Longsor Masih Jadi Ancaman Terbesar di Kota Batu

Untuk menekan risiko, BPBD mengintensifkan mitigasi berbasis masyarakat. Program tersebut meliputi pemetaan daerah rawan, pemasangan sistem peringatan dini, dan pelatihan kesiapsiagaan bagi warga serta relawan di desa-desa pegunungan.

13 Nov 2025 - 18:39
Longsor Masih Jadi Ancaman Terbesar di Kota Batu
Kondisi longsor yang terjadi di Kota Batu (Dok/Arul/SJP)

KOTA BATU, SJP – Ancaman tanah longsor masih membayangi Kota Batu. Berdasarkan data Pusdalops BPBD hingga 13 November 2025, tercatat 173 peristiwa bencana terjadi di wilayah ini, dan tanah longsor mendominasi dengan 105 kejadian. Jumlah tersebut jauh melampaui bencana lain seperti angin kencang (37 kejadian) dan banjir (20 kejadian).

Plt Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko pada Kamis (13/11/2025) menjelaskan bahwa secara geografis wilayah Kecamatan Bumiaji menjadi titik paling rawan. Dari total kejadian bencana di Kota Batu, 84 di antaranya terjadi di Bumiaji, disusul Kecamatan Batu 64 kejadian dan Kecamatan Junrejo 25 kejadian.

“Bumiaji berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah miring, sehingga sangat rentan terhadap longsor, terutama saat curah hujan tinggi,” ujarnya.

Suwoko menambahkan, intensitas hujan yang meningkat sejak awal November turut memicu peningkatan potensi longsor. Beberapa kejadian bahkan menutup akses jalan warga akibat material tanah dan batu. Sepanjang tahun ini, BPBD mencatat 51 rumah rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi, serta sejumlah infrastruktur vital ikut terdampak.

Meski kerugian material cukup besar, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa. Hanya satu warga dilaporkan luka, sedangkan 199 orang terdampak dan 24 warga sempat mengungsi.

Untuk menekan risiko, BPBD mengintensifkan mitigasi berbasis masyarakat. Program tersebut meliputi pemetaan daerah rawan, pemasangan sistem peringatan dini, dan pelatihan kesiapsiagaan bagi warga serta relawan di desa-desa pegunungan.

“Jadi empat sekolah, sembilan kios, serta jaringan air bersih, listrik, dan telekomunikasi juga mengalami kerusakan. Warga juga harus peka terhadap tanda-tanda alam seperti retakan tanah, pohon miring, atau aliran air keruh dari lereng. Itu pertanda awal longsor yang harus segera dilaporkan,” tegas Suwoko.

Meski begitu, berdasarkan catatan BPBD indeks risiko bencana Kota Batu turun dari 81,0 di 2023 menjadi 75,21 di 2024 dan itu tidak membuat Pemkot berhenti mengingatkan bahwa potensi longsor masih tinggi mengingat curah hujan diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow