Menu Kering Ramadan dari SPPG Sumberkalong Bondowoso, Ikhtiar Jaga Gizi di Tengah Ibadah Puasa
SPPG Sumberkalong Bondowoso menghadirkan menu kering bergizi selama Ramadhan untuk 1.935 penerima manfaat, dengan penyesuaian jam relawan dan pola distribusi agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa mengganggu ibadah.
BONDOWOSO, SJP — Aroma bubur sumsum berpadu manisnya gula merah, kacang atom yang renyah, telur rebus, hingga buah jambu segar menjadi sajian istimewa dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumberkalong di Kecamatan Wonosari, Bondowoso, pada awal Ramadan tahun ini.
Di tengah ritme ibadah yang kian padat, SPPG Sumberkalong memilih menghadirkan menu kering sebagai solusi praktis namun tetap bernutrisi bagi para penerima manfaat, terutama pelajar dan kelompok rentan.
Berdasarkan menu edisi Senin (23/2/2026), kombinasi bubur sumsum, gula merah, kacang atom, telur, dan buah jambu dirancang sederhana, tetapi tetap memenuhi unsur karbohidrat, protein, vitamin, serta energi yang dibutuhkan tubuh selama berpuasa.
Bagi para relawan dapur, Ramadan bukan sekadar tentang menyiapkan makanan, tetapi juga menata ulang waktu dan tenaga. Kepala Dapur SPPG Sumberkalong, Ineke Kartika Putri, mengungkapkan adanya penyesuaian jam kerja agar relawan tetap bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk.
“Ada perubahan terkait jam masuk dan pulang relawan. Selama Ramadan, jam kerja dibagi dalam sistem shift, sehingga relawan tetap bisa berbuka di rumah dan melaksanakan tarawih,” ujarnya.
Tak hanya pola kerja, sistem distribusi pun ikut disesuaikan. Jika pada hari biasa menu dibagikan dalam kondisi segar setiap hari, selama Ramadhan SPPG memprioritaskan menu kering yang dinilai lebih praktis dan tahan lama.
“Untuk siswa, menu kering dikirim setiap hari. Sedangkan untuk kelompok 3B dirapel maksimal tiga hari,” tambah Ineke.
Kelompok 3B yang dimaksud meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—kelompok yang tetap menjadi prioritas dalam program pemenuhan gizi ini.
Saat ini, SPPG Sumberkalong melayani total 1.935 penerima manfaat, terdiri dari 1.882 siswa dan guru serta 53 penerima dari kelompok bumil, busui, dan balita.
Di balik kesederhanaan menu kering itu, tersimpan komitmen besar: memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah. Ramadhan menjadi momentum untuk berbagi, sekaligus menjaga ketahanan tubuh masyarakat melalui asupan yang terukur dan seimbang. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

