Memahami Toxic Masculinity: Ketika Standar “Kejantanan” Justru Menyakitkan

Pembahasan tentang toxic masculinity, dampaknya bagi kesehatan mental pria, serta pentingnya mengekspresikan emosi secara sehat tanpa tekanan standar kejantanan berlebihan yang membatasi kebebasan dan kemanusiaan laki-laki.

23 Nov 2025 - 09:32
Memahami Toxic Masculinity: Ketika Standar “Kejantanan” Justru Menyakitkan
Ilustrasi pria stres (Foto : Freepik/SJP)

SUARAJATIMPOST.COM - Komentar seperti “Cowok kok pakai baju pink?”, “Sunblock itu buat cewek!”, atau “Masa laki-laki nangis?” mungkin masih sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan-ucapan sederhana ini sebenarnya menggambarkan satu pola pikir yang cukup berbahaya: toxic masculinity.

Istilah ini merujuk pada anggapan bahwa pria harus selalu tampil kuat, dominan, tidak emosional, dan bebas dari segala hal yang dianggap “lembut”. Seakan-akan laki-laki harus menjadi sosok yang paling tangguh dalam segala situasi.

Pola pikir seperti ini biasanya lahir dari budaya patriarki yang sejak kecil mengajarkan anak laki-laki untuk menekan perasaan mereka. Padahal, setiap manusia, termasuk pria, memiliki kebutuhan emosional yang sama. Merasa sedih, takut, rapuh, atau membutuhkan dukungan bukanlah kelemahan, melainkan bagian alami dari kehidupan.

Sayangnya, standar kejantanan yang berlebihan ini sering dianggap wajar. Padahal, dampaknya bisa cukup serius. Laki-laki bisa merasa tertekan karena harus memenuhi ekspektasi sosial, sulit membuka diri, tidak nyaman menerima perbedaan, hingga tanpa sadar merendahkan perempuan atau laki-laki lain yang dianggap lebih “lembut”.

Lebih jauh lagi, toxic masculinity juga membuat banyak pria takut mengekspresikan emosi, termasuk menangis. Penekanan emosi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, seperti stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi.

Padahal, tidak ada yang salah dengan mengekspresikan perasaan. Laki-laki pun berhak menangis, bercerita, mencari pertolongan, dan menunjukkan sisi rentan mereka. Itu bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa ia adalah manusia yang utuh.

Melepaskan diri dari standar maskulinitas yang kaku bukan hanya membuat hidup lebih ringan, tapi juga membuka ruang bagi hubungan yang lebih sehat, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Jadi, tidak perlu merasa bersalah untuk menunjukkan emosi. Semua orang berhak untuk didengar. (**)

Editor : Rizqi Ardian
Sumber : Alodokter_id

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow