Parade Bantengan Nuswantara Ramaikan Kota Batu, Seniman Dunia Turut Ambil Bagian

Parade Bantengan Nuswantara bukan sekadar tontonan, tetapi titik temu budaya lintas daerah dan negara. Kota Batu menunjukkan bahwa lokalitas bisa mendunia, jika difasilitasi dengan serius dan konsisten.

03 Aug 2025 - 14:17
Parade Bantengan Nuswantara Ramaikan Kota Batu, Seniman Dunia Turut Ambil Bagian
Sejumlah seniman bantengan menampilkan atraksi trance di Alun-Alun Kota Batu dalam Parade Bantengan Nuswantara ke-17, Ahad (3/8/2025). (Foto: Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP — Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan alun-alun hingga Jalan Panglima Sudirman, Kota Batu, Ahad (3/8/2025), dalam perhelatan budaya tahunan Parade Bantengan Nuswantara ke-17.

Atraksi seni tradisional khas Jawa Timur itu menyedot perhatian publik, termasuk wisatawan mancanegara, dengan pertunjukan magis yang melibatkan aroma kemenyan, tari trans, dan banteng mengamuk di tengah keramaian.

Wali Kota Batu Nurochman menyebut Parade Bantengan Nuswantara sebagai agenda tahunan yang telah mengakar kuat sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang perlu terus didukung dan dilestarikan bersama.

“Kami terus beri ruang untuk para seniman bantengan agar tetap bisa berekspresi dan berinovasi. Ini potensi lokal yang harus kita jaga dan dukung,” tegasnya saat ditemui di lokasi acara.

Menurut dia, antusiasme pengunjung yang terus meningkat, termasuk dari luar negeri, membuktikan bahwa daya tarik bantengan kini melampaui batas geografis Kota Batu sebagai tuan rumah acara.

“Efek ekonominya terasa langsung ke UMKM, pedagang kaki lima, dan sektor pariwisata. Tapi kami juga dorong agar parade tetap berjalan tertib sesuai kesepakatan bersama aparat,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto menyebut parade tahun ini diikuti lebih dari 135 kelompok bantengan dari Surabaya, Ponorogo, Jombang, Malang Raya, Blitar, Kediri, dan sejumlah daerah lain.

“Bantengan adalah warisan budaya tak benda yang sudah diakui negara. Kami jadikan parade ini bagian dari komitmen menjadikan Batu sebagai kota wisata budaya,” ujar Onny.

Tak hanya dari dalam negeri, seniman luar negeri dari Malaysia, Jepang, India, Australia, Kolombia, Amerika Serikat, hingga Selandia Baru ikut berpartisipasi sebagai bagian dari jejaring Nuswantara.

Salah satu kelompok yang mencuri perhatian adalah Pecut Samandiman Blitar, dipimpin Rafael Pito Wahyu. Mereka menampilkan gaya khas macan Lodoyo dan bantengan bergaya Lembu Suro.

“Kami datang dari Blitar sejak dini hari untuk bersilaturahmi budaya. Kami juga terbuka menerima kolaborasi dari seniman Batu dan Malang,” kata Pito usai tampil di panggung utama acara.

Dengan semangat kolaboratif, dukungan pemerintah, dan partisipasi dari berbagai negara, Parade Bantengan Nuswantara terus menunjukkan eksistensinya sebagai ikon budaya Kota Batu yang siap mendunia. (adv)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow