Melangkah ke Masa Lalu di Warung Baroe Lama Kediri
Warung berkonsep jadul ini dipenuhi benda-benda antik yang tersusun rapi. Meja dan kursi kayu lawas, lemari tua, lukisan dan foto hitam putih, deretan buku kuno, keramik, kaset pita, hingga mainan era 1970–1980-an menghadirkan suasana rumah tempo dulu.
KEDIRI, SJP — Begitu kaki melangkah melewati pelataran Warung Baroe Lama di Jalan Mauni Nomor 157, Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, waktu seolah melambat. Sebuah sepeda onthel tua dan lampu petromax menyambut di depan, menjadi penanda bahwa pengunjung tidak sekadar datang untuk makan atau ngopi, tetapi sedang diajak pulang ke masa lalu.
Warung berkonsep jadul ini dipenuhi benda-benda antik yang tersusun rapi. Meja dan kursi kayu lawas, lemari tua, lukisan dan foto hitam putih, deretan buku kuno, keramik, kaset pita, hingga mainan era 1970–1980-an menghadirkan suasana rumah tempo dulu. Setiap sudutnya seakan menyimpan cerita dan kenangan.
Masuk lebih dalam, pandangan tertumbuk pada lukisan-lukisan lama dan rak buku berisi terbitan percetakan tua Tan Khoen Swie dari era 1930-an. Aroma kayu tua bercampur kopi tubruk menciptakan sensasi yang sulit ditemui di tempat nongkrong modern.
Tak hanya menawarkan nostalgia visual, Warung Baroe Lama juga menyajikan menu sederhana khas masa silam. Tahu lontong, tahu telur, tempe goreng, dan pisang goreng tersaji sebagai teman berbincang. Sementara minumannya pun tak kalah klasik, mulai dari wedang jahe, wedang jeruk, hingga kopi tubruk.
Harjito, salah satu pengunjung, mengaku perasaannya langsung terseret ke masa kecil begitu memasuki warung.
“Saat masuk, kita seperti dibawa kembali ke masa lalu. Saya teringat dulu setiap sore menyalakan lampu petromax,” ujarnya.
Menurutnya, suasana warung yang tenang dan sejuk membuat tempat ini cocok bagi pengunjung usia lanjut yang ingin bernostalgia bersama keluarga atau sahabat lama.
“Suasananya adem dan tenang, pas untuk mengenang masa-masa dulu,” imbuhnya.
Namun Warung Baroe Lama tak hanya menjadi ruang nostalgia bagi generasi tua. Riverialdo, pengunjung remaja yang datang bersama teman-temannya, justru melihat warung ini sebagai ruang belajar.
“Ini sudah dua kali saya ke sini untuk belajar kelompok. Kita bisa belajar sejarah dari buku-buku lama, foto, dan koleksi yang ada,” tuturnya.
Harga menu yang terjangkau juga menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan pelajar.
“Nyaman, tenang, dan harganya ramah di kantong,” tambah Riverialdo.
Pemilik Warung Baroe Lama, Yanuar Riyadi (42), menuturkan bahwa konsep jadul ini berawal dari ketidaksengajaan. Pada 2010, ia membeli sebuah meja kuno untuk ruang tamu, yang kemudian memicu ketertarikannya mengoleksi barang-barang lama.
“Awalnya cuma beli meja, lama-lama keterusan. Barang-barang itu saya tata di garasi untuk tempat nongkrong dan menjamu tamu,” jelasnya.
Koleksi tersebut sebagian besar berasal dari wilayah Kediri dan sekitarnya. Bahkan, tidak sedikit yang datang dari pengunjung yang menawarkan barang kuno milik mereka.
“Tidak semuanya saya berburu. Ada juga pengunjung yang menjual barangnya ke sini. Baru pada 2017 tempat ini resmi dibuka sebagai warung,” katanya.
Kini, Warung Baroe Lama menjadi magnet bagi pengunjung lintas generasi dan lintas daerah. Tak hanya warga Kediri, tamu dari Surabaya, Malang, Jember, Yogyakarta, hingga Jakarta pun kerap singgah.
“Yang datang bukan hanya orang tua, remaja juga banyak, biasanya rombongan,” ungkap Yanuar.
Menariknya, sebagian koleksi di warung ini juga dapat dimiliki pengunjung.
“Kalau ada yang berminat dan harganya cocok, koleksi di sini bisa dilepas,” pungkasnya.
Warung Baroe Lama menjadi teman perjalanan waktu, mengajak siapa pun yang datang untuk sejenak berhenti, menoleh ke belakang, dan merasakan kembali hangatnya masa lalu. (**)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

