satu kelompok dapat 10 botol, jadi dua kelompok totalnya 20 botol. Lalu kami bagi rata untuk petani Desa Kiping,” ujar Esti Wahyuni, Petugas Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) setempat.

Menurut Esti, serangan wereng di wilayah Kiping sebelumnya cukup parah hingga memaksa petani melakukan penyemprotan dengan dosis tinggi. Meski terbukti menekan populasi hama, cara tersebut dikhawatirkan menimbulkan dampak lain berupa kekebalan wereng terhadap pestisida. 

“Kemarin petani sudah mengendalikan sendiri dengan dosis tinggi seperti menggunakan merek Plenum atau Peksalon,” jelasnya.

Ia menekankan penggunaan pestisida sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan dosis rendah lebih dulu. Bahan aktif yang disarankan antara lain BPMC, dimehipo, dan imidakloprid. 

“Kalau memang belum berhasil, barulah menggunakan dosis yang lebih tinggi. Tujuannya supaya hama tidak cepat kebal,” tegas Esti.

Selain pestisida, ia juga menyarankan petani untuk menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satunya dengan memanfaatkan musuh alami wereng, seperti kumbang koksi, yang bisa hidup pada tanaman refugia. 

“Kalau dalam satu rumpun padi masih lima sampai tujuh ekor wereng, sebenarnya bisa dikendalikan musuh alami. Tapi masyarakat sini belum terbiasa menanam refugia,” katanya.

Meski begitu, upaya pengendalian terus dilakukan secara berkala. Penyemprotan massal kali ini merupakan yang keempat sejak masa tanam dimulai. Saat ini, tanaman padi berusia sekitar 40-45 hari dan terus dipantau perkembangannya.

“Pengendalian wereng itu tidak cukup sekali. Harus dilakukan pengamatan terus-menerus hingga panen,” tambah Esti.

Dua kelompok tani Desa Kiping diketahui menggarap lahan sawah seluas 52 hektare. Kelompok pertama mengelola sekitar 30 hektare, sementara kelompok kedua 22 hektare. Kondisi saat ini, menurut Esti, jauh lebih terkendali dibanding puncak serangan pada bulan lalu. 

“Sekarang relatif stabil. Tidak separah Agustus kemarin,” tuturnya.

Dengan adanya bantuan pestisida dari dinas, petani berharap populasi wereng tetap terkendali hingga masa panen tiba.

“Harapan kami, pengendalian bisa dilakukan sedini mungkin sebelum hama membludak lagi,” pungkas Esti. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow