Tradisi Bubur Suro di Tuban Kembali Digelar, Warga Antre Sejak Sore
Tradisi pembagian bubur suro kembali dilakukan warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban.Sejak selepas salat asar, warga mulai berdatangan dengan membawa wadah masing-masing. Mereka mengantre untuk mendapatkan bubur yang dibagikan secara gratis.
TUBAN, SJP - Tradisi pembagian bubur suro kembali digelar warga Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, pada Ramadan tahun ini. Kegiatan berlangsung di halaman Masjid Astana Sunan Bonang, Senin (23/2/2026) sore, dan disambut antusias warga.
Sejak selepas salat asar, puluhan warga mulai berdatangan dengan membawa wadah masing-masing. Mereka mengantre dengan tertib untuk mendapatkan bubur yang dibagikan secara gratis. Tidak ada batasan penerima, selama persediaan masih ada dan warga membawa tempat sendiri.
Proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat. Kegiatan dimulai sekitar pukul 12.30 WIB. Warga berbagi peran, mulai dari meracik bumbu, memotong daging dan tulangan sapi, hingga menjaga api dan mengaduk bubur di atas tungku kayu bakar.
Sekitar 12 kilogram beras serta 4 hingga 5 kilogram daging dan tulangan sapi digunakan untuk memasak bubur tersebut. Bubur dimasak menggunakan dua wajan besar selama kurang lebih dua jam hingga matang dan siap dibagikan.
Aroma gurih mulai tercium saat bubur diangkat dari wajan. Satu per satu warga maju menyerahkan wadah mereka untuk diisi. Suasana penuh keakraban tampak mewarnai pembagian tersebut.
Bubur suro memiliki cita rasa khas dengan bumbu yang kuat. Rasanya disebut-sebut mirip dengan hidangan Timur Tengah seperti nasi kebuli. Sajian ini menjadi kuliner yang dinanti warga setiap Ramadan, khususnya di wilayah Kutorejo.
Salah satu peracik bumbu, Muhamad Lazim, mengaku telah terlibat dalam tradisi ini sejak kecil. Ia mengatakan tradisi memasak dan membagikan bubur suro sudah berlangsung sejak 1937.
“Sejak kecil saya sudah ikut. Dulu diajak orang tua bantu ambil bumbu atau bahan. Tradisi ini katanya dikenalkan oleh keturunan Arab dan terus berjalan sampai sekarang,” ujarnya.
Di masyarakat, bubur suro juga dikaitkan dengan 10 Asyura dan kisah Nabi Nuh yang membagikan makanan agar semua bahan yang tersisa bisa dimanfaatkan bersama. Selain disantap langsung, bubur ini juga kerap dipadukan dengan kuah lodeh atau gulai.
Bagi warga, bubur suro menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Mahfud (65) mengaku selalu menantikan sajian tersebut setiap tahun.
“Setiap Ramadan pasti menunggu bubur ini. Rasanya khas, jadi seperti ada yang kurang kalau tidak makan bubur suro,” katanya.
Di balik tradisi sederhana ini, tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong, dan semangat berbagi yang terus dijaga warga Kelurahan Kutorejo dari generasi ke generasi. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

