Mahasiswa Singapura Dorong Pengentasan Kemiskinan Lewat Teknologi di Koperasi Surabaya

Mahasiswa Singapura memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk memperkuat koperasi di Surabaya, membantu penjahit, lansia, dan penyandang disabilitas keluar dari jerat kemiskinan.

15 Jan 2026 - 18:16
Mahasiswa Singapura Dorong Pengentasan Kemiskinan Lewat Teknologi di Koperasi Surabaya
Salah satu mahasiswa SUTD yang mencoba langsung proses menjahit bersama para penjahit di Koperasi Sumber Mulia Barokah (Dok. PCU for SJP)

SURABAYA, SJP - Koperasi kerap menjadi tulang punggung ekonomi rakyat, terutama bagi kelompok rentan seperti penjahit lokal, lansia, dan penyandang disabilitas. 

Namun, keterbatasan pengelolaan data dan sistem kerja kerap membuat tujuan mulia koperasi sulit dicapai secara maksimal. Di sinilah teknologi mulai memainkan peran penting, membantu koperasi bekerja lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan.

Upaya tersebutlah yang kini dilakukan oleh 20 mahasiswa Singapore University of Technology and Design (SUTD) yang berkolaborasi dengan 40 mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam program Global Exploration Opportunities (GEO).

Melalui program tersebut, para mahasiswa lintas negara merancang solusi teknologi untuk memperkuat operasional Koperasi Sumber Mulia Barokah di Tambak Wedi, Surabaya.

Koperasi Sumber Mulia Barokah sendiri merupakan mitra binaan Dinas Koperasi Pemkot Surabaya yang selama ini memberdayakan penjahit lokal, lansia, hingga penyandang disabilitas. Kehadiran mahasiswa internasional membawa perspektif baru, khususnya dalam pemanfaatan teknologi berbasis data.

PIC Program GEO, Vido Iskandar, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga realitas sosial di Indonesia.

"Dalam kegiatan ini, para mahasiswa akan menghadapi fenomena menarik, di mana mereka belajar perbedaan kontras antara budaya urban Singapura dengan sistem ekonomi kerakyatan seperti koperasi di Indonesia," ujar Vido saat dikonfirmasi pada Kamis (15/1/2026).

Tidak sekadar kunjungan budaya, program GEO menggunakan metode hackathon, di mana pada dua hari terakhir para mahasiswa ditantang bekerja secara intensif untuk menciptakan solusi berbasis Machine Learning dan Data Visualization. 

"Solusi tersebut dirancang untuk membantu koperasi mengambil keputusan berbasis data, mulai dari produksi hingga distribusi," tutur Vido.

Vido memaparkan bahwa 20 mahasiswa SUTD yang terlibat merupakan mahasiswa tahun pertama dari berbagai program studi, sementara 40 mahasiswa UK Petra berasal dari Program Studi Informatics, School of Business and Management (SBM), dan Petra Business School. 

"Kolaborasi ini menyatukan pendekatan teknologi dan bisnis dalam satu tujuan sosial,"jelasnya.

Bersama-sama, para mahasiswa mengembangkan berbagai solusi konkret, seperti analisis tren penjualan, optimasi manajemen bahan baku, hingga digitalisasi pemilihan supplier agar lebih konsisten dan efisien. 

Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya tahan koperasi sekaligus memperluas dampak pemberdayaan ekonomi.

Sebelum merancang solusi, mahasiswa mendapatkan pembekalan teori dari dosen kedua universitas. Materi yang diberikan meliputi Design Thinking oleh Cyrille Pierre Joseph Jegourel dari SUTD, isu sosial Indonesia oleh Josua Tarigan, Machine Learning oleh Adi Wibowo, serta Data Visualization oleh Henry N. Palit dari UK Petra.

Vido menegaskan, program itu menjadi ruang pembelajaran imersif bagi mahasiswa Singapura untuk mengaplikasikan ilmunya di konteks sosial yang berbeda.

"Program imersi mancanegara SUTD ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan mereka dalam menjawab tantangan keberlanjutan di wilayah setempat," terangnya.

"Melalui kolaborasi lintas budaya, mahasiswa dilatih untuk bekerja sama dalam tim internasional guna mengasah pola pikir kritis dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," tutup Vido. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow