Merajut Keberlanjutan Energi lewat Media Gathering Subholding Upstream Pertamina Regional Indonesia Timur 2025
Ajang ini menjadi medium pertukaran pengalaman, bagaimana energi tidak hanya berarti bahan bakar, tetapi juga penggerak ekonomi lokal, pendidikan, dan budaya.
MAKASSAR, SJP—Suara gendang bertalu. Gerakan penari berpadu dalam harmoni empat etnis: Bugis, Toraja, Mandar, dan Makassar. Gemuruh tepuk tangan pun menyambut. Menandai dimulainya Media Gathering 2025 Regional Indonesia Timur yang digelar oleh Subholding Upstream Pertamina selama dua hari: 23–24 Juni 2025.
Dengan tema “Acceleration Energy for Business Sustainability,” ajang tahunan ini lebih dari sekadar pertemuan. Namun menjadi ruang perjumpaan lintas entitas: dari pelaku industri hulu migas, regulator, media, hingga tokoh lokal dari ujung timur Indonesia.
Sebanyak 130 peserta berkumpul. Terdiri dari perwakilan Pertamina EP Cepu, SKK Migas, Subholding Upstream, narasumber nasional, hingga media dari berbagai daerah: seperti Bojonegoro, Tuban, Blora, Rembang, Surabaya, Gresik, Banggai (Donggi Matindok), dan Sorong.
Media di Pusaran Perubahan
Mengisi sesi pembuka, Hudi D Suryodipuro, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, tampil sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, Hudi menekankan peran krusial media dalam menjaga kepercayaan publik terhadap industri energi.
"Media bukan hanya mitra komunikasi, melainkan jembatan antara realita industri dan pemahaman publik. Keberlanjutan tidak akan bermakna tanpa narasi yang jujur, akurat, dan berpihak pada kepentingan bersama,” ujarnya lantang di hadapan peserta.
Tak kalah inspiratif, Dahlan Dahi, CEO Tribun Network, membawa perspektif tajam tentang tantangan media di era teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Badai teknologi tak bisa dihindari. Tapi kita bisa belajar berselancar di atasnya. Kuncinya adalah adaptasi dan menjaga integritas jurnalisme,” tutur Dahlan yang dikenal vokal dalam transformasi media digital di Indonesia.
Mengangkat Lokal, Menguatkan Nasional
Yang membuat gathering ini berbeda adalah kehadiran para "local hero" dari Kampung Adat Malasigi, Papua Barat Daya dan Togong Tanga, Sulawesi.
Mereka adalah wajah nyata dari dampak keberlanjutan di level akar rumput — pelaku UKM binaan, tokoh masyarakat, dan mitra program pemberdayaan yang selama ini bersinergi dengan industri migas.
Ajang ini menjadi medium pertukaran pengalaman, bagaimana energi tidak hanya berarti bahan bakar, tetapi juga penggerak ekonomi lokal, pendidikan, dan budaya.
Dari Humas ke Human Story
Selain menjadi ajang silaturahmi dan penyamaan visi, Media Gathering 2025 ini meneguhkan posisi media sebagai mitra strategis dalam membumikan narasi-narasi kemajuan dan keberlanjutan. Tak semata-mata menyampaikan siaran pers, tetapi membingkai cerita-cerita manusiawi di balik kilang dan rig.
“Di tengah percepatan transisi energi, keberlanjutan bukan cuma soal teknologi, tetapi juga soal bagaimana kita mengajak publik memahami prosesnya secara jernih,” ujar Yusti, salah satu peserta dari media nasional.
Menatap Timur, Menjaga Asa
Makassar bukan sekadar lokasi, melainkan simbol bahwa energi masa depan Indonesia ada di timur. Bahwa di balik tantangan medan operasi dan keberagaman budaya, ada kekuatan gotong royong antara korporasi, komunitas, dan media.
Dan di penghujung acara, ketika para peserta larut dalam diskusi santai di sela sesi networking, satu hal menjadi terang, yakni keberlanjutan tak mungkin dicapai sendirian. Ia butuh kolaborasi, kepercayaan, dan keberanian bercerita. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

