Permainan 'Seldung' Dentuman Pengisi Waktu Anak-anak di Situbondo saat Menunggu Berbuka
Memanfaatkan libur awal Ramadan, anak-anak di Situbondo memainkan meriam kaleng tradisional atau “seldung” saat menjelang berbuka. Permainan ini didukung orang tua dengan tetap mengedepankan pengawasan demi keamanan.
SITUBONDO, SJP – Memasuki libur sekolah di awal Ramadan, suasana sore hari di sejumlah wilayah Situbondo tampak lebih semarak. Sejumlah anak terlihat memainkan meriam kecil berbahan kaleng bekas yang menghasilkan dentuman keras. Permainan tradisional ini biasa dimainkan menjelang waktu berbuka puasa.
Di kalangan warga, meriam kecil berbahan bakar spiritus tersebut dikenal dengan sebutan “seldung”. Biasanya, anak-anak memainkannya di area persawahan atau di bantaran sungai dengan pengawasan orang dewasa.
Meski menghasilkan suara yang cukup keras, permainan ini dinilai relatif aman selama digunakan dengan pendampingan. Banyak orang tua justru mendukung aktivitas tersebut sebagai alternatif kegiatan positif selama Ramadan.
“Biasanya kami para orang tua tetap mengawasi dan membantu membuat alatnya. Kami mendukung anak-anak bermain di luar rumah daripada terlalu lama bermain handphone,” ujar Arif Darmawan (32), warga Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji.
Bagi masyarakat setempat, tradisi seldung bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari keceriaan Ramadan. Selain mempererat kebersamaan, permainan ini dianggap mampu mengurangi ketergantungan anak pada gawai.
Cara pembuatannya pun terbilang sederhana dan murah. Umumnya, seldung dirakit dari kaleng bekas susu atau botol air mineral yang disusun memanjang menyerupai meriam, kemudian direkatkan dan diperkuat dengan lilitan isolasi.
Setelah dirakit, bagian dalamnya diberi percikan api dari korek dan diisi sedikit cairan spiritus. Saat pelatuk dinyalakan, terdengar dentuman keras menyerupai suara meriam, disambut sorak kegembiraan anak-anak yang menunggu waktu berbuka puasa.
Meski demikian, warga tetap mengingatkan agar permainan dilakukan secara hati-hati dan di tempat terbuka guna menghindari risiko kebakaran maupun cedera. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

