Lewat The Magic of Colours, PERWAJATI Hadirkan Kisah Perempuan di Galeri Prabangkara

Puluhan perupa perempuan Jawa Timur yang tergabung dalam komunitas seni PERWAJATI menuturkan kisah hidup, ketekunan, dan harapan lewat warna dalam pameran The Magic of Colours di Galeri Prabangkara.

29 Jan 2026 - 18:58
Lewat The Magic of Colours, PERWAJATI Hadirkan Kisah Perempuan di Galeri Prabangkara
Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Hariyono, berkeliling galeri meninjau dan mengapresiasi karya perupa perempuan dalam pameran The Magic of Color di Galeri Prabangkara (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Seni kerap menjadi ruang sunyi tempat perasaan berbicara. Bagi perempuan, kanvas bukan sekadar media rupa, tetapi juga bisa menjadi ruang berdamai dengan diri, usia, peran, dan kehidupan. Dari tangan-tangan perempuan inilah warna menemukan maknanya.

Itulah semangat yang coba diangkat dalam pameran lukisan bertajuk The Magic of Colours yang digelar oleh Perupa Wanita Jawa Timur (Perwajati) di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, pada 24–31 Januari 2026. 

Sebanyak 60 karya dari 50 perupa perempuan dipamerkan, tidak hanya menghiasi ruang galeri yang terletak di jantung Kota Surabaya itu, melainkan juga menghadirkan cerita hidup para pembuatnya dalam goresan warna dan gaya.

Warna sebagai Daya Hidup Perempuan

Ketua Pelaksana Pameran, Irdina Larasanti, menyebut pameran tersebut lahir dari keyakinan bahwa warna memiliki kekuatan lebih dari sekadar visual, terlebih warna-warna dalam pameran kali ini tertuang dari tangan-tangan perempuan yang penuh cerita.

"The Magic of Colours itu artinya warna, baik hitam maupun putih, punya kekuatan magis, spiritual, dan motivasi," ujar Iridina saat dikonfirmasi pada Kamis (29/1/2025).

Irdina sendiri bukan perupa yang lahir dari bangku pendidikan seni. Latar belakang pendidikannya justru ekonomi. Namun perjalanannya di dunia budaya sejak kuliah hingga menetap di Ubud, Bali, pada 1987, membawanya menekuni seni lukis secara otodidak. Dari sana, ia menjual karya, memasok galeri, dan terus belajar hingga tergabung dalam Perwajati.

Menurutnya, lukisan mampu mengubah suasana ruang sekaligus batin. Dinding kosong terasa berbeda ketika diberi karya, karena lukisan menyimpan energi, bahkan diyakini memiliki unsur feng shui, sebuah m ilmu tata letak Tiongkok kuno untuk mencapai harmoni serta mendapat aliran energi positif.

"Warna itu bisa membangkitkan motivasi. Orang yang putus asa bisa menjadi lebih positif setelah melihat karya," jelasnya.

Pameran tersebut juga menjadi ruang penting bagi perempuan, terutama mereka yang memasuki masa pensiun atau menjalani peran domestik, agar tetap aktif dan terbebas dari tekanan psikologis yang jarang disorot.

"Perempuan yang aktif melukis itu jauh dari stres. Hidup terasa lebih indah dan bisa menerima keadaan," ungkap Irdina.

Kualitas Karya Perempuan Tidak Kalah Indah

Pameran The Magic of Colours juga mendapat apresiasi dari pemerintah. Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, Deddy Hariyono, menyebut pameran yang sepenuhnya diikuti oleh perempuan sebagai hal yang jarang dan patut mendapat apresiasi serta dukungan.

"Pameran seni, apalagi di Surabaya itu mungkin sudah bukan pemandangan baru ya, tapi sangat jarang jika perupanya itu para perempuan bahkan ibu rumah tangga yang bisa melukis dan menjadi seniman, itu menarik dan kami dukung," ucap Deddy.

Dirinya mengaku terkesan setelah melihat langsung karya-karya yang dipamerkan. Menurutnya, kualitas lukisan para perupa perempuan tidak kalah dengan seniman profesional yang dikenal didominasi oleh laki-laki.

"Hasil karyanya sangat bagus sekali, ini bukti bahwa perempuan juga bisa menekuni dunia kesenian," tuturnya.

Ia juga menyoroti keberagaman media yang digunakan, mulai dari kanvas, kertas, hingga bahan daur ulang seperti goni. Hal tersebut dinilai sebagai bentuk inovasi sekaligus kontribusi seni terhadap isu lingkungan.

Ke depan, UPT Taman Budaya Jawa Timur berkomitmen untuk membuka ruang dan peluang fasilitasi dan kerja sama yang lebih luas kepada seluruh penggiat budaya guna memajukan pariwisata daerah, selama kegiatan itu memenuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku.

"Kalau konsepnya sudah jadi, tampilannya bagus, kita di lingkungan UPT Taman Budaya Jawa Timur, termasuk salah satunya di Gakeri Prabangkara pasti fasilitasi dan beri dukungan," tandas Deddy.

Semangat Seni yang Tumbuh dari Keseharian

Di antara puluhan perupa perempuan, kisah kakak-beradik asal Buduran, Sidoarjo, menjadi potret nyata bagaimana seni tumbuh dari keseharian. Mereka adalah Siti Ma’rifah dan Nur Rochima yang kini kerap menghasilkan karya di sela pekerjaan mereka sebagai penjahit.

Siti Ma’rifah sendiri membawa lukisan bergambar pemandangan, menariknya perupa yang memiliki julukan RIF itu mengaku bahwa karya yang ia pamerkan di pameran kali ini bukanlah yang paling ia sukai.

"Sebenarnya saya nggak begitu suka lukisan ini, tapi karena ada persyaratan harus menggunakan bingkai dan yang ada bingkainya ya cuma ini," ucap Ma'rifah.

Kendati demikian, lukisan tersebut menyimpan cerita dari perjalanan panjangnya dalam mengenal dunia seni rupa, dari fase dirinya kebingungan hingga mulai mahir dan memahami teknik.

"Jadi bisa dibilang ya lukisan ini proses dari belum pinter sampai lumayan pinter lah," katanya.

Sementara itu, saudarinya yakni Nur Rochima, juga membawa karya dengan bertemakan alam dan pegunungan. Berbeda dengan Ma'rifah, Rochima cukup senang dengan lukisan yang ia bawa.

"Ya itu karya juga prosesnya sama lamanya, memang saya kerjakan di sela-sela menjahit, karena kita juga memang basicnya jahit," jelasnya.

Bagi mereka, pameran kali ini adalah yang kedua setelah sebelumnya tampil di Jatim Expo. Meski merasa karyanya belum sepenuhnya matang, keikutsertaan dalam pameran memberi keberanian dan semangat untuk terus berkarya.

"Harapannya kalau ada lagi, saya mau menampilkan karya-karya saya lagi, yang lebih bagus tentunya," tukas keduanya.

Pameran The Magic of Colours bukan sekadar etalase lukisan. Ia menjadi perayaan atas kegigihan perempuan, atas warna-warna yang lahir dari rumah, usia, kesibukan, dan harapan. Di Galeri Prabangkara, perempuan tidak hanya melukis kanvas, tetapi juga menorehkan kisah hidup mereka sendiri. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow