Lewat Lagu “Rukun Sama Teman”, Siswa SD di Bondowoso Tanamkan Toleransi dan Anti-Perundungan
Kegiatan kokurikuler Cinta Budaya Lokal di Bondowoso menjadi momentum edukasi karakter, mengajak siswa menghargai perbedaan dan membangun persahabatan demi menciptakan sekolah aman dan nyaman.
BONDOWOSO, SJP – Gerimis tipis yang turun di pagi hari tak menyurutkan semangat sembilan siswa SDN dari Gugus 1 Kecamatan Bondowoso. Dengan balutan baju adat dari beragam suku, mereka menari penuh keceriaan di Alun-alun Alun-alun Raden Bagus Assra Ki Ronggo, Sabtu (14/2/2029).
Lewat lagu bertajuk Rukun Sama Teman, anak-anak itu menyampaikan pesan sederhana namun kuat, yakni, sekolah harus menjadi ruang yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan.
Penampilan tersebut menjadi pembuka kegiatan Pembelajaran Kokurikuler Cinta Budaya Lokal Bondowoso bertema “Gebyar Tari Totta’an Dhara” yang diikuti 1.774 siswa dari sembilan sekolah dasar. Di antaranya SDN Dabasah 1, 2, 3, 4, 5, SDN Tamansari 1, SDN Tamansari 2, SDK Indra Siswa, dan SD Alifya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto mengatakan, lagu Rukun Sama Teman merupakan ciptaan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti. Lagu tersebut dirancang untuk menanamkan karakter toleransi, persahabatan, dan sikap anti-perundungan di lingkungan sekolah.
“Liriknya sederhana, tetapi sarat makna. Anak-anak diajak hidup damai dalam keberagaman, menghargai perbedaan fisik maupun kemampuan, serta menjauhi konflik,” ujarnya.
Lebih dari sekadar lagu, pesan yang dibawakan mengandung nilai penting. Anak-anak diajarkan bahwa setiap individu unik dan perbedaan adalah anugerah Tuhan yang harus dihormati.
"Pertengkaran dan saling menyakiti ditegaskan tidak membawa manfaat apa pun. Sebaliknya, memiliki banyak teman akan membuat anak merasa aman, tenang, dan percaya diri," ucap mantan staf ahli Bupati Bondowoso ini.
Kampanye ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa. Lagu tersebut kini kian populer dinyanyikan di berbagai kegiatan pendidikan sebagai sarana mempererat relasi antar siswa.
“Kami terus berupaya menekan terjadinya bullying. Harapannya tidak ada lagi perundungan pada anak-anak kita. Nilai anti-bullying itu harus melekat di semua pelajaran,” tegas Taufan.
Di bawah langit yang masih berembun, gerakan kecil sembilan anak itu menjadi simbol besar, bahwa persahabatan dan saling menghargai harus tumbuh sejak bangku sekolah dasar.
"Dari Bondowoso, pesan itu menggema dan menegaskan, sekolah tanpa bullying bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama," pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

