Pariwisata Batu Masih Rapuh, Wisatawan Asing Tak Sampai 0,5 Persen dari Total Kunjungan 2025

Meski kondisi mulai membaik di akhir tahun, data penurunan jumlah wisatawan menjadi sinyal bahwa pariwisata Kota Batu masih belum memiliki bantalan kuat ketika pasar domestik melemah. Tahun 2026 pun menjadi momentum krusial, bukan hanya untuk mengejar angka kunjungan, tetapi memperbaiki struktur pasar agar lebih berimbang dan berkelanjutan

20 Jan 2026 - 21:26
Pariwisata Batu Masih Rapuh, Wisatawan Asing Tak Sampai 0,5 Persen dari Total Kunjungan 2025
kunjungan salah satu wana wisata di Kota Batu (Ist/JTP/SJP)

KOTA BATU, SJP - Kota Batu masih menghadapi persoalan struktural dalam sektor pariwisata. Di balik angka kunjungan 9,7 juta wisatawan sepanjang 2025, ketergantungan yang terlalu besar pada wisatawan nusantara membuat industri wisata Kota Apel ini rentan terpukul saat ekonomi melemah.

Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto pada Selasa (20/1/2026) mengatakan, data final Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu menunjukkan, dari total 9.794.603 kunjungan wisatawan selama 2025, sebanyak 9.755.241 atau lebih dari 99,6 persen merupakan wisatawan nusantara. Sementara wisatawan mancanegara hanya 38.362 orang, atau tak sampai 0,5 persen dari total kunjungan.

"Komposisi tersebut menegaskan bahwa pasar internasional belum menjadi penyangga utama pariwisata Kota Batu. Ketika daya beli domestik melemah, dampaknya langsung terasa pada angka kunjungan. Secara umum memang terjadi tren penurunan dibanding 2024,” katanya.

Pada 2024, Kota Batu mampu mencatat 11.005.189 kunjungan wisatawan. Namun pada 2025, jumlah itu susut sekitar 1,3 juta kunjungan. Penurunan ini terjadi hampir merata sepanjang tahun, dengan bulan Maret menjadi titik terendah hanya 234.014 wisatawan.

Menurut Onny, kondisi ekonomi nasional yang belum pulih sepenuhnya menjadi faktor utama. Ketika wisata domestik menjadi tulang punggung, pelemahan daya beli otomatis menekan mobilitas wisata.

“Daya beli belum kembali kuat. Ini berdampak langsung pada keputusan masyarakat untuk berlibur. Ditambah minimnya wisatawan asing juga membuat Kota Batu sulit menahan gejolak eksternal lain, seperti cuaca ekstrem dan bencana alam di sejumlah wilayah," imbuhnya.

Padahal, wisatawan mancanegara cenderung memiliki pola belanja lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi ekonomi domestik. Situasi tersebut turut dirasakan sektor perhotelan. Okupansi hotel yang sebelumnya bisa penuh saat long weekend kini jauh menurun. Efek domino pun merembet ke pelaku UMKM dan jasa pendukung pariwisata lainnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow