Mengapa Atap Gedung DPR Melengkung? Ini Sejarah dan Filosofinya

Atap melengkung Gedung DPR ternyata menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam. Dari gagasan Soekarno hingga simbol keterbukaan, inilah makna di balik ikon arsitektur politik Indonesia.

09 Sep 2025 - 07:58
Mengapa Atap Gedung DPR Melengkung? Ini Sejarah dan Filosofinya
Ilustrasi Gedung DPR RI. (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

JAKARTA, SJP – Atap melengkung Gedung DPR di Senayan, Jakarta, sejak lama menjadi ikon arsitektur politik Indonesia. Bentuknya yang khas bukan sekadar pilihan desain, melainkan menyimpan jejak sejarah panjang sekaligus makna filosofis mendalam tentang keterbukaan dan perlindungan terhadap rakyat.

Gedung yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Nusantara ini pernah menjadi saksi sejumlah peristiwa penting bangsa, salah satunya momen bersejarah 1998 ketika ribuan mahasiswa menduduki atap gedung untuk menuntut mundurnya Presiden Soeharto.

Sejarah Panjang Pembangunan

Rencana pembangunan gedung digagas Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1965 tentang Proyek Political. Gedung ini awalnya disiapkan untuk menjadi lokasi penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefo) pada 1966, sebuah forum internasional yang dimaksudkan menyaingi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Arsitektur gedung dirancang oleh Soejoedi Wirjoatmodjo, arsitek Indonesia lulusan Technische Universität Berlin Barat. Tiang pertama berdiri pada 19 April 1965 dengan target rampung 17 Agustus 1966. Namun, pembangunan sempat terhenti akibat peristiwa G30S/PKI yang menggagalkan rencana Conefo.

Pekerjaan konstruksi kemudian dilanjutkan di era Presiden Soeharto melalui SK Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966. Setelah melalui perjalanan panjang, gedung ini akhirnya selesai pada 1 Februari 1983 dan dialihfungsikan menjadi kantor MPR, DPR, dan DPD.

Filosofi di Balik Atap Melengkung

Atap hijau berbentuk setengah lingkaran yang melengkung itu melambangkan kepakan sayap burung yang siap terbang tinggi. Dua kubah yang menyatu menyerupai sayap Garuda menjadi simbol persatuan bangsa sekaligus kekuatan kolektif Indonesia.

Uniknya, bentuk atap tersebut disebut belum pernah diciptakan di negara lain, bahkan ditemukan secara tidak sengaja oleh sang arsitek.

Selain atap, tangga utama yang dirancang terbuka melambangkan keramahan bangsa. Area depan yang luas menjadi ruang penyambutan, mencerminkan kepribadian nasional yang ramah dan terbuka bagi siapa saja.

Ikon Demokrasi

Lebih dari sekadar bangunan fisik, Gedung DPR berdiri sebagai simbol aspirasi dan cita-cita bangsa. Bentuk arsitekturnya seakan menjadi janji abadi: keterbukaan, perlindungan, serta harapan agar demokrasi selalu hidup di dalamnya.

Kini, setiap kali menatap atap melengkung Gedung DPR, publik seakan diingatkan kembali pada sejarah, semangat kebangsaan, dan tugas menjaga demokrasi agar tetap berpihak pada rakyat. (**)

Editor: Rizqi Ardian 

Sumber: Beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow