Pameran “Another Day to Play” Tegaskan Bermain adalah Hak dan Cara Anak Belajar Melihat Dunia
Museum Pendidikan Surabaya disulap jadi ruang interaktif penuh warna melalui pameran “Another Day to Play”, anak-anak diajak bermain sambil belajar dan menyampaikan gagasan lewat karya seni.
SURABAYA, SJP—Di antara daftar les, target nilai, dan jadwal harian yang semakin padat, bermain perlahan kehilangan tempatnya dalam hidup anak-anak. Ia tak lagi dianggap bagian dari belajar, melainkan hiburan belaka, itupun kalau sempat. Padahal justru dalam bermain, anak mengenal dunia, merumuskan logika, melatih empati, dan merancang keberanian.
Hal itulah yang ingin diingatkan kembali dalam gelaran pameran anak bertajuk "Another Day to Play" yang berlokasi di Museum Pendidikan Surabaya.
Diselenggarakan oleh Lotus Art Course (LAC) dan dikurasi oleh Orasis Art Space, pameran tersebut menjadi bagian dari perayaan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli lalu.
Pameran Interaktif Jadi Ruang Bermain
Tidak seperti pameran pada umumnya, ruang museum dan karya yang ditampilkan sengaja dibuat interaktif dan penuh warna, bak mengajak pengunjung untuk tidak hanya melihat, tapi ikut bermain juga merespons agar membentuk suasana yang cair, penuh imajinasi dan tawa.
I Putu Mahendra, Founder LAC, menjelaskan bahwa pameran kali ini tak hanya sekadar menampilkan karya anak, namun juga menunjukkan bahwa dengan kegiatan bermain juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana belajar, cara membaca sejarah hingga media untuk menyuarakan isu sosial.
"Bermain adalah salah satu hak anak, dan dalam pameran ini kita menyoroti bagaimana pentingnya bermain itu bagi tumbuh kembang anak. Karena saat ini makna dari bermain sedikit mengalami pergeseran ke arah yang negatif, padahal itu salah," ucap Putu yang juga merupakan penggagas utama pameran itu, Sabtu (26/7/2025).
Belajar dari Imajinasi Anak
Sebanyak 12 seniman muda berpartisipasi dalam pameran tersebut. Masing-masing menampilkan satu karya utama, yang dalam prosesnya terdiri dari beberapa bagian atau panel yang saling melengkapi.
Tidak hanya berupa lukisan, karya-karya yang dipamerkan juga mencakup wayang, topeng, kartu remi, hingga lukisan yang bisa berubah warna, semuanya hasil eksplorasi dari rasa ingin tahu anak-anak.
Para peserta itu diantaranya adalah:
- Aisyah Azkadina A.A
- Ali Akhtar Aryasatya
- Alisha Cheryl Zaffa A.
- Gempita R. Ramadhani
- Joyce Zerlina
- Joseph Pierre Budiono
- Kaylee Ann Siswanto
- Louisa C. Simanjuntak
- Madeleine L. Tongku
- N. Adinata Mayakori
- Nadine Fave
- Raynold Alexander Sie
"Pameran ini menarik karena karya yang ditampilkan nggak hanya dua dimensi, tapi responsif dan fun. Anak-anak yang datang pasti happy karena bisa berinteraksi langsung dengan karya, bukan hanya melihat," jelas Putu.
Desain ruangan pameran memungkinkan pengunjung anak-anak berinteraksi dengan apa yang dipamerkan, seperti menempelkan stiker, menggambar ulang imajinasi mereka, atau sekadar merespon bentuk dan warna dalam karya dengan spontan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena mengubah pengalaman museum dari pasif menjadi aktif, dari tontonan menjadi partisipasi.
Tantangan dan Refleksi Orang Tua
Sebagai pameran yang benar-benar dibuat oleh anak dan untuk anak, proses menuju pembukaan pun menjadi pengalaman kolektif. Salah satu orang tua seniman, Ana, mengungkapkan bagaimana kegiatan pameran itu membuka perspektif baru dalam mendampingi anak-anak berkarya.
