Menikmati Nasi Campur Depot Hidayah, Kuliner Legendaris Gresik yang Eksis Sejak 1968
Dengan resep warisan sejak 1968, sepiring nasi campur di sini menyajikan perpaduan autentik mi goreng, sambal goreng kentang-tahu, serundeng, hingga empuknya potongan daging sapi bumbu lapis yang melegenda.
GRESIK, SJP - Eksis sejak lebih dari setengah abad silam, Depot Hidayah tetap menjadi primadona bagi pencinta kuliner di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Dengan resep warisan sejak 1968, sepiring nasi campur di sini menyajikan perpaduan autentik mi goreng, sambal goreng kentang-tahu, serundeng, hingga empuknya potongan daging sapi bumbu lapis yang melegenda.
Berlokasi di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Bedilan, depot ini hanya berjarak sekitar 600 meter dari Alun-Alun Gresik. Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disambut ornamen interior lawas yang seolah membawa kita kembali ke masa lalu.
Suasana klasik ini sengaja dipertahankan pengelola demi menjaga nuansa kuliner yang autentik bagi para pelanggannya.
“Rasanya masih sama seperti dulu. Tempatnya juga dipertahankan, jadi benar-benar membawa suasana zaman dulu,” kata salah satu pelanggan setianya, Ricke Mayumi, Senin (20/4/2026).
Ricke mengatakan, sejal kecil depot Hidayah menjadi tempat favorit menikmati kuliner nasi campur bersama kedua orang tuanya.
Kudapan lainnya yang tidak kalah populer yakni sop buntut dengan daging yang empuk, kare yang gurih, hingga bistik dan rawon.
Menurut dia, setiap kudapan di depot Hidayah ini menjadi momentum mengenang masa kecil yang hangat bersama kedua orangtuanya.
“Ini jadi salah satu tempat yang selalu mengingatkan masa kecil," terangnya.
Sementara itu, pemilik Depot Hidayah, Hidayah, mengaku sengaja tidak merombak bangunan lokasi kuliner yang dikelola secara turun-temurun itu.
"Nuansa klasik khas era 1970-an sengaja kami pertahankan, hal ini membuat pengunjung seolah diajak kembali ke masa lampau," ungkap Hidayah.
Hidayah menjelaskan bahwa tempat kuliner ini merupakan usaha turun-temurun yang dirintis orang tuanya. Nama Hidayah sendiri diambil dari namanya, yang kini menjadi penerus usaha keluarga tersebut.
Ia bertekad, masih terus menjalankan usaha kuliner orang tuanya dengan tanpa merubah resep bumbu yang menjadi ciri khasnya.
"Resep dan cita rasa yang disajikan tidak banyak berubah sejak pertama kali dirintis. Bahkan soal bumbu dan takarannya semua diukur sehingga rasanya tidak berubah," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

