Mengapa Pria Terlalu Baik Malah Tak Menarik?
Memutuskan hubungan dengan seorang pria karena dianggap "terlalu baik" mungkin terdengar aneh.
Suarajatimpost.com - Memutuskan hubungan dengan seorang pria karena dianggap "terlalu baik" mungkin terdengar aneh. Namun, fenomena ini pernah dialami oleh bintang sepakbola Ricardo Kaka. Meskipun sukses dalam karier dan dikenal sebagai sosok yang baik hati, Kaka ditinggalkan oleh istrinya, Caroline Celico, pada tahun 2015. Caroline menyebutkan bahwa meskipun Kaka selalu memperlakukannya dengan baik, ada perasaan tidak bahagia yang menghinggapi dirinya.
Caroline menjelaskan, "Kaka tidak pernah mengkhianatiku dan memberiku keluarga yang luar biasa, tetapi aku tidak bahagia. Ada sesuatu yang hilang; dia terlalu sempurna untukku." Pernyataan ini memicu diskusi di kalangan warganet tentang apakah wanita benar-benar menemukan pria yang "terlalu baik" kurang menarik, sementara sosok pria nakal justru lebih memikat.
Preferensi Wanita dalam Memilih Pasangan
Sebuah disertasi oleh DeBuse (2016) yang dipublikasikan di Psychology Today menunjukkan bahwa perempuan memiliki preferensi yang berbeda-beda saat memilih pasangan. Beberapa temuan kuncinya adalah:
- Dominasi: Pria nakal dengan karakter heroik sering dianggap lebih dominan dibandingkan pria baik.
- Sikap Suportif: Pria baik dipandang lebih suportif, sementara pria nakal dianggap kurang.
- Daya Tarik Fisik: Karakter heroik dan pria nakal biasanya dianggap paling menarik secara fisik, sementara pria baik berada di tengah.
Secara keseluruhan, perempuan cenderung tertarik pada sifat heroik untuk hubungan yang lebih intim, sedangkan pria nakal mungkin dipilih untuk hubungan yang lebih kasual.
Pria Baik dan Daya Tariknya
Meskipun ada anggapan bahwa pria baik sering menjadi pilihan terakhir, mereka sebenarnya bisa sangat atraktif bagi wanita yang mencari komitmen. Namun, pengalaman masa lalu yang negatif bisa membuat wanita ragu untuk memilih pria baik, merasa tidak layak mendapatkan hubungan yang sehat.
Menurut Erika Davian, seorang pelatih kencan, sikap "terlalu baik" dapat menunjukkan kurangnya batasan. Hal ini bisa membuat pasangan merasa khawatir bahwa orang tersebut akan mengabaikan kebutuhannya sendiri. "Seseorang yang terlalu baik mungkin membuat calon pasangan merasa mereka akan mengorbankan diri untuk menyenangkan orang lain," ujar Davian.
Pada akhirnya, apa yang dianggap "terlalu baik" oleh satu orang mungkin berbeda bagi orang lain. Kunci untuk hubungan yang sukses terletak pada keselarasan preferensi masing-masing individu dalam memilih pasangan. Tidak ada definisi baku tentang "baik" atau "buruk"; semua tergantung pada konteks dan keinginan masing-masing. (**)
sumber: cxomedia.id
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

