Masjid Baiturrahman di Kediri Menyimpan Jejak Perjuangan Pengikut Pangeran Diponegoro

Masjid Baiturrahman di Desa Tambakrejo, Kediri, merupakan peninggalan sejarah dari pengikut Pangeran Diponegoro setelah berakhirnya Perang Jawa 1830. Masjid ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam yang masih bertahan hingga kini.

08 Mar 2026 - 08:12
Masjid Baiturrahman di Kediri Menyimpan Jejak Perjuangan Pengikut Pangeran Diponegoro
Masjid Baiturrahman di Kediri yang menjadi peninggalan sejarah pengikut Pangeran Diponegoro. (Tiktok/@Desip)

KEDIRI, SJP –  Masjid Baiturrahman yang terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi salah satu peninggalan sejarah yang telah berdiri hampir dua abad. Masjid ini diperkirakan dibangun pada dekade 1830-an oleh Kiai Abdurrahman, seorang tokoh yang dikenal sebagai panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro.

Setelah berakhirnya Perang Jawa pada tahun 1830, Kiai Abdurrahman memilih melanjutkan perjuangan melalui jalur dakwah dan pendidikan keagamaan. Kehadiran Masjid Baiturrahman pun tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan spiritual bagi masyarakat sekitar.

Sejarah berdirinya masjid ini berkaitan erat dengan Perang Jawa yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda di Magelang, sejumlah pengikutnya menyebar ke berbagai daerah untuk menghindari pengejaran.

Kiai Abdurrahman kemudian menuju wilayah Kediri bagian timur. Di daerah yang kini dikenal sebagai Desa Tambakrejo, ia mendirikan masjid yang juga difungsikan sebagai pusat kegiatan dakwah dan pendidikan Islam.

Melalui langkah tersebut, perjuangan yang sebelumnya dilakukan di medan perang beralih menjadi upaya memperkuat akidah serta membina akhlak masyarakat.

Keunikan Masjid Baiturrahman terlihat dari ornamen lafaz “Lillah” yang terukir di berbagai bagian bangunan. Tulisan tersebut dapat ditemukan pada pintu, dinding, tiang penyangga, mimbar, hingga langit-langit masjid.

Pengasuh masjid generasi keempat, Kiai Zaini Thoyyib, menjelaskan bahwa ornamen tersebut memiliki makna mendalam. Menurutnya, tulisan itu menjadi pengingat agar setiap ibadah dilakukan dengan niat yang tulus tanpa mengharapkan imbalan.

Nilai tersebut juga berkaitan dengan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah yang menekankan konsep lillahi ta’ala, yaitu melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah.

Tulisan lafaz tersebut yang terpasang di berbagai sudut masjid sekaligus menjadi pengingat bagi jemaah agar senantiasa menjaga keikhlasan dalam beribadah.

Walaupun telah berdiri hampir dua abad, sebagian besar struktur asli masjid masih terpelihara. Beberapa bagian seperti kayu usuk dan tiang penyangga yang berasal dari abad ke-19 masih digunakan hingga sekarang.

Perbaikan sempat dilakukan pada tahun 1980-an, terutama pada bagian lantai dan atap untuk meningkatkan kenyamanan jemaah. Meski begitu, renovasi tersebut tetap mempertahankan bentuk dasar serta karakter arsitektur lama masjid.

Saat ini, Masjid Baiturrahman tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi penanda sejarah lokal yang merekam jejak perjuangan serta perkembangan dakwah Islam di wilayah Kediri.

Keberadaan masjid ini menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan melalui peperangan, tetapi juga melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi. (**)

Sumber: Beritasatu.com

Penulis: Febiana Dendo Ngara, Mahasiswa Magang Unitri

Editor: Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow