Lukisan Madhep Bumi, Renungan Didi Dyan Tentang Kembali ke Fitrah
Lukisan Madhep Bumi karya Didi Dyan menjadi renungan tentang kepasrahan dan keikhlasan manusia, mengingatkan bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan kembali menuju fitrah dan keseimbangan diri.
SURABAYA, SJP - Di tengah riuhnya Pameran Lukisan Nasional Akbar Ikatan Pelukis Indonesia (IPI) ke-11 di Alun-Alun Kota Surabaya, Minggu (19/10/2025), sebuah lukisan berjudul Madhep Bumi menarik perhatian pengunjung. Karya itu milik Didi Dyan, pelukis asal Jawa Timur yang menampilkan tafsir mendalam tentang kehidupan dan pengabdian.
Pameran nasional yang mengusung tema “Mengabarkan Semangat Sumpah Pemuda dari Surabaya untuk Indonesia” ini menjadi wadah bagi para pelukis untuk menyalurkan semangat kebangsaan melalui karya rupa. Namun bagi Didi, pameran bukan sekadar ruang eksibisi, melainkan momen untuk menatap kembali perjalanan batinnya.
Didi menuturkan, lukisan Madhep Bumi itu telah ia buat sejak tahun 2024 lalu. Namun, karya itu belum pernah dipamerkan karena berbagai ujian hidup yang datang silih berganti. Ia mengaku memiliki cara unik dalam mencipta karya.
"Kalau pelukis lain biasanya melukis dulu baru kasih judul, kalau saya kebalik, judul dulu baru dilukis. Jadi rasanya seperti menulis," ujar Didi.
Baginya, setiap goresan kuas adalah tulisan hati. Ia menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai pelukis, melainkan sebagai penulis perasaan yang dituangkan dalam warna dan bentuk.
Makna ‘Madhep Bumi’
Dalam bahasa Jawa, Madhep Bumi berarti “menghadap bumi”. Bagi Didi, makna ini jauh lebih dalam daripada sekadar arah pandang. Ia menggambarkannya sebagai sikap spiritual manusia yang telah berdamai dengan dirinya sendiri, meletakkan ego, nafsu, dan ambisi duniawi.
"Madhep Bumi itu mengingatkan manusia agar mawas diri, sadar diri, dan kembali ke fitrahnya. Semua sama, tidak ada yang lebih spesial dari yang lain," tuturnya.
Lukisan itu, lanjutnya, adalah ajakan untuk menundukkan hati, namun bukan diartikan sebagai menyerah, tetapi menyadari bahwa kehidupan sejatinya adalah pengabdian.
"Hidup, belajar, dan bekerja itu bukan tentang mencari sesuatu, tapi memberikan sesuatu," ucapnya lembut.
Secara visual, Madhep Bumi didominasi oleh warna hijau, pink, dan putih. Tiga warna yang oleh Didi disusun dengan makna simbolik. Ia sengaja memilih hijau jeruk yang cerah karena menurutnya membawa rasa segar dan hidup.
"Saya ingin warna hijau yang indah, hijau jeruk. Sedangkan pink itu darah, tapi bukan darah yang tajam seperti merah. Hidup itu ada manis-manisnya," ujarnya sambil tersenyum.
Warna putih, katanya, melambangkan kesucian dan awal kehidupan. Sedangkan perpaduan hijau dan pink menghadirkan keseimbangan antara luka dan kebahagiaan, tangis dan tawa.
"Dalam lukisan saya ada merah, ada putih, ada luka, ada bahagia, ada tangis dan tawa," katanya.
Bagi Didi, seni bukan hanya tentang estetika, melainkan tentang kejujuran batin. Ia percaya, tidak ada yang salah dalam seni selama karya lahir dari ketulusan hati.
"Seni itu kejujuran hati. Ungkapan dari perasaan terdalam," katanya tegas.
Melalui Madhep Bumi, Didi ingin menegaskan bahwa manusia yang telah selesai dengan dirinya akan hidup tanpa dendam, tanpa prasangka, dan penuh welas asih. Dalam keseimbangan itu, ia melihat makna sejati dari kemanusiaan.
"Ketika manusia sudah selesai dengan dirinya, dia akan meletakkan semua rasa, ego, dan duniawi. Hidupnya untuk berbagi hati dan menatah diri," ujarnya.
Didi menutup perbincangan tentang karyanya dengan kalimat yang terasa seperti doa. Bahwa kehidupan adalah proses untuk kembali, bukan menuju akhir, tetapi pulang ke asal. Ke tanah yang melahirkan, air yang menyucikan, dan kasih ibu yang menaungi.
Baginya, Madhep Bumi bukan sekadar lukisan, melainkan ajakan untuk hidup dengan kesadaran penuh, tanpa pamrih, tanpa dendam, dan tanpa curiga.
"Pada akhirnya kita semua akan kembali ke bumi. Jadi bekerjalah dari hati, hiduplah dengan bahagia, karena keabadian itu hidup sesudah mati," pungkasnya.
Di tengah hiruk-pikuk pameran yang dipenuhi warna dan bentuk, Madhep Bumi berdiri sebagai pengingat yang tenang. Lukisan itu bukan hanya bicara tentang seni, tetapi juga tentang kesadaran, bahwa dalam setiap goresan hidup, manusia sejatinya sedang belajar untuk kembali. (*)
Editor: Danu S
What's Your Reaction?

