Mobilitas Tinggi Usai Nataru, Pemkot Surabaya Antisipasi Ancaman Super Flu
Usai libur Nataru, Pemkot Surabaya meningkatkan kewaspadaan super flu dengan menyiagakan Puskesmas dan rumah sakit meski belum ada laporan kasus di Kota Pahlawan.
SURABAYA, SJP - Di balik geliat euforia libur Natal dan Tahun Baru 2026 yang perlahan mereda masyarakat dihadapkan dengan potensi merebaknya super flu, penyakit influenza yang belakangan menjadi perhatian global.
Mobilitas tinggi masyarakat selama libur panjang dinilai menjadi celah masuk dan menyebarnya penyakit menular. Karena itu, meski belum ditemukan lonjakan kasus, Pemkot Surabaya menyiapkan langkah pencegahan sejak dini agar kota tetap dalam kondisi aman pascalibur Nataru.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan bahwa hingga awal Januari 2026, pihaknya belum menerima laporan resmi terkait adanya kasus super flu di Kota Pahlawan.
"Saya belum mendapatkan laporan ya," ucap orang nomor satu di Surabaya itu saat dikonfirmasi pada Minggu (4/1/2026).
Meski demikian, Eri menegaskan bahwa situasi tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah. Menurutnya, langkah pencegahan tetap harus dikedepankan, terutama setelah masyarakat menjalani libur panjang dengan aktivitas dan perjalanan yang padat.
Pemkot Surabaya mengimbau warga agar lebih memperhatikan kondisi kesehatan usai liburan. Warga yang merasakan gejala flu atau kondisi tubuh tidak fit diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (foto: Ryan/SJP)
"Kalau liburan ke luar negeri kan ada screening, suhu badan kelihatan. Tapi untuk yang liburan di dalam negeri, saya berharap kalau merasa badannya tidak enak untuk memeriksakan diri," ujar Eri.
Imbauan tersebut menjadi penting mengingat gejala awal super flu sering kali tampak ringan, namun dapat berkembang lebih berat jika tidak ditangani sejak awal.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Pemkot Surabaya telah menyiagakan seluruh Puskesmas dan memperkuat koordinasi dengan rumah sakit. Setiap pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada super flu diminta untuk segera dilaporkan dan menjalani pemeriksaan lanjutan.
"Langkah ini diharapkan mampu mempercepat deteksi dini sekaligus mencegah potensi penularan di tengah masyarakat," pungkas Eri.
Pemkot Surabaya juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapan layanan kesehatan, sembari mengajak warga menjaga daya tahan tubuh dan tidak menunda pemeriksaan medis jika mengalami gejala flu berat pascalibur Nataru.
Super flu sendiri bukanlah nama penyakit baru, melainkan istilah populer yang digunakan untuk menyebut infeksi virus influenza A H3N2 subclade K. Varian itu dikenal lebih agresif dan mudah menular, serta berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan flu musiman.
Varian H3N2 subclade K pertama kali terdeteksi di Amerika Serikat pada Agustus 2025. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat, hingga 20 Desember 2025, sedikitnya 7,5 juta orang di AS terinfeksi influenza. Dari jumlah tersebut, sekitar 81.000 pasien harus menjalani perawatan rumah sakit dan lebih dari 3.100 orang dilaporkan meninggal dunia.
Lonjakan kasus di tingkat global itulah yang menjadi dasar kewaspadaan berbagai daerah, termasuk Surabaya, untuk tidak menunggu hingga kasus muncul secara masif dan tidak mengulangi pola penanganan dan pencegahan penyakit yang tidak efektif. (*)
Editor: DanuÂ
What's Your Reaction?

