Perjuangan Sang Penjual Arang Asal Lereng Mumbulsari Jember

Meski zaman terus berubah, dedikasinya terhadap pembuatan arang tetap menyala, seperti bara hasil produksi yang selalu dinanti para pelanggan yang kebanyakan memiliki usaha bakar sate.

14 Jun 2025 - 11:32
Perjuangan Sang Penjual Arang Asal Lereng Mumbulsari Jember
Hos Nyaruki salah seorang penjual arang Asal Kabupaten Jember. (Foto : Ulum/SJP)

JEMBER, SJP – Di tengah gempuran arus modernisasi dan derasnya inovasi teknologi yang merambah ke berbagai lini kehidupan, masih ada sosok-sosok tangguh yang memilih untuk setia menekuni profesi tradisional peninggalan zaman dulu.

Sebut saja, Hos Nyaruki, seorang pembuat arang kayu asal Dusun Curahlaos, Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur yang saat ini berumur hampir 80 tahun.

Meski zaman terus berubah, dedikasinya terhadap pembuatan arang tetap menyala, seperti bara hasil produksi yang selalu dinanti para pelanggan yang kebanyakan memiliki usaha bakar sate.

Pak Hos, panggilan akrabnya, mengaku jika profesi ini telah digelutinya sejak masih muda dan ini juga cikal bakal dari orang tuanya yang dulu mempunyai profesi yang sama.

Ia menceritakan jika seluk beluk dunia arang sudah ia geluti puluhan tahun dan pekerjaan tersebut sudah ia jalani tanpa banyak keluhan.

Terlihat, tampak rumah tidak mewah namun rindang, tumpukan arang-arang kayu hasil bakaran tertata rapi dalam karung-karung besar yang nantinya akan dikemas dan dijual.

Di sanalah pusat segala aktivitasnya, dari memilih kayu, membakar, mengayak abu.

“Setiap hari pasti membuat arang. Kalau belum ada yang memesan, arang itu saya jajakan,” kata Pak Hos dengan suara lirih namun penuh keteguhan, Sabtu (14/6/2025).

Ia tak membiarkan tungkunya dingin meski pesanan sedang sepi dan itu sudah dilakukan agar nama penjual arang yang ia sandang tidak padam dan lekang oleh jaman.

Kegigihan itulah yang membuatnya dikenal luas di kalangan pembeli setia, dari pedagang sate skala rumahan hingga pemilik gudang.

Produksi arangnya tidak selalu stabil. Jika permintaan menurun, dalam sehari ia hanya mampu menghasilkan lima karung.

Namun saat pesanan membeludak, jumlah itu bisa berlipat ganda. Bahkan demi memenuhi permintaan pelanggan, Pak Hos tak segan memasok arang dari tetangganya untuk dijual kembali.

Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan adalah hal yang utama.

“Kalau pesanan banyak, saya beli dari orang sekitar juga, terus saya jual ke langganan. Yang penting pesanan mereka terpenuhi dan tidak kecewa,” ceritanya.

Arang buatan Pak Hos dipasarkan dengan harga yang cukup terjangkau, yakni antara Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per karung.

Harga tersebut bergantung pada jenis kayu yang digunakan.

Ia mendapatkan bahan baku dari warga sekitar yang menjual kayu gelondongan untuk kemudian ia olah menjadi arang.

Menariknya, sistem distribusi Pak Hos masih bersifat manual. Ia mengandalkan sepeda motor untuk mengantarkan arang ke pelanggan.

Wilayah pengirimannya pun meluas dari Kecamatan Mumbulsari hingga ke Jenggawah, Ajung, Ambulu, dan sekitarnya.

Dulu, sebelum memiliki sepeda motor, ia bahkan mengayuh sepeda ontel untuk mengantarkan pesanan.

“Dulu pakai sepeda, kadang jauh-jauh ke Jenggawah. Sekarang sudah pakai motor, alhamdulillah lebih ringan,” kenangnya sambil tersenyum.

Transformasi kecil ini cukup membantu kelancaran bisnisnya, terutama dalam menjangkau wilayah-wilayah yang cukup jauh.

Selain sarana transportasi, komunikasi dengan pelanggan juga mengalami perubahan.

Jika dahulu ia harus mendatangi pelanggan satu per satu atau menunggu mereka datang ke rumah, kini Pak Hos sudah memanfaatkan telepon untuk menerima pesanan.

Ia membuktikan bahwa adaptasi bukanlah hal yang mustahil, bahkan bagi pelaku usaha tradisional sekalipun masih bisa bertahan pada jaman puncak teknologi seperti sekarang ini.

Dalam menjalankan usahanya, Pak Hos kini tidak sendiri. Ia kini dibantu oleh anaknya, Sumiati, beserta suami dan cucunya.

Semangat gotong royong keluarga ini menjadi penguat utama agar usaha turun-temurun ini tetap berjalan.

Ia juga telah mewariskan keterampilan dan pengetahuan tentang pembuatan arang kepada anak-anaknya, sebagai bekal kelangsungan usaha di masa depan.

Pak Hos Nyaruki adalah simbol ketekunan dan daya tahan dalam menghadapi zaman.

Sosoknya mengajarkan bahwa tradisi tak harus ditinggalkan untuk bisa bertahan, melainkan bisa diselaraskan dengan perkembangan.

Di sela-sela asap pembakaran kayu dan tumpukan arang yang hitam legam, menyala semangat seorang bapak tua yang tidak ingin menyerah pada perubahan zaman.

Bagi Pak Hos, selama bara masih bisa menyala, perjuangan harus tetap menyala pula. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow