Mengenal Buchaechum, Tarian Kipas Tradisional dari Korea Selatan

Pesona anggun tarian kipas Buchaechum bukan sekadar hiburan, melainkan pesan agar tradisi tetap hidup di tengah derasnya arus budaya populer.

23 Aug 2025 - 20:01
Mengenal Buchaechum, Tarian Kipas Tradisional dari Korea Selatan
Penampilan memukau tarian kipas khas Korea, Buchaechum dalam acara perayaan 10 tahun King Sejong Institute (KSI) Surabaya di UK Petra (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP — Korean Wave (Hallyu) sudah lama menyihir masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Beragam budaya populer Korea seperti musik K-Pop, drama, film, hingga kuliner dari Negeri Ginseng kian mendominasi ruang hiburan dan gaya hidup generasi muda.

Namun, di balik sorotan budaya populer itu, ada warisan tradisional Korea yang tak kalah memikat dan layak terus dilestarikan. Salah satunya adalah Buchaechum (부채춤), tarian kipas tradisional yang menampilkan keindahan gerakan penuh makna.

Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang beruntung, karena dalam acara perayaan 10 tahun King Sejong Institute (KSI) Surabaya di Universitas Kristen Petra, Kota Pahlawan menjadi panggung dari pesona Buchaechum.

Buchaechum adalah tarian kreasi yang lahir pada tahun 1954 dari tangan seniman Kim Baek-Bong. Meski tergolong muda dalam sejarah seni Korea, tarian tersebut mendapat tempat istimewa sebagai salah satu representasi budaya tradisional Korea Selatan.

Biasanya dibawakan oleh sekelompok perempuan, tarian ini menonjolkan harmoni gerakan. Para penari mengenakan hanbok berwarna cerah, sambil memainkan kipas besar berhias bunga peony. 

Dengan formasi melingkar, kipas-kipas itu membentuk ilusi bunga mekar, ombak, atau pola indah lainnya, menghadirkan gambaran alam yang sarat filosofi tentang keanggunan dan kebersamaan.

Buchaechum juga merefleksikan cara masyarakat Korea memandang estetika, yakni anggun, tertib, dan menyatu dengan alam. Karena itu, setiap penampilan Buchaechum tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga pertunjukan budaya yang penuh makna.

Pesona Buchaechum sempat hadir di Surabaya saat perayaan 10 tahun King Sejong Institute (KSI) Surabaya di Universitas Kristen Petra. Sebanyak 11 penari tampil anggun diiringi lagu tradisional Korea berjudul Areumdaun Nara, yang berarti Negara yang Indah.

Hilda, salah satu penari yang juga alumni KSI 2016, menjelaskan bahwa Buchaechum bukan hanya sebatas gerakan tari yang indah, melainkan juga membawa pesan tentang pelestarian budaya.

"Tarian tradisional seperti ini itu harus dilestarikan dan disebarkan, Buchaechum itu hanya salah satu contoh, tapi tiap negara itu harus punya semangat yang sama untuk melestarikan budaya asli mereka," terang Hilda, Sabtu (23/8/2025).

Hilda mengaku, Buchaechum sangatlah menarik untuk dipelajari. Meski menemukan tantangan, Hilda dan 10 rekannya bangga bisa menampilkan tarian asli negeri gingseng itu di acara tersebut.

"Kita mulai latihan dari bulan April ya. Setiap Sabtu kita latihan. Pelatihnya itu orang Korea namanya Kwon Ji-Hyun," ujarnya.

Kebanggaan serupa dirasakan oleh Farah, peserta kelas budaya Sejong Culture Academy. Meski ia bukan murid KSI yang merupakan tuan rumah acara tersebut, namun bisa menarikan tarian khas Korea di hadapan masyarakat Indonesia adalah pengalaman membanggakan.

"Bangganya itu juga karena dengan begitu, saya jadi bisa memperkenalkan budaya dari Korea ke masyarakat Indonesia," tambahnya

Pertunjukan Buchaechum di Surabaya membuktikan bahwa budaya Korea tidak berhenti pada K-Pop dan drama, melainkan ada warisan tradisional yang sama memikatnya. 

Lebih jauh, Buchaechum seakan memberi cermin bagi masyarakat Indonesia. Jika Korea bisa memperkenalkan tarian tradisionalnya ke dunia di tengah gempuran budaya pop modern, maka Indonesia pun mestinya tak kalah sigap merawat dan mempopulerkan warisan seninya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow