Nganjuk Jadi Pilot Project Swasembada Kedelai Nasional, Luasan Tanam Capai 2.299 Hektare

Pada musim tanam yang dimulai sejak Februari 2026 ini, tercatat luasan tanam kedelai eksisting di Kabupaten Nganjuk telah mencapai 2.299 hektar.

18 May 2026 - 19:01
Nganjuk Jadi Pilot Project Swasembada Kedelai Nasional, Luasan Tanam Capai 2.299 Hektare
Kabid Produksi dan Perizinan Usaha Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Fadlin Nuriani (Foto:kiswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Dinas Pertanian terus berkomitmen untuk mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya pada komoditas kedelai. Pada musim tanam yang dimulai sejak Februari 2026 ini, tercatat luasan tanam kedelai eksisting di Kabupaten Nganjuk telah mencapai 2.299 hektare.

​Kepala Bidang (Kabid) Produksi dan Perizinan Usaha Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Fadlin Nuriani, menjelaskan, pola tanam kedelai di wilayahnya sudah terbentuk dengan sangat baik secara musiman. Mayoritas petani memanfaatkan komoditas kedelai sebagai tanaman antara atau pembuka sebelum mereka memasuki masa tanam bawang merah.

​"Pola tanam dalam satu tahun yang diterapkan petani di sini adalah padi, kedelai, bawang merah, lalu bawang merah lagi. Jadi, sebelum menanam bawang merah, mereka menanam kedelai terlebih dahulu," ujar Fadlin saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (18/5/2026).

​Meskipun puncak panen raya diproyeksikan terjadi pada minggu-minggu ini hingga bulan Juni mendatang, beberapa wilayah dilaporkan sudah memulai panen lebih awal. Salah satunya di Kecamatan Rejoso, di mana lahan seluas 60 hektare yang ditanam sejak Januari lalu telah sukses dipanen pada awal Maret.

Jadi Pilot Project Swasembada Kedelai Nasional

​Keberhasilan manajemen pola tanam di Nganjuk menarik perhatian serius dari Kementerian Pertanian (Kementan). Bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut, Kabupaten Nganjuk kini resmi ditunjuk sebagai pilot project nasional untuk persiapan menuju swasembada pangan, khususnya komoditas kedelai di tahun 2026.

​Penunjukan ini diperkuat oleh kunjungan Menteri Pertanian beserta Panglima TNI ke Nganjuk beberapa waktu lalu. Fadlin memaparkan bahwa Nganjuk dipilih karena konsistensi petaninya yang tetap menjaga tradisi menanam kedelai, meskipun komoditas ini belum memiliki Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang pasti seperti padi.

​Secara berkala, sentra kedelai di Kabupaten Nganjuk tersebar di tiga kecamatan utama yang juga merupakan sentra bawang merah, yaitu Kecamatan Wilangan, Bagor, dan Rejoso. Selain faktor ekonomi, para petani memahami secara praktis bahwa menanam kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah secara alami, sehingga hasil panen bawang merah berikutnya menjadi jauh lebih optimal.

Menurut Fadlin, ​Harapan Petani Akan Kepastian Harga, ​Sebagai informasi, data sepanjang tahun 2025 lalu mencatat total luasan lahan kedelai di Nganjuk mencapai sekitar 3.800-an hektar. Angka tersebut sebenarnya sempat mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya karena banyak petani yang beralih ke kacang hijau akibat tiadanya HPP kedelai.

​Menyikapi hal tersebut, pihak Dinas Pertanian menaruh harapan besar pada momentum pilot project di tahun 2026 ini agar pemerintah pusat menelurkan kebijakan strategis terkait regulasi harga kedelai lokal.

​"Harapan kami yang pertama adalah adanya kebijakan dari pemerintah terkait HPP kedelai. Dengan adanya kepastian harga ini, para petani kedelai akan semakin semangat untuk kembali turun ke sawah, sehingga target swasembada kedelai yang berkelanjutan dapat segera tercapai," pungkas Fadlin Nuriani. (*)

Editor : Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow