Merawat Adat Lewat Kanvas: Kisah Lukisan Bàralek Gadàng di Pameran Close Open 2024/2025
Melalui Bàralek Gadàng, Supriyanto menghidupkan megahnya pesta adat Minangkabau. Sapuan kuasnya tidak sekadar seni, tapi pesan kuat untuk melestarikan tradisi di tengah arus modernisasi.
SURABAYA, SJP - Meski tutup di hari Senin, Alun-alun Kota Surabaya masih menyisakan jejak kehangatan Pameran Close Open 2024/2025 yang baru saja berakhir.
Gelaran pameran yang diinisiasi oleh karya Ikatan Pelukis Indonesia (IPI) ini bukan sekadar ruang untuk memajang karya, melainkan sebuah perayaan jiwa seni yang menghadirkan cerita-cerita dari seantero nusantara.
Di antara deretan karya memukau, satu lukisan mencuri perhatian: Bàralek Gadàng, karya Supriyanto, atau yang akrab disapa Yanto Bedor.
Dengan ukuran 90x70 cm dan teknik minyak di atas kanvas, Bàralek Gadàng menghidupkan kembali hiruk-pikuk pesta adat Minangkabau.
Sapuan kuas Supriyanto begitu kaya, menampilkan kehangatan dan kemegahan tradisi yang seringkali terbungkus warna-warni cerah kain adat, barisan makanan khas, hingga gerak lincah tari pasambahan.
“Lukisan ini menggambarkan pesta besar adat Minangkabau, yang disebut bàralek gadàng,” jelas Supriyanto, Senin (16/12/2024).
“Ini bukan sekadar pesta, tetapi wujud penghormatan kepada nenek mamak, bunda kandung, dan tokoh-tokoh adat. Dalam pesta ini, kebanggaan keluarga dituangkan, dan pesan tradisi diwariskan kepada generasi muda," imbuhnya.
Lahir di Sumatera, Supriyanto tumbuh di tengah keindahan budaya lokal. Melalui Bàralek Gadàng, ia ingin memastikan bahwa adat Minangkabau tetap lestari di tengah derasnya arus modernisasi.
“Saya ingin budaya ini tidak luntur. Sebagai pelukis, ini bentuk tanggung jawab saya untuk memperkenalkan adat istiadat kepada anak cucu, agar mereka paham dan bangga pada warisan leluhur mereka,” lanjutnya.
Perjalanan Supriyanto sebagai pelukis dimulai di Galeri Simpah Seri Medan pada tahun 1990, di bawah bimbingan Sudarno, seorang maestro seni rupa. Dari Medan, ia merantau ke Jakarta, melukis dari Monas hingga Blok M sebagai pelukis jalanan, sebelum akhirnya hijrah ke Bali dan menetap di Ubud, salah satu episentrum seni rupa Indonesia.
“Ada masa-masa saya melukis di galeri besar seperti Museum Rudana di Bali, tetapi juga masa-masa keliling pameran bersama komunitas pelukis lainnya,” kenangnya.
Dalam setiap perjalanannya, ia selalu membawa semangat untuk mempelajari lebih banyak, berbagi pengalaman, dan menjalin persahabatan dengan sesama seniman.
Kini, Supriyanto kembali ke akar budayanya di Sumatera, bergabung dengan Ikatan Pelukis Indonesia. Baginya, IPI adalah harapan baru bagi seni lukis Indonesia.
“Dengan adanya IPI, saya berharap masa depan seni lukis kita semakin cerah, semakin dikenal, dan dihargai di dalam maupun luar negeri," harap Supriyanto.
Di tengah deretan karya-karya modern yang dipamerkan di Close Open 2024/2025, Bàralek Gadàng terasa seperti napas segar yang mengingatkan pengunjung pada kekayaan budaya Indonesia. Melalui lukisannya, Supriyanto bukan hanya bercerita, tetapi juga memanggil kita untuk kembali menghargai akar tradisi.
"Seni adalah cara saya bercerita, setiap sapuan kuas adalah pesan untuk menjaga, merawat, dan mencintai budaya kita," tukasnya.
Meski pameran telah usai, cerita yang disampaikan oleh Bàralek Gadàng akan terus hidup. Lukisan itu, dengan harga Rp 6 juta, mungkin akan segera menjadi milik seseorang. Namun, nilai budaya yang diangkatnya akan tetap menjadi milik bersama, milik Indonesia. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

