Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Batu Turun 23,7 Persen Selama Operasi Keselamatan Semeru 2026
Dengan tren pelanggaran yang menurun, Satlantas Polres Batu optimistis tingkat keselamatan di jalan raya akan terus membaik, terutama menjelang peningkatan mobilitas saat arus mudik dan balik Lebaran. Namun, kepatuhan individu tetap menjadi faktor penentu keselamatan bersama di jalan.
KOTA BATU, SJP – Operasi Keselamatan Semeru 2026 yang digelar Satlantas Polres Batu menunjukkan tren positif terhadap kepatuhan pengguna jalan. Selama pelaksanaan operasi pada 2–15 Februari 2026, jumlah pelanggaran lalu lintas tercatat menurun signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Kasat Lantas Polres Batu AKP Kevin Ibrahim pada Rabu (17/2/2026) mengungkapkan, total pelanggaran tahun ini mencapai 4.305 kasus. Angka tersebut turun 1.340 pelanggaran atau sekitar 23,7 persen dibanding Operasi Keselamatan Semeru 2025 yang mencatat 5.645 pelanggaran.
"Dari total pelanggaran tahun ini, sebanyak 2.022 pengendara terekam kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), sementara 2.283 lainnya mendapat teguran langsung dari petugas di lapangan. Pelanggaran didominasi oleh pengendara yang menerobos lampu lalu lintas, tidak menggunakan helm, serta tidak memakai sabuk pengaman," urainya.
Menurutnya, penurunan ini menjadi indikator meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas, meski pelanggaran masih didominasi kelalaian dasar yang seharusnya bisa dihindari.
Sebagai perbandingan, pada operasi 2025 lalu mayoritas pelanggaran ditindak melalui teguran sebanyak 5.262 kasus, sedangkan 383 pelanggaran tercatat melalui ETLE. Perubahan komposisi tahun ini juga menunjukkan optimalisasi pemanfaatan pengawasan elektronik dalam penegakan aturan lalu lintas.
"Operasi Keselamatan Semeru dilaksanakan serentak sebagai upaya menciptakan kondisi lalu lintas yang aman dan tertib menjelang Hari Raya Idulfitri. Selain penindakan, kepolisian menekankan langkah preemtif melalui edukasi dan sosialisasi tertib berkendara, serta langkah preventif seperti patroli di titik rawan kecelakaan, pemeriksaan kendaraan, dan rampcheck kelayakan jalan," tambahnya.
Kevin menegaskan, pendekatan humanis tetap menjadi prioritas agar budaya tertib berlalu lintas dapat tumbuh secara berkelanjutan, bukan sekadar kepatuhan saat operasi berlangsung.
“Kami ingin membangun disiplin berkendara jangka panjang. Penindakan tetap ada, tapi pencegahan pelanggaran dan kecelakaan adalah tujuan utama,” pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

