Pelindo Turun Tangan di Pantai Mutiara, Jaga Terumbu Karang Bersama Warga Trenggalek

Saat ini, luas kawasan konservasi di Pantai Mutiara mencapai sekitar 200 x 600 meter. Sementara di Pulau Rembang atau Pulau Mutiara, konservasi dilakukan di area sekitar 100 x 300 meter dengan fokus rumah ikan dan terumbu buatan.

20 Jan 2026 - 21:10
Pelindo Turun Tangan di Pantai Mutiara, Jaga Terumbu Karang Bersama Warga Trenggalek
Bibit terumbu karang dipasang diikat di media tanam sebelum diceburkan ke lokasi konservasi di Pantai Mutiara, Trenggalek. (Beny/SJP)

TRENGGALEK, SJP - Pantai Mutiara, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, tak lagi sekadar destinasi wisata pesisir. Di balik hamparan pasir dan debur ombaknya, kawasan ini perlahan menjelma menjadi ruang harapan bagi keberlanjutan ekosistem laut.

Konsistensi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Rembeng Raya dalam menjaga laut menjadi kunci perubahan itu. Berkat kerja panjang masyarakat pesisir, Pantai Mutiara kini dipercaya sebagai salah satu lokasi konservasi terumbu karang, bahkan mendapat rekomendasi langsung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepercayaan itu mendorong berbagai pihak turun tangan. Salah satunya PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang pada Selasa (20/1/2026) siang melaksanakan kegiatan konservasi terumbu karang sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Bersama Wakil Bupati Trenggalek Syah Muhammad Natanegara, sebanyak 2.273 terumbu karang ditanam menggunakan tiga media tanam ramah lingkungan. Rinciannya, dua media meja transplantasi, dua media Bioreeftek, serta dua media Fish House yang juga berfungsi sebagai rumah ikan.

Sub Regional Head Jawa Pelindo, Purwanto Wahyu Widodo, menyebut kegiatan ini merupakan program tahunan yang rutin dilakukan perusahaan.

“Ini adalah program tahunan TJSL kami di Pelindo Sub Regional Jawa. Pantai Mutiara kami pilih karena memang direkomendasikan oleh KKP sebagai lokasi yang cocok untuk konservasi dan pemulihan terumbu karang,” ujarnya.

Purwanto menambahkan, upaya yang telah dilakukan tidak berhenti pada seremoni semata. Pelindo berkomitmen melakukan evaluasi berkala untuk memastikan keberhasilan konservasi.

“Harapannya, tentu apa yang sudah kita tanam ini bisa lestari dan berkembang. Kami akan lakukan evaluasi enam bulan, satu tahun. Kalau hasilnya baik, akan kita lanjutkan di periode berikutnya,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhammad Natanegara, menilai konservasi ini menjadi langkah penting dalam rehabilitasi lingkungan pesisir.

“Kami berharap kegiatan ini benar-benar membantu pemulihan ekosistem laut di Trenggalek. Kami juga mengajak berbagai pihak lain untuk bersama-sama menjaga alam bersama masyarakat,” tuturnya.

Menurutnya, Pantai Mutiara memang diproyeksikan sebagai pusat pemulihan ekosistem pesisir. Bahkan, kegiatan serupa sudah rutin dilakukan hampir setiap tahun dengan melibatkan banyak pihak.

“Pantai Mutiara ini menjadi salah satu pusat pengembalian ekosistem. Kami minta dukungan semua pihak agar kegiatan seperti ini bisa menjadi rutinitas,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Pokmaswas Rembeng Raya, Kacuk Wibisono, menyebut hasil konservasi yang dilakukan selama ini cukup menggembirakan. Tingkat kematian terumbu karang hasil transplantasi terbilang rendah.

“Alhamdulillah, dari tahun ke tahun tingkat kematian hanya sekitar 15 persen. Kalau ada yang mati, nanti kita tambah lagi. Biasanya satu bulan sudah bisa kelihatan hidup atau tidaknya,” jelas Kacuk.

Saat ini, luas kawasan konservasi di Pantai Mutiara mencapai sekitar 200 x 600 meter. Sementara di Pulau Rembang atau Pulau Mutiara, konservasi dilakukan di area sekitar 100 x 300 meter dengan fokus rumah ikan dan terumbu buatan.

Dampaknya mulai terasa nyata. Kehidupan bawah laut perlahan kembali bergeliat. Plankton muncul, ikan-ikan kecil berdatangan, disusul ikan karang yang sempat menghilang.

“Sekarang sudah mulai masuk lagi ikan-ikan yang dulu hilang. Ada ikan anemon atau nemo, kerapu lumpur, kerapu macan, sampai lionfish merah. Ini tanda ekosistemnya mulai pulih,” ungkap Kacuk.

Tak hanya berdampak ekologis, rehabilitasi terumbu karang juga memberi manfaat langsung bagi nelayan. Saat cuaca buruk, kawasan teluk bisa dimanfaatkan sebagai lokasi memancing yang aman.

Meski begitu, pekerjaan rumah masih panjang. Dari total luasan konservasi, baru sekitar 40 persen yang berhasil direhabilitasi.

“Masih banyak yang belum kita sentuh. Tapi pelan-pelan, dengan dukungan semua pihak, kami optimistis Pantai Mutiara bisa kembali seperti dulu,” pungkasnya.

Di Pantai Mutiara, upaya menjaga laut bukan sekadar proyek sesaat. Ia tumbuh dari konsistensi warga pesisir, kolaborasi lintas pihak, dan harapan sederhana, agar laut tetap hidup untuk generasi mendatang. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow