Meski Rupiah Melemah, Perajin Kendang Jimbe Blitar Tetap Pertahankan Pasar Ekspor
Meski terdampak nilai tukar rupiah, perajin kendang jimbe asal Kota Blitar tetap mempertahankan pasar ekspor. Kondisi ini membuat biaya produksi kendang jimbe meningkat.
KOTA BLITAR, SJP - Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha kerajinan di Kota Blitar.
Salah satunya adalah produsen kendang jimbe dan rebana yang harus menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku impor.
Saat ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.400 per dolar AS. Kondisi tersebut berdampak pada naiknya harga sejumlah material penunjang produksi, seperti plastik dan besi yang digunakan untuk kebutuhan pengemasan maupun komponen tertentu dalam pembuatan alat musik tradisional tersebut.
Kenaikan harga bahan baku ini membuat biaya operasional meningkat sekitar 20 hingga 30 persen.
M Jefri Firmansyah, perajin kendang jimbe di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengatakan tekanan biaya tersebut cukup memengaruhi perhitungan usaha. Meski demikian, harga jual produknya sebagian besar masih dipertahankan agar tetap kompetitif di pasar.
"Beberapa konsumen memahami kondisi ini dan setuju penyesuaian harga. Tapi ada juga yang masih menawar dengan harga lama. Kami berusaha menjaga keseimbangan," ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Produk kendang jimbe yang diproduksi Jefri dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp15.000 per unit hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan kualitas.
Selain itu, ia juga memproduksi rebana dengan harga mulai Rp30.000 hingga Rp500.000 per unit.
Dalam satu bulan, kapasitas produksi usahanya mencapai sekitar 3.000 unit, dengan jumlah ekspor sekitar 200–300 unit. Produk tersebut dipasarkan ke beberapa negara, di antaranya Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. Malaysia menjadi tujuan ekspor paling rutin setiap bulan.
"Kami ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Amerika. Jenis kerajinan yang kami ekspor paling banyak kendang jimbe dan kspor paling rutin tiap bulan ke Malaysia," ujarnya.
Usaha kerajinan ini telah dirintis sejak awal 2000-an oleh orang tuanya. Setelah pandemi Covid-19, Jefri melanjutkan dan mengelola usaha tersebut hingga kini, dengan melibatkan sekitar 20 pekerja untuk produksi dan pemasaran.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, para pelaku UMKM seperti Jefri memilih bertahan sambil menjaga kualitas dan kontinuitas produksi.
Kenaikan harga bahan baku yang terjadi secara cepat membuat pengusaha harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan penyesuaian harga.
"Kondisi masih belum stabil, jadi kami fokus menjaga produksi tetap berjalan," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

