Lodho Ayam Kampung Bapak’e, Kuliner Khas Lereng Gunung Kelud
Lodho Ayam Kampung Bapak’e di lereng Gunung Kelud Kediri terkenal dengan cita rasa gurih pedas, disajikan bersama urap dan trancam, dimasak dengan tungku tradisional, dan ramai dikunjungi wisatawan.
SUARAJATIMPOST.COM - Jika Anda berkesempatan mengunjungi kawasan wisata Gunung Kelud, sempatkan mencicipi salah satu hidangan khas lereng gunung tersebut, yaitu Lodho Ayam Kampung Bapak’e milik Ninik Suwarni. Warung ini berada di Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Usaha kuliner yang dikelola oleh Ninik sudah beroperasi sejak tahun 2015 dan dikenal luas karena menyajikan lodho ayam kampung dengan tampilan yang berbeda dari biasanya.
Umumnya, lodho ayam disajikan dengan kuah santan kental berwarna kuning. Namun, di tempat ini, lodho ayam kampung dihidangkan bersama urap dan trancam, dua macam sayuran tradisional khas Jawa yang disajikan segar.
Keunikan lainnya terletak pada proses memasak yang tetap mempertahankan cara tradisional menggunakan tungku kayu bakar. Cara ini dipercaya membuat bumbu lebih meresap dan daging ayam kampung menjadi empuk, tetapi tetap mempertahankan cita rasa pedas dan gurih yang khas.
Salah satu pelanggan yang berasal dari Tulungagung, Asmaul Husna, mengatakan kepuasannya setelah menikmati hidangan lodho ayam di tempat tersebut.
“Rasanya gurih, pedasnya meresap, dan tekstur dagingnya empuk meski pakai ayam kampung. Suasananya juga sejuk karena berada di lereng Gunung Kelud,” ujarnya, Senin (7/7/2025).
Warung milik Ninik tidak hanya diminati oleh warga Kediri, tetapi juga sering dikunjungi oleh pelanggan dari berbagai kota di Jawa Timur dan sekitarnya. Bahkan beberapa pejabat daerah, artis, hingga tokoh agama seperti Gus Iqdam dari Blitar, pernah datang mencicipi kuliner di warung ini.
Menurut Ninik, kunci utama kelezatan masakan yang ia sajikan adalah resep turun-temurun yang diwariskan keluarganya serta proses memasak secara tradisional.
"Kami memang sengaja menggunakan tungku agar bumbunya lebih meresap dan rasa ayamnya lebih nikmat," kata Ninik.
Selain rasanya yang khas, konsep penyajian di warung ini juga sederhana, yakni prasmanan. Pengunjung dipersilakan mengambil nasi, ayam lodho, serta urap sesuai dengan selera mereka. Untuk harga satu porsi, cukup terjangkau, hanya Rp21.000.
Dalam sehari, warung ini dapat menghabiskan sekitar 20 ekor ayam kampung. Jumlah tersebut bahkan bisa meningkat menjadi 25 hingga 30 ekor ayam saat akhir pekan atau musim liburan tiba.
Lodho Ayam Kampung Bapak’e menjadi bukti bahwa masakan tradisional dengan resep asli dan cara memasak alami tetap diminati oleh masyarakat hingga saat ini. (**)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

