Seniman Surabaya Rayakan Hari Kebudayaan Nasional dengan Melukis On The Spot

Puluhan seniman Surabaya menorehkan warna di Balai Pemuda, merayakan Hari Kebudayaan Nasional perdana dengan semangat gotong royong dan tekad menghidupkan kembali denyut seni kota Pahlawan.

19 Oct 2025 - 23:12
Seniman Surabaya Rayakan Hari Kebudayaan Nasional dengan Melukis On The Spot
Puluhan seniman melukis model secara langsung dalam acara Melukis On The Spot sembari diiringi live music di Balai Pemuda Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP – Suasana sore di Komplek Balai Pemuda Surabaya pada akhir pekan terasa berbeda. Di depan Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), puluhan seniman berkumpul dengan kuas, cat, dan kanvas, menumpahkan imajinasi mereka di ruang terbuka.

Kegiatan melukis On The Spot (OTS) bertajuk "Goresan Memperingati Hari Kebudayaan Nasional" ini menjadi salah satu cara para seniman kota Pahlawan merayakan Hari Kebudayaan Nasional (HKN) yang untuk pertama kalinya diperingati secara resmi pada 17 Oktober 2025, setelah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Kegiatan melukis di tempat atau OTS tersebut digagas oleh Komunitas Ilustrasi Idiom, salah satu komunitas seni rupa yang aktif di Kota Pahlawan, dengan dukungan dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS) sebagai penyedia fasilitas lokasi.

Ketua Ilustrasi Idiom, Roman Chuza, menjelaskan bahwa kegiatan itu dirancang sebagai ruang ekspresi lintas disiplin seni, menggabungkan lukisan model berbusana kebaya dengan penampilan musik akustik dari Arul Lamandau, Heru Prasetyono, dan Mukhsin Amar.

"Kami ingin menjalin rasa kekeluargaan dan semangat berkesenian yang peduli pada kebudayaan. Ini ruang ekspresi seniman Surabaya dalam memperingati Hari Kebudayaan Nasional," ujar Roman, Minggu (19/10/2025).

Menurut Roman, kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai elemen komunitas seni dan sanggar di Surabaya, mulai dari Aksera, Koplak, IPI, IWPI, Sanggar Sawunggaling, Sanggar Rumah Seni Bukid, hingga Sanggar Lukis Tandes. Dukungan juga datang dari komunitas ColCai yang turut membantu jalannya kegiatan.

"Kami berterima kasih kepada semua komunitas seni lukis dan para musisi Surabaya, juga pihak-pihak yang mendukung, termasuk Bu Linda Leeven & Co yang membantu menyediakan material lukis bagi peserta," imbuhnya.

Roman menegaskan, kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan Ilustrasi Idiom untuk menjaga kesinambungan ruang kreatif bagi seniman dan generasi muda yang peduli pada budaya Indonesia.

Dari pihak DKS, Paksi menjelaskan bahwa kegiatan OTS kali ini merupakan bentuk spontanitas yang tumbuh dari kolaborasi antar komunitas. Awalnya kegiatan tersebut hanya menggunakan pensil, namun kemudian ada sumbangan cat dari peserta, sehingga siapa pun bisa ikut melukis.

"Temanya bebas. Tadinya cuma pakai pensil, tapi teman-teman nyumbang cat, jadi semua bisa ikut. Artinya banyak komunitas saling mendukung," ujar Paksi.

Kegiatan ini diikuti sekitar 70 seniman lokal Surabaya dari berbagai komunitas. Karena izin penggunaan area Balai Pemuda terbatas hanya tiga jam, peserta yang diundang memang berasal dari wilayah Surabaya saja.

Paksi menilai kegiatan yang digagas oleh Komunitas Ilustrasi Idiom tersebut sebagai upaya menghidupkan kembali Balai Pemuda yang dulu menjadi pusat aktivitas seniman Surabaya.

"Balai Pemuda dulu tempatnya seniman, tapi sekarang mulai tergeser. Harapan saya, acara seperti ini bisa rutin dan mengembalikan marwahnya," ujar Paksi penuh harap.

Ia juga berharap karya-karya hasil kegiatan kali ini dapat dipamerkan di masa mendatang sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan seni di Surabaya.

"Sebenarnya saya ingin karya OTS ini bisa dipamerkan. Mungkin nanti ke depannya bisa diwujudkan," ucapnya.

Kegiatan tersebut juga mendapat tanggapan positif dari berbagai komunitas. Salah satunya datang dari Bachtiar Sutrisno Aji, Ketua Sanggar Sawunggaling, yang turut hadir menyaksikan jalannya acara.

"Acara ini menarik sekali, gebrakannya bagus. Memberi motivasi untuk para seniman Surabaya dan jadi titik temu yang bagus," kata Bachtiar.

Meski sebagian anggota sanggarnya tidak bisa hadir karena jadwal kegiatan lain, Bachtiar menilai acara ini bisa menjadi inspirasi bagi sanggar-sanggar lain untuk kembali aktif berkarya.

"Kegiatan seperti ini jadi pemantik bagi Sanggar Sawunggaling juga. Nanti kami Bismillah, mungkin akan meniru untuk mengadakan acara serupa," ujarnya.

Bachtiar berharap dunia kesenian di Surabaya semakin berkembang dan lebih dihargai oleh masyarakat, terutama bagi generasi muda yang baru mulai belajar seni.

"Harapannya seni di Surabaya berkembang, lebih baik, dan lebih dihargai, baik yang baru belajar maupun yang sudah lama," tuturnya.

Melalui kegiatan sederhana seperti melukis di tempat, Komunitas Ilustrasi Idiom dan DKS ingin menunjukkan bahwa merayakan kebudayaan tak selalu harus megah atau formal. Justru, lewat pertemuan dan goresan spontan di ruang publik, semangat berkebudayaan terasa lebih hidup.

Acara melukis di tempat kali ini menjadi penanda bahwa Hari Kebudayaan Nasional bukan sekadar tanggal baru di kalender, melainkan momentum untuk kembali menumbuhkan kesadaran seni dan kebersamaan antarpegiat budaya di kota Surabaya. (*)

Editor: Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow