Mengintip Cara Siswa SMAN Ploso Jombang Hidup dari Ketahanan Pangan dan Lingkungan Sekolah
Ratusan siswa terlibat dalam gelar karya kokurikuler yang memadukan edukasi budaya, ketahanan pangan, hingga kampanye pengurangan sampah plastik.
JOMBANG, SJP – Suasana berbeda tampak di SMAN Ploso, Jombang, dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah ke-43. Ratusan siswa terlibat dalam gelar karya kokurikuler yang memadukan edukasi budaya, ketahanan pangan, hingga kampanye pengurangan sampah plastik.
Kepala Sekolah SMAN Ploso, Qoidatun Nisak, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan juga sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa.
“Hari ini merupakan rangkaian kegiatan HUT ke-43 sekolah. Kami ingin siswa tidak hanya merayakan, tapi peduli dengan pangan dan lingkungan,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Salah satu kegiatan utamanya adalah panen hasil kebun sekolah. Beragam sayuran seperti terong, kangkung, cabai, dan tomat dipanen langsung oleh siswa kelas 10 dan 11. Tanaman-tanaman tersebut merupakan hasil budi daya siswa di lahan sekolah yang pengelolaannya dibagi per kelas.
“Kami tidak melibatkan kelas 12 karena mereka sudah fokus pada persiapan akhir pembelajaran dan ujian,” jelas Qoidatun.
Selain panen, siswa juga menghadirkan 15 stan kuliner yang menyajikan jajanan tradisional khas Indonesia. Menariknya, sebagai bagian dari program pengurangan sampah yang dicanangkan Dinas Pendidikan Jawa Timur, seluruh makanan dikemas tanpa menggunakan plastik.
“Bungkusnya tidak boleh plastik. Anak-anak menggunakan daun atau kertas bekas yang masih layak. Ini bagian dari edukasi menuju kebiasaan ramah lingkungan,” kata Qoidatun menambahkan.
Tak hanya itu, suasana budaya juga sangat terasa karena para siswa mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia. Qoidatun berharap, melalui kegiatan ini siswa semakin mengenal budaya bangsa, mencintai makanan tradisional, serta membangun karakter hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Untuk menambah semangat siswa, pihak sekolah pun mengadakan penilaian. Beberapa kategori yang dilombakan antara lain stan terbaik, kostum terbaik, hingga kebersihan area.
“Penilaian kebersihan juga penting. Kami ingin siswa terbiasa tidak membuang sampah sembarangan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua OSIS SMAN Ploso, Anggi, menyebut kegiatan ini menjadi ajang pengembangan kreativitas dan kekompakan antarkelas.
“Kegiatan ini melatih kolaborasi. Setiap kelas saling berbagi ide untuk menampilkan yang terbaik,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, persiapan acara dilakukan sekitar dua minggu sebelum hari pelaksanaan. Meski awalnya berkonsep sederhana, antusiasme siswa yang tinggi membuat acara berkembang jauh lebih meriah.
“Awalnya sederhana, tapi ternyata di luar ekspektasi. Teman-teman sangat antusias dan hasilnya jadi sangat keren,” katanya.
OSIS sendiri berperan tidak hanya sebagai panitia, tetapi juga membantu mengoordinasikan siswa di masing-masing kelas serta menyebarkan informasi kegiatan. Dengan total 15 stan yang masing-masing dikelola oleh satu kelas, gelar karya ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran dapat dikemas secara kreatif, menyenangkan, sekaligus bermakna bagi siswa. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

