Pasca Keracunan MBG, Seluruh SPPG di Bondowoso Siap-siap Dievaluasi
Dugaan keracunan susu kedelai di Kecamatan Sumberwringin menjadi catatan penting bagi seluruh SPPG di Bondowoso. Bahkan, Pemkab akan mengecek semua izin, SOP dan kondisi SPPG.
BONDOWOSO, SJP – Total siswa dan guru yang diduga menjadi korban keracunan susu kedelai yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Sumberwringin, tercatat ada 77 orang.
Dari jumlah itu, ada 2 orang guru yang juga menjadi korban. Selebihnya, terbagi dari siswa TK, SD, MTS dan SMK. Mereka semua mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Sumberwringin.
Mengetahui, kejadian itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bondowoso, Fathur Rozi langsung mendatangi puskesmas tempat 77 korban dirawat. Bahkan, berawal dari peristiwa itu, Pemkab akan melakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Tentu kita akan lakukan evaluasi semua SPPG yang ada di Bondowoso, agar kejadian serupa tidak kembali terulang,” katanya saat dikonfirmasi usai menjenguk semua pasien yang masih mendapatkan perawatan, Rabu (3/12/2025).
Sekda menduga, keracunan tersebut berawal dari minuman susu kedelai yang disajikan dalam menu MBG yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Al Hidayah 3 yang ada di Desa Rejoagung.
“Ini masih dugaan dan belum dapat disimpulkan. Setelah kita coba cek informasinya, memang ada asupan makanan atau minuman dari program MBG. Tetapi ini harus dicek dulu kebenarannya,” tegasnya.
Informasinya, SPPG Al Hidayah 3 menyiapkan MBG di 59 sekolah berbeda yang ada di Kecamatan Sumberwringin. Sedangkan yang terdampak hanya 5 sekolah saja.
Fathur Rozi menegaskan, pemerintah tidak boleh gegabah dalam mengambil kesimpulan. Pihak Dinas Kesehatan diminta segera melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan maupun minuman yang dikonsumsi siswa.
“Kami belum bisa mengambil satu kesimpulan. Saya minta Dinas Kesehatan untuk cek dulu dari segi makanan dan minumannya,” pesannya.
Berawal dari kejadian itu, kata Fathur Rozi, pihaknya juga meminta SPPG untuk meninjau ulang standar operasional prosedur (SOP) penyajian maupun distribusi makanan. Bahkan, akan ada evaluasi menyeluruh secara bertahap.
“Saya minta teman-teman di SPPG ini dicek SOP-nya seperti apa. Harus jelas dan dipastikan berjalan dengan benar,” imbuhnya.
Usai meninjau semua korban, Sekda bersama Asisten I, Plt Kepala Dinas Kesehatan dan Camat Sumberwringin juga memastikan jika semua anak yang terdampak mendapatkan perawatan intensif.
Datanya, hingga sore hari, dari total 77 orang yang dilaporkan, 17 anak masih dirawat di Puskesmas, sementara sisanya sudah dipulangkan.
“Prinsipnya, anak-anak ini harus dilayani. Pastikan mereka tidak dehidrasi, yang mual harus diberi obat anti-mual. Yang penting adalah pelayanan kesehatan terpenuhi,” tegas sekda.
Ia menegaskan bahwa program MBG merupakan program nasional yang baik dan harus didukung. Kejadian ini, menurutnya, lebih bersifat teknis dan perlu ditelusuri lebih jauh agar tidak terulang.
“Ini program prioritas nasional. Kejadian ini bukan karena programnya, tapi persoalan teknis yang harus dikaji lebih jauh. Bisa jadi ada makanan atau minuman dalam kondisi tidak layak,” jelasnya.
ASN asal Kabupaten Probolinggo ini juga memastikan, Pemkab Bondowoso, sesuai arahan bupati dan wakil bupati, akan melakukan monitoring dan evaluasi ke semua SPPG secara berkala guna memastikan keamanan pelaksanaan program MBG.
“Kita ingin memastikan ini adalah kejadian terakhir. Jangan sampai terulang,” tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