"Lewat pameran ini, kami sadar bahwa benda-benda sekitar bisa jadi mainan. Ada yang bikin dari barang bekas. Kami bangga sekali melihat imajinasi mereka begitu luas," ungkap Ana.
Dia menambahkan, proses persiapan pameran itu bukan tanpa tantangan. Para orang tua juga diajak aktif berdiskusi, mengarahkan, dan mendukung ide-ide liar anak-anak mereka yang muncul sepanjang proses berkarya.
"Ketika kita bersama Orasis, kita diajak berpikir di luar kebiasaan. Anak-anak juga hadir langsung untuk menggali apa lagi yang bisa dibuat. Itu pengalaman yang luar biasa," lanjutnya.
Bermain yang Melahirkan Karya
Salah satu seniman muda yang menjadi peserta dalam pameran tersebut, yakni Kaeli, merasakan sendiri bagaimana momen bermain bisa menjadi pemicu ide kreatif. Dalam pameran itu, ia mencoba membuat karya di luar teknik yang biasa ia gunakan.
"Lewat pameran ini kami diajak keluar dari zona nyaman seperti hanha melukis diatas lertas atau kanvas. Tapi kita juga melukis di wayang, topeng, kartu remi. Saya sendiri buat lukisan yang bisa berubah warna. Semua berawal dari rasa penasaran," tutur Kaeli.
Menurutnya, pameran yang dia ikuti kali ini bukan hanya tentang hasil akhir, tapi lebih pada keberanian untuk mencoba hal baru dan belajar dari proses.
"Kami belajar bahwa dalam bermain, ide kreatif muncul. Dan dari sana, karya kreatif tumbuh. Semoga pameran ini jadi pengingat bahwa tiap hari adalah kesempatan bermain, berkarya, dan berkembang," ucap Kaeli penuh semangat.
Ruang Apresiasi Baru bagi Keluarga
Pameran Another Day to Play masih akan berlangsung hingga 3 Agustus 2025 dengan dilengkapi dengan berbagai program edukatif, seperti artist talk, workshop DIY, guided tour keluarga, hingga tur inklusif berbahasa isyarat (BISINDO).
Menurut Putu, inisiatif itu ditujukan demi menjadikan seni sebagai bagian dari pengalaman keluarga, sekaligus memperkenalkan cara mengapresiasi karya anak secara lebih inklusif.
"Kami berharap pameran ini bisa menjadi referensi baru untuk keluarga Surabaya dalam mengapresiasi karya anak-anak," tukas Putu.
Seni sebagai Hak Bermain Anak
Pameran yang menghiasi museum Pendidikan Surabaya sejak dibuka pada 25 Juli 2025 itu kembali menegaskan bahwa bermain adalah hak dasar anak, dan seni adalah medium yang membebaskan mereka untuk menyampaikan pikiran serta perasaan.
Di tengah arus digital dan komersialisasi masa kecil, "Another Day to Play" tampil sebagai ruang tanding yang merayakan kreativitas, kolaborasi, dan keberanian anak-anak dalam menyuarakan isi pikirannya.
Bagi Putu dan timnya, ini bukan sekadar pameran, melainkan manifestasi harapan: bahwa anak-anak akan terus tumbuh sebagai pribadi yang berani berkarya dan mampu membaca dunia dengan caranya sendiri.
Dibuka setiap hari kecuali hari Senin pada pukul 09.00-21.00 WIB, dan dengan tiket masuk hanya Rp5.000 (mengikuti jadwal dan harga tiket museum), anak-anak tidak hanya diajak melihat karya, tetapi juga bisa tetap menikmati seluruh isi Museum Pendidikan, menjadikan pameran "Another Day to Play" bagian dari rangkaian pembelajaran yang menyenangkan. (adv)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

