Merajut Kreativitas dan Relasi Guru–Murid Lewat Batik Shibori di SMAN 9 Surabaya

Lebih dari itu, kegiatan praktik bersama seperti membuat batik Shibori di SMAN 9 Surabaya dinilai menjadi ruang penting untuk membangun hubungan yang lebih cair antara guru dan murid, di luar suasana kelas yang formal.

30 Jan 2026 - 20:41
Merajut Kreativitas dan Relasi Guru–Murid Lewat Batik Shibori di SMAN 9 Surabaya
Guru dan murid SMAN 9 Surabaya berkolaborasi mengerjakan Batik Shibori (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Konflik antara guru dan murid belakangan kerap mencuat ke ruang publik, mulai dari cekcok di kelas hingga berujung kekerasan. Di tengah situasi itu, SMAN 9 Surabaya membuktikan bahwa ruang aman dan kreatif antara guru dan murid masih ada di sekolah.

Melalui Pelatihan Batik Shibori bertajuk “Mengikat Warna, Merajut Kebersamaan”, ratusan siswa kelas X dilibatkan dalam pembelajaran praktik yang menghadirkan interaksi langsung antara murid, guru, dan praktisi. 

Kegiatan tersebut digelar di SMAN 9 Surabaya, Jumat (30/1/2026), bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) serta menghadirkan guru-guru dari SMKN 8 Surabaya sebagai narasumber.

Belajar Seni, Sabar, dan Proses Shibori

Enam guru busana dari SMKN 8 Surabaya didatangkan untuk memberikan materi dan praktik langsung teknik Batik Shibori kepada siswa kelas X. Teknik itu dikenal sebagai metode pewarnaan kain asal Jepang yang menekankan permainan lipatan sebelum kain dicelupkan ke pewarna.

Perwakilan guru SMKN 8 Surabaya yang hadir menjadi pemateri, Ratri Adi Sayeti, menjelaskan bahwa Shibori memiliki prinsip yang mirip dengan batik jumputan, tetapi berbeda pada pendekatan tekniknya.

"Kalau Shibori itu menekankan pada teknik lipatan kain, sedangkan jumputan lebih banyak bermain di ikatan dengan biji-bijian atau batu. Pewarnaannya sama, tapi cara membentuk motifnya yang berbeda," ujar Ratri, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, dalam pelatihan itu siswa baru dikenalkan pada tahapan dasar, mulai dari melipat kain hingga proses pewarnaan. Waktu yang terbatas membuat hasil belum sepenuhnya mencapai tahap akhir ideal, karena warna Shibori perlu didiamkan hingga semalaman agar lebih kuat dan awet.

"Kalau dari nol sampai finishing sebenarnya tidak cukup waktunya. Tapi paling tidak anak-anak sudah tahu proses dasarnya dan peluangnya," katanya.

Selain pengenalan teknik, pelatihan itu juga diarahkan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa dengan melihat Shibori sebagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

"Harapannya anak-anak bisa melihat peluang bisnisnya, entrepreneurnya bisa berkembang," tambah Ratri.

Kokurikuler sebagai Ruang Interaksi Sosial

Dari sisi SMAN 9 Surabaya, kegiatan itu merupakan bagian dari program kokurikuler Kurikulum Merdeka yang dirancang untuk seluruh siswa kelas X. Staf Humas SMAN 9 Surabaya, Arin Novia, menjelaskan bahwa pelatihan ini menggantikan kegiatan belajar mengajar konvensional selama satu hari penuh.

"Untuk kelas 10, hari ini KBM full diisi kegiatan Shibori, dari pagi sampai pulang sekolah," kata Arin.

Sekitar 360 siswa kelas X dari 10 kelas mengikuti pelatihan itu, bersama puluhan guru dan anggota Dharma Wanita. Output kegiatan berupa kain Shibori berukuran taplak meja yang dinilai dari produk, proses, keaktifan, dan kerja sama kelompok.

"Penilaiannya tidak individu, tapi kelompok. Jadi yang dinilai itu proses, kerja sama, dan keaktifannya juga," ujarnya.

Arin menyebutkan bahwa tema Shibori dipilih tidak hanya untuk penguatan seni dan kewirausahaan, tetapi juga sebagai sarana dialog budaya. Siswa dikenalkan budaya luar dengan tetap menempatkan batik sebagai akar lokal yang harus dijaga.

"Ini cara agar anak-anak tetap mengenal dan menjaga kearifan lokal, tapi dengan cara yang lebih kekinian," jelasnya.

Lebih dari itu, kegiatan praktik bersama dinilai menjadi ruang penting untuk membangun hubungan yang lebih cair antara guru dan murid, di luar suasana kelas yang formal.

"Kegiatan seperti ini bisa mendekatkan murid dengan guru, karena ada interaksi langsung, bukan hanya belajar di kelas," kata Arin.

Ia berharap pembelajaran semacam ini bisa membantu siswa memahami materi secara kontekstual, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan di lingkungan sekolah.

"Harapannya anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik, langsung dengan realitas sehari-hari," pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow