Makam Kiai Mas Prajekan Bondowoso, Simbol Tradisi Selamatan Lintas Agama yang Tetap Lestari

Makam ini berada di Sraten I Desa Prajekan Kidul Kecamatan Prajekan. Jarak waktu tempuh dari jantung kota Bondowoso, kurang lebih 38 menit dengan mengendarai sepeda motor, atau berjarak 23,6 Km dari Alun-alun Raden Bagus Asra.

15 Feb 2025 - 18:34
Makam Kiai Mas Prajekan Bondowoso, Simbol Tradisi Selamatan Lintas Agama yang Tetap Lestari
Pj Bupati Bondowoso, Muhammad Hadi Wawan Guntoro saat berziarah ke Makam Kiai Mas Prajekan (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Ragam budaya yang ada di Kabupaten Bondowoso, memberikan identitas diri, bahwa Bumi Ki Ronggo ini memiliki berbagai suku  yang melahirkan beraneka tradisi, di mana hingga saat ini, tradisi tersebut tetap lestari.

Kabupaten Bondowoso juga menjadi surganya peninggalan zaman megalitikum, yang hampir merata tersebar di setiap daerah. Bahkan, di setiap kecamatan ada peninggalan situs megalitikum.

Selain itu, Bondowoso ternyata juga memiliki makam keramat para leluhur, pembabat alas dan pemuka agama yang ternama. Makam-makam keramat ini masih menjadi tempat untuk bermunajat kepada sang pencipta dan tetap ramai dikunjungi oleh masyarakat yang datang untuk berziarah.

Tak hanya itu, para peziarah yang datang ternyata bukan hanya dari warga lokal saja, wisatawan religi datang dari luar kota dan mancanegara juga berkunjung ke makam keramat di Bondowoso.

Kesakralan dari makam keramat di Bondowoso ini, konon katanya bisa mewujudkan keinginan para peziarah. Hal itu kesohor oleh cerita dan fakta yang disampaikan oleh masyarakat asli Bondowoso maupun para peziarah.

Kali ini, suarajatimpost.com akan membahas sebuah makam yang sering dianggap keramat, gaib dan membawa berkah serta selalu ramai dikunjungi peziarah, yakni, makam Kyai Mas Atmari. 

Makam ini berada di Sraten I Desa Prajekan Kidul Kecamatan Prajekan. Jarak waktu tempuh dari jantung kota Bondowoso, kurang lebih 38 menit dengan mengendarai sepeda motor, atau berjarak 23,6 Km dari Alun-alun Raden Bagus Asra.

Konon ceritanya, Kiai Mas dipandang sebagai tokoh penyebar agama Islam di Wilayah Prajekan, sehingga sangat dihormati. Makamnya pun hingga saat ini masih ramai dikunjungi oleh para peziarah.

Bahkan, sampai saat ini masih ada tradisi nyekar dan selamatan di makam yang dipengaruhi kebudayaan Cina, Islam dan Jawa. Hal ini tampak pada sisa peninggalan yang terdapat di Pesantren dan makam Kiai Mas.

Di area makam, tampak ornamen bangunan dan makam Kiai Mas yang menggambarkan simbol-simbol kebudayaan Cina. Hal ini menguatkan bahwa Kiai Mas adalah keturunan bangsawan Cina yaitu dinasti Han.

Diketahui, pada Jumat (14/2/2025) kemarin, Pj Bupati Bondowoso Muhammad Hadi Wawan Guntoro, bersama Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga, datang berziarah di makam Kiai Mas.

Sejarawan yang juga keturunan dari Kiai Mas, Tantri Raras Ayuningtias, menceritakan, Kiai Mas berperan penting dalam menyebarkan Islam di Prajekan. Meski beliau keturunan Cina, beliau memiliki ilmu kedigdayaan dengan bisa berjalan di atas layang-layang. 

“Kiai Mas menyebarkan Islam di Prajekan bersama adiknya dengan mendirikan pesantren salafiyah dan santrinya kebanyakan adalah keturunan Cina yang menjadi muslim. Karena, semasa hidupnya Kiai Mas tidak pernah membedakan agama apapun dan dari etnis manapun,” ucapnya, Sabtu (15/2/2025).

Tradisi Selamatan Lestari Hingga Kini

Di Makam Kiai Mas, untuk memperoleh doa dan berkah, sebagian masyarakat masih tetap melakukan ritual selamatan dan hari yang selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai golongan yaitu malam Jumat legi dan hari Jumat legi.

Sedangkan bulan yang termasuk ramai pengunjung adalah bulan Suro, di mana bulan Suro merupakan awal dari tahun baru Islam dan permulaan bulan Jawa yang dianggap bulan suci dan baik untuk pembersihan diri dari hal-hal yang dianggap negatif dalam kehidupan.

“Bahkan, saat selamatan ada juga warga non muslim yang datang ke makam Kiai Mas,” ungkap Tantri Raras Ayuningtias, yang juga keturunan ke-5 Kiai Mas ini.

Pada peringatan-peringatan tertentu, kata perempuan yang juga Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) ini, pengunjung muslim juga mengadakan selamatan yang berupa nasi kuning, mi goreng, ayam goreng dan jajan pasar yang ditempatkan pada sebuah besek dan makanan tersebut telah disediakan oleh keluarga Kiai Mas. 

“Kegiatan yang dilakukan sebelum selamatan tersebut dimulai, terlebih dulu ada pengajian dan berdoa bersama membaca lantunan ayat suci Al Qur’an yang dikhususkan untuk Kai Mas, baru kemudian pembagian makanan selamatan,” jelasnya.

Tradisi Ciamsi Bagi Pengunjung Non Muslim

Sedangkan bagi pengunjung non muslim, sesudah melakukan nyekar dan selamatan, mereka sembahyang lagi dan meramal nasib mereka menggunakan ciamsi di depan makam Kai Mas. 

Ciamsi ini berbentuk dari kayu, bentuknya lonjong dengan ukuran sebesar buah rambutan, berwana merah dan selalu berjumlah dua buah atau sepasang. Cara menggunakan ciamsi, pertama pengunjung berkonsentrasi menurut keyakinan dan kepercayaan.

Para pengunjung memohon sesuai dengan permintaan, kemudian menjatuhkan ciamsi tersebut, kalau kebetulan salah satu di antara dua ciamsi tersebut jatuh tengkurap dan satunya terbuka, ini pertanda bahwa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi, bahwa usaha yang akan dilakukan diyakini akan berhasil. 

“Namun jika ciamsi saat dijatuhkan terbuka semua, itu adalah pertanda usaha yang dilakukan akan gagal dan ditertawakan orang, bila posisi ciamsi tengkurap semua, pertanda tidak boleh melakukan usahanya dan orang tersebut boleh mengambil dan mengulangi ciamsi lagi,” cerita perempuan yang karib dipanggil Tantri ini.

Tantri megungkap jika para pengunjung yang datang ziarah berasal dari berbagai lapisan masyarakat, baik Cina, Jawa maupun suku Madura. Hal ini menampakkan bahwa sisa-sisa kharismatik dari Kiai Mas masih nampak di sini.

“Namun hal ini tidak menjadi benturan perbedaan keyakinan dan etnis yang ada, justru semakin membuat kerukuanan antar etnis dan umat beragama yang ada semakin era. Kiai Mas merupakan akulturisasi di wilayah Tapal Kuda,” ujarnya.

Tradisi selamatan yang terdapat di makam Kiai Mas sudah dilakukan secara turun-temurun sejak wafat pada tahun 1892. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kiai Mas karena dianggap sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso. 

Keunikan yang terdapat dalam tradisi selamatan di makam Kiai Mas dipengaruhi kebudayaan Cina, Islam dan Jawa. Hal ini tampak pada sisa peninggalan yang terdapat di Pesantren dan makam Kiai Mas. 

Bentuk ornamen bangunan dan makam Kiai Mas menggambarkan simbol-simbol kebudayaan Cina. Hal ini menguatkan bahwa Kiai Mas adalah keturunan bangsawan Cina yaitu dinasti Han. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow