Lotus Art Courses Hadirkan Ruang Dialog Imajinasi Anak Lewat Biennale Exhibition di Jantung Kota Pahlawan

Lotus Art Courses menempatkan pameran ini sebagai ruang yang menepis anggapan bahwa karya anak harus rapi dan seragam, dengan menonjolkan keunikan, keberagaman warna, serta cerita personal tiap anak sebagai kekuatan utama karya seni mereka.

12 Jan 2026 - 15:00
Lotus Art Courses Hadirkan Ruang Dialog Imajinasi Anak Lewat Biennale Exhibition di Jantung Kota Pahlawan
Para peserta pameran berpose bersama sembari membawa trofi, di hari pertama gelaran 2nd Lotus Art Courses Biennale Exhibition 2026 di Galeri Merah Putih, Alun-Alun Surabaya. (Lotus Art Courses for SJP)

SURABAYA, SJP — Selama tiga hari, Galeri Merah Putih di kawasan Alun-Alun Surabaya dipenuhi langkah pengunjung yang datang silih berganti, menyusuri dinding galeri berisi warna berani dan bentuk jujur khas karya anak-anak, diiringi tawa, obrolan keluarga, dan diskusi seni.

Suasana itu hidup dalam pameran siswa Lotus Art Courses (LAC), tepatnya di edisi kedua dari Biennale Exhibition 2026, berlangsung sejak 10 hingga 12 Januari sebagai perayaan imajinasi anak yang disambut secara terbuka oleh ruang publik di pusat kota.

Ruang Dialog Imajinasi Anak dan Masyarakat

Founder Lotus Art Courses, I Putu Mahendra, menyebut pameran kali ini sebagai agenda rutin yang selalu hadir dengan semangat baru di setiap awal tahun genap. Bagi LAC, pameran bukan hanya penanda kalender seni, tetapi ruang dialog antara dunia anak dan masyarakat luas.

“Pameran ini tidak hanya sebagai catatan kalender seni, tapi kami hadir sebagai ruang dialog antara pemikiran dan imajinasi anak dengan masyarakat secara luas,” ujar Putu pada hari terakhir pameran, Senin (12/1/2026).

Tema besar “Eksplorasi dan Kreativitas Anak” menjadi benang merah seluruh karya yang ditampilkan. Tema tersebut diterjemahkan secara utuh, tidak hanya melalui lukisan yang tergantung di dinding, tetapi juga lewat tata ruang, dekorasi, hingga narasi kuratorial yang menyertai setiap sudut pameran.

"Value dari pameran ini kami harapkan benar-benar maksimal. Tidak hanya sekadar menggantungkan karya di dinding. Ada dekorasi, ada nilai, ada kata-kata yang disusun oleh praktisi dan diterjemahkan agar bisa diterima dengan baik oleh masyarakat," jelasnya.

Di balik 97 karya yang terpajang, terdapat proses kurasi yang panjang. Putu Mahendra menjelaskan bahwa hampir 200 karya masuk dalam tahap submisi. Karya yang datang tidak hanya dari Surabaya, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, baik siswa offline maupun online.

“Linkup peserta holistik. Ada dari Surabaya, luar Surabaya, Samarinda, Bali, Bekasi. Ini agenda besar Lotus yang memang kami gelar dua tahun sekali,” jelas Putu.

Tidak hanya cakupan lokasi yang luas, rentang usia peserta juga cukup beragam, yakni melibatkan anak berusia 5 hingga 17 tahun. Hal itu mencerminkan keragaman karya, mulai dari coretan awal yang spontan hingga karya yang lebih matang secara konsep dan teknis.

Seluruhnya kemudian melalui proses seleksi ketat oleh kurator, yakni M. Bayu Tejo Sampurno, Dosen Senior Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaysia untuk memilih karya-karya terbaik.

"Peserta mengirimkan karyanya untuk submisi, kemudian kurator memproses dan melakukan seleksi. Dari hampir 200 karya, terpilih 97 karya terbaik yang dipamerkan di edisi kali ini," ungkapnya.

Penilaian tidak berhenti pada aspek teknis semata. Pesan yang disampaikan anak, keberanian bereksplorasi, serta kejujuran ekspresi menjadi pertimbangan utama.

"Kami melihat bagaimana anak menyampaikan pesan secara maksimal. Teknis-artistik dipertimbangkan, konsep, warna, bentuk, originalitas, dan kreativitas juga sangat berpengaruh,” tambah Putu.

Tidak Seragam Adalah Identitas Karya Anak

Lotus Art Courses dengan sadar menepis anggapan bahwa karya anak harus rapi, seragam, dan mengikuti pola tertentu. Justru sebaliknya, keunikan tiap anak menjadi kekuatan utama pameran ini.

"Bukan karya-karya yang seragam, bukan karya rapi-rapian. Setiap anak punya warna, bisa bercerita, dan punya makna tersendiri. Itu yang terpenting," kata Putu.

Pendekatan itu menjadikan pameran sebagai sarana edukasi, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi masyarakat dalam memahami dan mengapresiasi karya seni anak secara lebih utuh.

Setiap peserta menampilkan satu karya dengan ukuran minimal A4 dan maksimal A3. Meski berbeda latar belakang, seluruh karya bertemu dalam satu bahasa yang sama, yaitu bahasa visual anak yang jujur dan spontan.

Disisi lain, Pemilihan Galeri Merah Putih di kawasan Alun-Alun Surabaya sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Lokasi strategis di pusat kota dan waktu pelaksanaan di akhir pekan membuat pameran ini mudah diakses publik.

“Ini strategis, pusat kota. Kami pilih weekend supaya lebih ramai dan pengenalan karya anak-anak bisa lebih maksimal,” ujar Putu.

Sebagai bentuk apresiasi, setiap peserta memperoleh sertifikat, katalog cetak, dan trofi sebagai wujud apresiasi dan pengalaman awal yang berharga bagi perjalanan seni mereka.

Selain pameran utama, rangkaian kegiatan juga dihadirkan untuk memperkaya pengalaman belajar seni. Pada hari kedua gelaran pada 11 Januari, digelar workshop pembuatan gantungan kunci dari aluminium dengan teknik tekan.

Sementara di hari terakhir, pada 12 Januari berlangsung sesi artist talk bersama dua peserta pameran yang disiarkan secara langsung melalui akun Instagram Lotus Art Courses.

Apresiasi Karya Anak Dengan Cara yang Tepat

Bagi Lotus Art Courses, pameran tersebut bukan tujuan akhir. Lebih dari itu, acara itu diharapkan menjadi sarana edukasi tentang cara memandang dan mengapresiasi karya anak secara menyeluruh. Putu Mahendra menegaskan keyakinannya pada kekuatan bahasa visual anak.

“Bahasa visual anak adalah karya yang sangat naif dan selalu menarik untuk dibahas. Mereka membawa kita menyelam ke pemikiran polos yang dipadukan dengan teknik berkarya yang beragam dan indah," ucapnya.

Ia berharap pameran itu menjadi pengalaman seni yang positif, baik bagi para peserta maupun pengunjung, sekaligus menumbuhkan keberanian anak untuk terus belajar dan mengeksplorasi diri melalui seni rupa. (***) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow