Dari Pengajian ke Pemeriksaan Kesehatan, NU Pujon Hadirkan Layanan Kesehatan Berbasis Majelis Keagamaan

Pengajian rutin tak lagi sekadar menjadi ruang ibadah dan silaturahmi. Di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, majelis keagamaan Nahdlatul Ulama kini menjelma sebagai pintu masuk layanan kesehatan dasar bagi para lansia dan warga Nahdliyin.

28 Dec 2025 - 15:23
Dari Pengajian ke Pemeriksaan Kesehatan, NU Pujon Hadirkan Layanan Kesehatan Berbasis Majelis Keagamaan
Petugas kesehatan melayani pemeriksaan kesehatan dasar bagi jemaah lansia dalam program kolaborasi Klinik Madina dan LKNU Pujon. (Foto : Hafid/SJP)

MALANG, SJP – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, terus memperkuat layanan kesehatan masyarakat melalui pendekatan berbasis majelis keagamaan. Berkolaborasi dengan Muslimat NU di tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) serta Klinik Rawat Inap Madinah, NU menghadirkan pemeriksaan kesehatan dasar yang menyatu dengan kegiatan pengajian rutin.

Staf Ahli Klinik NU Madinah Pujon, Ulamai Soikodin, menjelaskan bahwa setiap MWC NU pada dasarnya memiliki kewajiban membangun layanan kesehatan bagi warganya. Kewajiban inilah yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk kolaborasi nyata antara LKNU dan Muslimat NU.

“Kami mengemas layanan kesehatan melalui kegiatan pengajian rutin bulanan. Setiap pengajian selalu disertai pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan tensi dan berat badan,” ujar pria yang akrab disapa Odin, Minggu (28/12/2025).

Menurutnya, pemeriksaan lanjutan seperti cek gula darah dilakukan secara insidental pada momen tertentu. Peserta kegiatan berasal dari anggota Muslimat NU se-Kecamatan Pujon, dengan prioritas utama para lanjut usia (lansia).

Kegiatan biasanya diawali dengan pembacaan istighotsah oleh kelompok Muslimat NU dari masing-masing ranting. Setelah itu, peserta mengikuti senam lansia ringan yang disesuaikan dengan kondisi fisik, sebelum ditutup dengan pengajian.

“Dengan pendekatan seperti ini, para lansia merasa lebih nyaman. Mereka datang untuk beribadah dan bersilaturahmi, tetapi sekaligus bisa memeriksakan kondisi kesehatannya,” jelas Odin.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergilir, baik dari sisi lokasi maupun tenaga kesehatan. Dalam setahun, kegiatan ini berlangsung sekitar 10 kali pertemuan selama 10 bulan. Dari jumlah tersebut, empat pertemuan melibatkan tenaga kesehatan dari luar agar pelayanan bisa dirasakan lebih merata.

Odin menegaskan, program layanan kesehatan berbasis majelis ini bertujuan untuk melengkapi layanan kesehatan formal yang telah tersedia di puskesmas. Selama ini, masih banyak warga Nahdliyin, khususnya lansia, yang enggan memeriksakan kesehatannya secara rutin.

“Dengan kemasan keagamaan dan kebersamaan, hambatan psikologis itu bisa dikurangi. Lansia lebih terdorong hadir dan peduli terhadap kesehatannya,” katanya.

Program kolaborasi ini telah berjalan sekitar lima tahun. Pada masa awal pelaksanaan, jumlah peserta masih terbatas sekitar 100 orang. Kegiatan ini diprakarsai oleh ibu-ibu Muslimat NU dan didukung oleh dr. Taufik selaku pemilik fasilitas kesehatan.

Sejak 2024, Klinik Madinah Pujon resmi dihibahkan dan berada di bawah naungan NU. Meski demikian, pelayanan kesehatan berbasis majelis tetap berjalan secara berkelanjutan. Klinik yang berdiri sejak 1994 itu kini memiliki fasilitas rawat inap dengan kapasitas 10 tempat tidur yang terbagi dalam kelas VIP, Kelas I, dan Kelas II.

Ke depan, LKNU Pujon berharap layanan kesehatan berbasis majelis keagamaan ini dapat terus dikembangkan, tidak hanya sebatas pemeriksaan kesehatan dasar, tetapi juga layanan lain sesuai kebutuhan masyarakat.

“Harapannya, majelis tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga pusat khidmah NU dalam menjaga kesehatan umat,” pungkasnya. (*)

Editor : Danu

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow