Pengendara di Bawah Umur Dominasi Jumlah Pelanggar Selama Operasi Zebra Semeru 2025 di Tulungagung
Mayoritas pelanggaran dilakukan oleh pelajar di bawah umur yang berkendara tidak memakai helm.
TULUNGAGUNG, SJP - Operasi Zebra Semeru 2025 yang berlangsung selama 14 hari, mulai 17 hingga 30 November 2025, telah resmi berakhir. Satlantas Polres Tulungagung merilis hasil pelaksanaan operasi yang mencatat peningkatan jumlah kecelakaan dibanding tahun sebelumnya.
Sepanjang operasi, terjadi 23 kejadian kecelakaan dengan satu korban meninggal dunia dan 47 orang mengalami luka ringan.
Kasat Lantas Polres Tulungagung, AKP Muhammad Taufik Nabila, menyampaikan bahwa sepanjang operasi pihaknya melakukan berbagai kegiatan preemtif, preventif, hingga represif. Hasilnya, jumlah pelanggaran masih didominasi pengendara di bawah umur yang tidak menggunakan helm.
“Selama 14 hari operasi, kami mencatat lebih dari 20.846 kegiatan preemtif seperti penyuluhan, pembinaan, hingga pemasangan banner. Sementara untuk represif, total ada 10.423 penindakan yang terdiri dari tilang elektronik statis, mobile, manual, dan teguran,” jelas AKP Taufik Nabila, Senin (1/12/2025).
Kasatlantas menjelaskan, dalam rincian penindakan represif, tilang elektronik statis menangkap 3.500 pelanggaran, tilang elektronik mobile 1.618 pelanggaran, tilang manual 78 kasus, serta 5.226 teguran. Mayoritas pelanggaran dilakukan oleh pengendara di bawah umur yang tidak memakai helm.
“Pelanggaran paling banyak tetap pada pengendara usia sekolah. Ini menunjukkan perlunya edukasi yang lebih intens, termasuk sosialisasi ke sekolah-sekolah,” tambahnya.
Selain penindakan, polisi juga mengamankan enam kendaraan yang tidak sesuai spesifikasi teknis (spektek) dan tidak dapat menunjukkan surat-surat kendaraan saat pemeriksaan.
Berdasar catatan pihak Satlantas Polres Tulungagung, jumlah kecelakaan selama Operasi Zebra 2025 naik dibanding tahun sebelumnya. Pada Operasi Zebra 2024, tercatat 20 kejadian kecelakaan dengan satu orang meninggal. Tahun ini naik menjadi 23 kejadian.
“Dibandingkan 2024 ada peningkatan jumlah kecelakaan. Tahun lalu 20 kejadian, tahun ini menjadi 23 kejadian. Namun jumlah korban meninggal tetap sama, satu orang,” terang AKP Taufik.
Wilayah dengan kecelakaan tertinggi adalah Kecamatan Ngunut dan Kedungwaru, yang sejak lama dikenal sebagai titik rawan atau black spot. Di Ngunut sendiri terdapat empat kejadian kecelakaan dan satu korban meninggal.
Meski Operasi Zebra 2025 telah berakhir, Satlantas Polres Tulungagung memastikan sosialisasi keselamatan lalu lintas kepada masyarakat, terutama pelajar tetap akan digencarkan. Pihak kepolisian menilai kawasan Ngunut menjadi prioritas edukasi karena tingginya pelanggaran dan kecelakaan di wilayah tersebut.
“Setelah operasi ini, kami akan fokus melakukan sosialisasi lebih intens di wilayah Ngunut dan sekitarnya. Harapannya masyarakat mematuhi aturan bukan karena takut polisi, tetapi karena kesadaran keselamatan,” tegas AKP Taufik.
Satlantas Polres Tulungagung berharap upaya edukasi dan penindakan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat menekan angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas di tahun mendatang. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

