Mahanani Book & Art Festival 2026, Ruang Wong Cilik Menjaga Nyala Literasi di Kediri
Mahanani Book & Art Festival 2026 di Kediri menghadirkan ruang literasi bagi wong cilik melalui seni, buku, teater, hingga Angkringan Puisi yang unik.
KEDIRI, SJP — Tidak ada panggung megah ataupun gemerlap laiknya festival berskala besar. Di Taman Baca Mahanani, Kediri, orang-orang biasa justru menciptakan ruang yang terasa hidup. Ada pelajar, guru honorer, petani, pengemudi ojek online, hingga pekerja lepas yang berkumpul membawa satu semangat yang sama: menjaga literasi tetap menyala.
Semangat itu hadir dalam gelaran Mahanani Book & Art Festival 2026 yang berlangsung pada 16-17 Mei 2026. Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, festival tersebut mengangkat tema “Merekam Orang-orang Biasa” sebagai bentuk keberpihakan terhadap wong cilik yang selama ini kerap luput dari sorotan.
Tema itu sekaligus menjadi napas utama seluruh rangkaian acara, mulai dari diskusi buku, pameran seni, pertunjukan teater, hingga aktivitas sederhana yang justru terasa paling membumi: membaca puisi untuk membayar gorengan dan minuman di “Angkringan Puisi”.
Di Angkringan Puisi, ketika pembeli membayar makanan minuman dengan baca puisi. (foto: Dok Panitia MBAF 2026)
Koordinator acara, Fadinka Addin, mengatakan festival tahun ini sengaja diarahkan untuk memberi ruang kepada masyarakat biasa agar dapat merekam dan menceritakan dirinya sendiri melalui seni maupun literasi.
“Tahun pertama mengadakan event ini kita sudah mengangkat isu pentingnya membaca. Lalu tahun lalu kita mengusung Bukumu Budayamu. Nah, tahun ini kita perlu mengangkat tema yang menarik sekaligus berpihak. Oleh karenanya, Merekam Orang-orang Biasa kami usung,” jelasnya.
Menurut Fadinka, festival tersebut juga menjadi cerminan dari para pegiat yang menghidupkan Taman Baca Mahanani sehari-hari.
“Hal itu tak luput dari teman-teman pegiat literasi di sini pula yang keseluruhannya adalah orang-orang biasa. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru honorer, petani, ojol, akademisi, hingga pekerja lepas. Pokoknya pegiat di sini itu dari berbagai macam latar dan tentunya tak ada yang mentereng alias semua adalah orang-orang biasa, wong cilik,” imbuhnya.
Atmosfer festival terasa cair dan dekat dengan masyarakat. Pengunjung tidak hanya datang untuk membaca buku, tetapi juga menikmati ruang interaksi yang terbuka. Pameran foto tentang profesi masyarakat kecil dipajang berdampingan dengan ruang baca gratis dan pertunjukan seni lintas komunitas.
Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah “Nrutus”, kegiatan berjalan kaki menyusuri gang-gang Kota Kediri sambil merekam kehidupan warga sekitar. Aktivitas tersebut menjadi cara sederhana untuk melihat lebih dekat realitas masyarakat sehari-hari yang sering terabaikan.
Selain itu, sesi “Berani Goblok” juga digelar sebagai ruang membedah karya-karya sastrawan Iman Budhi Santosa yang dikenal dekat dengan narasi wong cilik sepanjang hidupnya.
Perhelatan malam puncak turut dihadiri mantan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar dan Ferry Silviana Feronica atau Bunda Fey. Keduanya mengapresiasi hadirnya ruang literasi alternatif di tengah dominasi penggunaan gadget pada anak-anak.
“Saya sangat senang sekali dengan acara ini, di mana sekarang ini banyak orang tua ataupun guru menormalisasi memberikan gadget pada anak-anaknya. Di sini anak-anak dan semua orang diberi ruang untuk membaca seluas-luasnya. Acara kali ini bisa membuat anak-anak lebih berkembang secara lebih luas,” tutur Abdullah Abu Bakar.
Bunda Fey mengaku suasana festival membuatnya teringat pada atmosfer kebudayaan saat masih berada di Yogyakarta.
“Selamat untuk Mahanani yang sudah mengadakan Mahanani Book & Art Festival yang ketiga kalinya. Saya sangat senang karena anak saya menjadi bagian dari acara malam ini. Jadi bersyukurlah teman-teman semua. Malam ini saya merasa tidak di Kediri, tapi déjà vu saat saya kuliah di Jogja dulu,” ungkapnya.
Sementara itu, pembina asrama Al-Furqon dan Teater Pitulikur Pondok Pesantren Darul ’Ulum Jombang, Syaiful Anam, menilai festival tersebut menjadi ruang belajar yang sehat bagi anak-anak maupun orang dewasa.
“Perayaan Hari Buku Nasional seperti di Mahanani ini sebuah pelajaran yang luar biasa. Dengan ini, anak-anak dan tentunya kita semua dapat mengoptimalkan potensi serta bakatnya masing-masing. Dari pertunjukan-pertunjukan tadi, misal, kita ditunjukkan bahwa anak harus diberi ruang belajar yang psychological safety, sehingga anak-anak bahkan orang dewasa tidak memiliki rasa takut untuk salah,” urainya.
Di tengah derasnya arus digital dan budaya instan, Mahanani Book & Art Festival 2026 hadir sebagai ruang kecil wong cilik mengekspresikan diri. (**)
Editor: Danu
What's Your Reaction?

