Mengarsip Kota dengan Kuas: Ali Shodiqin dan Ingatan yang Tersisa dari Kediri

Ketika kota berubah dan bangunan lenyap satu per satu, Ali Shodiqin memilih melawan pelupaan dengan kuas, mengabadikan ingatan kotanya lewat lukisan sebelum semuanya hilang selamanya.

28 Jun 2025 - 21:02
Mengarsip Kota dengan Kuas: Ali Shodiqin dan Ingatan yang Tersisa dari Kediri
Ali Shodiqin berdiri di depan lukisan Stasiun Kediri karyanya dalam pameran tunggalnya di Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP—Setiap kota punya bangunan-bangunan yang menjadi identitas. Bukan sekadar soal estetika atau arsitektur, tapi tentang memori kolektif masyaraktnnya, dari tempat orang bertemu, menunggu, hingga menemani di setiap perjalanan berkeliling kota.

Namun di tengah derasnya pembangunan, banyak bangunan lama diam-diam menghilang, entah itu dibongkar untuk digantikan ruko, diratakan dengan tanah untuk menjadi lahan parkir, atau sekadar dibiarkan lapuk sampai rubuh dengan sendirinya.

Kota memang terus tumbuh, tapi banyak bagiannya menghilang tanpa sempat diabadikan. Di sinilah Ali Shodiqin, seniman asal Kediri, mengambil peran sebagai penjaga identitas. Lewat lukisan, ia berusaha menyelamatkan yang tersisa, meskipun hanya dalam bentuk kenangan di atas kertas.

"Banyak bangunan yang sudah musnah. Ini semacam keprihatinan saya. Saya ingin merekam jejaknya sebelum semuanya betul-betul hilang," ucap Ali, Sabtu (28/6/2025).

Berangkat dari keprihatinannya akan banyaknya bangunan-bangunan yang sarat akan seni dan makna di kota asalnya perlahan hilang, ia ingin memuat wajah-wajah bangunan tua, arca, dan elemen-elemen kota yang menurutnya "masih layak diingat, walaupun sudah tak ada."

Ali tidak mengabadikan kenangan itu untuk dirinya sendiri, melalui proyek pribadinya bertajuk "Jejak-jejak Kotaku yang Tercinta" yang berisikan lukisan-lukisan tentang bangunan maupun peninggalan Kota Kediri, ia kerap membawa karyanya itu ke tengah masyarakat luas lewat pameran.

Kini, dalam pameran tunggalnya yang ke-3, Ali bahkan membawa kenangan yang ia lukis keluar Kota Kediri, tepatnya ke Kota Pahlawan, Surabaya. Dalam pameran yang digelar di Galeri Merah Putih, Komplek Balai Pemuda, Surabaya, pada bulan Juni 2025 itu, ia membawa 34 karya, hampir semuanya medium cat air dan tinta di atas kertas.

"Selain untuk mengenang bagi warga lokal, saya juga ingin orang diluar Kediri juga tahu tentang landskap Kota Kediri yang penuh cerita," ujarnya.

Beberapa dilukis langsung di lokasi, lainnya diselesaikan dari foto jepretannya sendiri, jika situasi tak memungkinkan. Adapun peninggalan yang hanya bisa ia lukis dari sisa dokumentasi di internet dikarenakan bangunannya sudah tidak ada atau dipindahkan, salah satunya yang ia aebut adalah Loji Cafe.

"Iya Loji Cafe itu sudah tutup, ada pula lukisan arca batu yang kini tak lagi di tempat asalnya, setelah dipindah ke Trowulan. Walaupun memang niatnya diamankan tapi buat saya itu kehilangan juga. Karena dia nggak lagi di tempat asalnya," tuturnya.

Stasiun, Becak, dan Orang Kecil

Salah satu lukisan yang paling berkesan bagi Ali adalah Stasiun Kediri, dengan becak-becak yang berjajar rapi, seolah menunggu hari yang lebih baik. Tidak ada keramaian modern, hanya ruang bagi waktu dan orang-orang kecil yang bertahan.

"Saya ingin menggambarkan orang-orang marjinal yang masih mencari rezeki di stasiun. Becaknya masih ada di sana. Itu sudah jadi ciri khas," katanya.

Ali menempatkan mereka bukan sebagai latar, tapi sebagai tokoh utama dalam kisah kota yang nyaris terlupakan.

Panggung Baru di Surabaya

Meski pameran itu bukan pameran pertamanya, pameran di Galeri Merah Putih, Surabaya, jadi debut pertamanya di luar Kediri. Ia mengaku merasa atmosfer dan apresiasi yang berbeda dari kota yang lebih besar.

"Tempatnya representatif, penontonnya juga lebih beragam. Ada apresiasi yang terasa berbeda di Surabaya," kata Ali.

Sebelumnya, ia hanya berpameran di ruang-ruang lokal, seperti kantor Dinas Pendidikan dan rumah budaya di Kediri.

Ali tidak hanya ingin dikenal sebagai pelukis bangunan tua. Ia ingin karya-karyanya menjadi pengingat bahwa kota tidak hanya dibentuk oleh yang baru, tapi juga oleh yang nyaris hilang. Ia bermimpi membawa pamerannya ke Yogyakarta, Solo, hingga Jakarta, agar kisah kota kecil ini bisa menggugah lebih banyak orang.

"Harapannya nanti bisa pameran ke Jogja, Solo, dan akhirnya Jakarta. Supaya bisa memperluas pesan ini," tutupnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow