Pemkot Batu Perkuat Pertanian Hortikultura, Ekspor Tembus Pasar Internasional
Kota Batu sukses menguatkan pertanian hortikultura. Produk unggulan seperti jeruk, mawar, hingga keripik apel kini tembus pasar internasional, sekaligus menekan kemiskinan dan pengangguran.
KOTA BATU, SJP — Pemerintah Kota (Pemkot) Batu menegaskan komitmen menjadikan sektor pertanian hortikultura sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Berbagai capaian komoditas pertanian kini bahkan menembus pasar internasional.
Wali Kota Batu Nurochman menyebut, penguatan sektor pertanian berkontribusi menekan angka kemiskinan hingga 3,06 persen pada 2024. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Timur maupun nasional.
Tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 3,63 persen. Menurut Nurochman, kombinasi pertanian yang kuat dan pariwisata bernilai tambah menjadi kunci kesejahteraan masyarakat sekaligus keberlanjutan ekonomi Kota Batu.
“Apalagi sejumlah capaian menjadi bukti keseriusan itu. Kota Batu dikenal sebagai produsen jeruk siam terbesar kedua di Jawa Timur dengan produksi 33.711 ton per tahun,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Dia menambahkan, bunga mawar turut menyumbang capaian itu. Produksi mencapai 81,7 juta tangkai per tahun menjadikan Kota Batu sebagai sentra utama di Indonesia.
Melalui Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (Coosae), kolaborasi antara petani, koperasi, dan pemerintah, komoditas seperti kentang, wortel, jambu kristal, hingga alpukat hass berhasil masuk pasar ekspor.
Capaian ekspor juga tercermin dari pelepasan kontainer produk olahan pertanian asal Kota Batu ke Singapura. Produk yang dikirim antara lain keripik apel, salak, pisang, dan ubi.
Selain itu, sejumlah sampel buah segar telah dikirim ke Singapura dan Dubai untuk membuka jalur ekspor reguler. Sementara sektor florikultura mulai menembus pasar Tiongkok melalui komoditas tanaman hias Song of India.
Total capaian ekspor pertanian Kota Batu diperkirakan mencapai 30 ton per tahun, dengan keripik apel sebagai produk andalan. Keberhasilan itu tidak hanya berhenti pada produksi semata.
Pemkot Batu juga membuka ruang kerja sama riset dan pengembangan teknologi dengan 17 perguruan tinggi di Jawa Timur. Seluruh mahasiswa didorong terlibat langsung melalui penelitian dan pengabdian.
“Kami ingin Kota Batu menjadi sentra pertanian berkelanjutan. Mahasiswa punya peran penting melalui penelitian, teknologi, dan gagasan kreatif,” tegasnya.
Menurut Nurochman, dukungan riset dan inovasi generasi muda sangat vital memperkuat ketahanan pangan dan memperluas peluang ekonomi. Inisiatif koperasi multi pihak itu bahkan sudah berjalan sebelum pemerintah pusat meluncurkan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Hal itu menandakan Batu sudah memiliki fondasi kokoh untuk melangkah lebih jauh sebagai pusat pertanian hortikultura berdaya saing global. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

