Lahir saat Ibunya Tawaf di Masjidil Haram, Bayi Prematur saat Prosesi Haji 2025 Tiba di Tanah Air

Bayi prematur bernama Nu’aim lahir saat ibunya tawaf di Masjidil Haram, kini pulang ke tanah air bersama orang tuanya, menutup kisah haji 2025.

03 Sep 2025 - 22:40
Lahir saat Ibunya Tawaf di Masjidil Haram, Bayi Prematur saat Prosesi Haji 2025 Tiba di Tanah Air
Tristy Erlinawati bersama suami Fachrizal Rahmad dan bayi Nu’aim saat tiba di Bandara Internasional Juanda, Selasa (2/9/2025) (PPIH Surabaya for SJP)

SURABAYA, SJP - Musim haji 2025 di Embarkasi Surabaya telah lama usai yang ditandai kepulangan kloter 97 sebagai penutup pada 11 Juli 2025.  Namun, ada cerita dari tanah suci yang tersisa ketika seorang jemaah haji asal Lumajang melahirkan secara prematur di tanah Suci.

Adalah Tristy Erlinawati, jemaah kloter 83 asal Lumajang, bersama sang suami, Fachrizal Rahmad, yang pulang membawa kebahagiaan sekaligus kenangan tak terlupakan. Anak keempat mereka yang lahir di tanah haram, diberi nama Nu’aim, kini ikut menginjakkan kaki di tanah air untuk pertama kalinya. Mereka tiba Bandara Internasional Juanda pada Selasa (2/9/2025) kemarin.

"Alhamdulillah, setelah tiga bulan di Arab Saudi, akhirnya kami bisa pulang bersama Nu’aim," ucap Tristy saat ditemui pada Rabu (3/9/2025).

Perjalanan keluarga Tristy penuh dengan kisah kisah. Dia berangkat ke tanah suci pada 26 Mei 2025 dalam kondisi hamil dengan usia kandungan 14–26 minggu. Saat pengecekan kala itu, kondisinya dinyatakan laik terbang.

Mamun pada 16 Juni, di tengah putaran tawaf ketiga di Masjidil Haram, ketubannya pecah. Enam hari dalam observasi medis di Makkah, akhirnya Nu’aim lahir sebagai bayi prematur dengan berat hanya 1,2 kilogram.

"Sebelum melahirkan, saya sempat diobservasi tim medis selama 6 hari. Kehamilan masih diusahakan dipertahankan karena memang belum ada kontraksi. Namun qadarullah, ternyata Nu’aim lahir," kenangnya.

Hari-hari berikutnya diisi perjuangan. Sementara bayi kecil mereka dirawat di inkubator rumah sakit, Tristy dan Fachrizal tinggal di Wisma Haji Daker Makkah. Mereka sabar mengantarkan air susu ibu setiap hari, sembari memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. 

Perlahan, Nu’aim menunjukkan perkembangan. Berat badannya kini naik menjadi 2,3 kilogram, dan dokter akhirnya memberi izin pulang setelah ia bisa bernapas sendiri tanpa alat bantu serta minum susu langsung.

"Nu’aim diizinkan pulang oleh dokter setelah dia dapat bernapas tanpa selang oksigen, serta dapat minum susu langsung tanpa alat bantu. Jadi langsung menyusu ke ibunya atau ke botol/dot," terangnya.

"Alhamdulillah, semua biaya penginapan, transportasi, dan makan kami ditanggung pemerintah. Kami sangat bersyukur atas dukungan penuh ini," imbuh suami Fristy, Fachrizal.

Sebelumnya, kepulangan jemaah pasangan suami-istri itu disambut hangat oleh Kabid Penyelenggara Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Jatim, Muh. As’adul Anam, bersama perwakilan Kemenag Lumajang. 

Di balik kepulangan ribuan jemaah yang sudah lebih dulu tiba, kisah Tristy dan Nu’aim menjadi bagian yang manis dari rangkaian panjang haji 2025. Sebuah pengingat bahwa setiap perjalanan haji selalu menyimpan cerita, bahkan yang tak terduga sekalipun.

Kendati demikian, Kemenag masih menunggu kepulangan 2 (dua) jemaah haji embarkasi Surabaya dari Kabupaten Pasuruan dan Lumajang yang masih dirawat di Tanah Suci. Sedangkan satu jemaah yang ghoib asal Kabupaten Malang sampai saat ini belum ditemukan dan dalam proses identifikasi oleh Ditjen PHU Kemenag RI. (*)

Editor : Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow