Penangkaran Benih Kentang Berbasis Internet Hadir di Ngadas Malang
Dengan teknologi ini, kami bisa memantau kebutuhan tanaman seperti air dan pupuk secara akurat, hasil produksi kentang meningkat drastis dari 7-8 ton per hektar menjadi 15-20 ton per hektar.
MALANG — Tempat penangkaran benih yang dinamakan 'Screen House' berbasis teknologi dalam membantu produktivitas hasil pertanian, digelontorkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP). Ini menunjukkan pertanian modern telah merambah ke pedesaan.
Proyek senilai Rp 500 juta dari anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2024 ini, digadang-gadang dapat menambah produktivitas panen kentang.
Bupati Malang, HM Sanusi berharap, dengan diresmikannya screen house modern untuk pembibitan kentang G0 (bibit master kentang), dapat meningkatkan produktivitas hasil panen.
"Semoga petani milenial 'Jarak Ijo' semakin semangat, karena menginspirasi kepada petani se-Kabupaten Malang dan memberi barokah," ujar Bupati Sanusi di depan puluhan petani Dusun Jarak Ijo, Ngadas, Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang pada Rabu (15/1/2025) sore.
"Mudah-mudahan terus berkembang, sehingga petani di sini benar-benar jadi percontohan untuk Indonesia," imbuhnya.
Secara terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputra, kepada awak media mengatakan, bantuan Pemkab Malang berupa screen house tersebut memiliki luas 300 meter persegi yang dilengkapi teknologi modern. Mendatang, Poktan dapat secara mandiri dan memproduksi bibit unggul kentang G0 (G nol).
Avicenna menjelaskan, jika teknologi screen house modern tersebut juga dilengkapi dengan aplikasi digital internet of thing (IoT) memungkinkan pemantauan kondisi tanaman secara real-time, sehingga menjalankan pertanian menjadi lebih mudah.
"Screen House modern ini dilengkapi dengan IOT untuk pertanian, jadi basisnya internet, sehingga nanti operasional pengairannya, sistem drip, sistem spuyer, pengendalian hamanya, itu semua otomatis, jadi lebih ke arah pertanian modern," jelas Avicenna.
Avicenna mengatakan, jika pada awalnya melihat potensi kentang di Poncokusumo sangat luar biasa mengingat ada 300 hektare lebih yang dikelola satu desa yang dikelola Poktan Bromo dan Poktan Semeru.
"Melihat luas begitu dengan musim tanam mereka hampir sepanjang tahun, 2-3 kali tanam itu kentang dan pada awal mereka itu dapat 10-8 ton per hektare. Begitu kita intervensi dengan benih yang bagus, bisa mencapai antara 35-40 sampai 50 ton, luar biasa," bebernya.
Lebih lanjut, Avicenna kemukakan jika inisiasi pembuatan screen house modern berawal dari sekelompok petani milenial yang mengikuti program Youth Enterpreneur and Employment Support Services (YESS) untuk menciptakan wirausaha milenial yang tangguh dan berkualitas dari kementerian Pertanian sehingga mendapatkan hibah kompetitif kurang lebih Rp 140 juta untuk budidaya.
"Karena mereka (Petani YESS) butuh kemandirian benih, dan bagaimana caranya mendapatkan benih, dari sinilah tercetus ide membuat Screen house modern sendiri, di Malang ada dua, satu di Jarak Ijo dan satunya di Turen (komoditas melon)," terang Avi.
Sementara itu, Ketua Poktan Bromo, Joko Utomo, mengungkapkan kegembiraannya setelah mendapatkan bantuan DTPHP karena sebelumnya para petani kentang di desa Jarak Ijo masih menggunakan bibit lokal.
"Dengan teknologi ini, kami bisa memantau kebutuhan tanaman seperti air dan pupuk secara akurat, nanti hasil produksi kentang kami meningkat drastis dari 7-8 ton per hektar menjadi 15-20 ton per hektar," tutup Joko. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

