Lotus Art Courses: Wadah Anak hingga Remaja Berkarya Seni secara Natural dan Berprestasi
Sanggar seni di Surabaya ini menolak gambar rapi sebagai standar. Di Lotus Art Courses, anak-anak diajak menggambar dengan rasa, bukan meniru bentuk.
SURABAYA, SJP—Di Kota Surabaya, ada sebuah sanggar seni rupa anak dan remaja yang tampil beda. Ia tidak memaksa anak menggambar bunga dengan lima kelopak atau rumah berbentuk kotak dengan cerobong asap seperti kebanyakan gambar juara lomba anak-anak di brosur pusat perbelanjaan.
Di sanggar itu, anak justru didorong untuk mencoret dengan bebas, menabrakkan warna sesuai keinginan mereka, dan mengekspresikan isi kepalanya tanpa takut ada yang menyalahkan.
Namanya adalah Lotus Art Courses (LAC), sebuah sanggar seni untuk anak dan remaja yang sudah berdiri sejak 2019 di Surabaya. Namun di baliknya, ada satu nama yang membawa sanggar itu tumbuh secara konsisten hingga kini, yaitu I Putu Mahendra Dharmawan Putra.
Awal Kecintaan pada Dunia Gambar
Akrab dipanggil Putu, dia terlahir dengan darah kesenian yang mengalir dari keluarga dari Bali. Sejak kecil, dia sudah terbiasa mencoret apa saja yang ada disekitarnya, mulai dari secarik kertas, dinding rumah, bahkan layar televisi.
"Dari kecil saya suka banget gambar dimana saja. Coret-coret hingga bikin prakarya dari kertas, kardus bekas, pokoknya tangan harus bergerak terus," ucap Putu, Sabtu (24/7/2025).
Minatnya yang besar membuatnya mulai menekuni belajar seni rupa secara non-akademis sejak 2008 dan merupakan jebolan dari sanggar Taman Budaya Jawa Timur. Pada masa kecilnya, Putu telah rutin mengikuti pameran dan kompetisi seni.
Sejak umur 10 tahun, Putu sudah mencicipi panggung kompetisi global. Selama masa sekolah, dia mengoleksi 9 gelar juara lomba tingkat internasional, dan aktif berpameran di berbagai ajang seni rupa anak tingkat regional dan nasional, termasuk di Galeri Nasional Jakarta.
Ketika beranjak remaja, Putu tidak ragu mengambil keputusan besar dengan mulai menekuni dunia seni rupa sebagai jalan hidupnya. Dia melanjutkan pendidikan formal di SMK Negeri 12 Surabaya (SMSR Surabaya) jurusan Seni Lukis, lalu kuliah di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Ketika masih kuliah semester 6, tepatnya tahun 2019, Putu mulai merintis sebuah sanggar seni. Bukan sekadar tempat les menggambar, tapi sebuah ruang yang ingin ia isi dengan nilai-nilai kebebasan, kejujuran artistik, dan keberanian untuk jadi diri sendiri.
"Awalnya ide mendirikan sanggar itu karena mencoba melihat peluang dan peta persaingan," ungkapnya.
"Namun lebih dari itu, ada keresahan yang saya lihat dilapangan, mengingat semasa kecil dan belajar bagaimana seharusnya karya seorang anak itu di apresiasi," imbuh Putu.
Lotus Art Courses sebagai Wadah yang Bebas
Putu melihat bahwa banyak metode dalam mengajarkan anak untuk menggambar itu harus memiliki pola dan rapi. Namun baginya, karya seni anak itu lahir dari proses yang tidak selalu bersih, lurus, atau rapi.
"Karya anak itu bukan soal rapi. Karena rapi bukan satu-satunya indikator. Menilai karya harus pakai perpaduan antara rasa dan mengukur secara teknis sekaligus," ujarnya.
Pendekatan itulah yang menjadi dasar filosofi LAC. Di sanggar itu, tak ada standar baku soal bentuk atau warna. Anak-anak bebas menggunakan intuisi mereka. Para pengajar justru mendampingi untuk menggali karakter visual setiap anak, bukan memaksakan satu gaya menggambar tertentu.
"Kasihan kalau anak-anak Indonesia tidak jadi dirinya sendiri. Saya lihat potensi mereka, dan saya bantu mengembangkannya secara personal, bukan membentuk mereka sesuai standar tertentu," ujar Putu.
Prestasi Nasional dan Internasional
Kini, enam tahun sejak pertama kali berdiri, Lotus Art Courses telah melahirkan banyak anak muda berbakat yang berprestasi di panggung seni nasional dan internasional. Beberapa murid berhasil menembus ajang bergengsi seperti: ARTJOG Kids (2023, 2024, 2025), UOB Painting of The Year (2024), Kids Biennale di Galeri Nasional Jakarta (2025), beragam pameran lain (Nasional-Regional).
Tak hanya itu, anak-anak LAC juga mencatat total 36 kemenangan lomba seni rupa internasional yang secara rutin setiap bulannya diikuti sejak tahun 2022 dari berbagai negara di Asia, Amerika, hingga Eropa.
"Puji syukur, pendekatan kami yang membebaskan justru terbukti berhasil. Anak-anak bisa bicara lewat karya, dan itu diakui dunia," ujar Putu.
Kolaborasi Internasional dan Proyek Seni Non-Profit
Selain perlombaan, LAC juga rutin menggelar proyek-proyek seni yang tidak berorientasi profit, melainkan edukasi dan kolaborasi lintas budaya. Putu terinspirasi dari model kompetisi seni anak luar negeri yang lebih humanis dan mendidik.
"Kami coba hadirkan nuansa itu di Indonesia. Bukan lomba yang menekan anak, tapi ruang bermain dan belajar lewat seni," katanya.
LAC telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti: Konsulat Jenderal Jepang, Amerika, dan Australia di Surabaya, Beragam Pusat Kebudayaan, seperti Wisma Jerman dan Institut Français Indonesia (IFI).
"Kami di tahun 2024 juga berkolaborasi dengan Vinautism Art Gallery dalam penyelenggaraan ajang ARTKIDS yang dibuka oleh 5 perwakilan negara," terangnya.
"Sementara dalam waktu dekat ini, kami juga akan berpartisipasi pada ajang Asean Fashion Festival di Jakarta, serta berkolaborasi dengan Orasis Art Space dalam proyek seni inovatif lain untuk tahun 2025," tambah Putu.
Bagi Putu, tujuan terbesar dari LAC bukanlah mencetak “anak juara”, tetapi menciptakan anak-anak yang sadar akan ekspresi dan bangga pada proses mereka sendiri.
"Yang penting bukan menang atau kalah, tapi sejauh mana anak itu mengenali dirinya lewat karya. Kalau mereka bisa jujur dan percaya diri, itu prestasi sesungguhnya," tutupnya. (adv)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

