Lestarikan Budaya, Warga Blitar Ini Tetap Semangat Tekuni Pembuatan Wayang Kulit
Adi Purwanto, warga Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar tetap bersemangat menekuni pembuatan wayang kulit. Alasannya, karena ingin melestarikan budaya dan membuat wayang kulit juga merupakan hobby atau kegemarannya.
BLITAR, SJP - Berkembangnya kebudayaan, tak harus meninggalkan budaya leluhurnya. Hal itulah yang dilakukan Adi Purwanto warga Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar dalam menjaga dan melestarikan budaya Jawa agar tidak tergerus perkembangan zaman modern yang serba digital.
Melestarikan budaya pewayangan, menjadi obor semangat bagi Adi memilih jalan hidup sebagai perajin wayang kulit. Keahliannya membuat wayang kulit memang sudah diasahnya sejak masih duduk kelas 3 sekolah dasar (SD) tepatnya di tahun 1983.
"Prosesnya itu mengikuti jejak nenek sejak tahun 1983 saat saya duduk di bangku kelas 3 SD," terang Adi Purwanto, saat ditemui di rumahnya, Ahad (13/7/2025).
Ungkapan "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" sepertinya sangat tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Adi Purwanto. Berawal dari pengaruh sang nenek yang dikenal luas dalam dunia pewayangan, Adi mewarisi bakal seniman itu dan melanjutkannya. Menurutnya, keahlian ini diperoleh setelah proses panjang yang tidak mudah.
Ada tiga alasan yang membuat Adi hingga kini tetap tekun membuat wayang kulit. Pertama, untuk melestarikan budaya dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah "nguri-nguri budaya". Lalu, membuat wayang kulit juga sebagai hobby atau kegemarannya sejak lama dan terakhir untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau "sandang pangan".
"Pertama untuk nguri-nguri budaya, lalu hobby dan untuk sandang pangan," ucap dia.
Harga Bervariasi Sesuai Pesanan
Kerajinan wayang kulit yang dibuat Adi ini berbahan dasar dari kulit kambing, sapi dan kerbau. Proses pembuatan diawali dengan menjemur kulit hewan terlebih dahulu, setelah kering dikerok atau ditipiskan, lalu dibuat pola dan ditatah. Selanjutnya dilakukan pewarnaan dan tahap terakhir siap untuk dikirim kepada pelanggan.
Dalam sebulan, ia mampu membuat 4-5 wayang kulit. Namun, untuk jangka waktu pembuatan wayang kulit bervariasi, tergantung dengan tingkat kesulitan dan tokoh pewayangan yang dibuat.
"Pada tahun 1983 saya menjual seharga Rp7.500 dan sekarang Rp1.750.000 per satu tokoh pewayangan. Naik 10 kali lipat ya, sebenarnya saya juga tidak mematok harga. Biasanya tergantung pemesan, misalnya punya anggaran berapa saya menyesuaikan," kata Adi.
Adi Purwanto mengaku pernah melayani pesanan wayang kulit dari dalang terkenal di Jawa Timur, seperti Sukron Suwondo, Minto Darsono dan lain sebagainya.
Selama ini, pesanan kerajinan wayang kulit milik Adi Purwanto tidak hanya dipesan oleh dalang, tetapi juga dari kalangan perseorangan hingga organisasi kesenian. Ia pernah mengirim wayang kulit ke Riau, Lampung, Kalimantan hingga luar negeri, yakni ke Belanda.
"Saya juga pernah dalang juga ya, karena memang sejak kecil sudah kenal dengan kesenian ini. Tapi di tahun 2019 kalau tidak salah, saya memutuskan untuk berhenti dan fokus membuat wayang kulit saja. Pengiriman ke luar negeri waktu itu dititipkan ke TKI/TKW yang berangkat," tutur dia.
Promosi Lewat Media Sosial
Kecintaannya di kesenian pewayangan sudah melekat dan mendarah daging. Di era zaman modern seperti saat ini, Adi mencoba peruntungan dengan mempromosikan wayang kulit yang ia buat melakukan media sosial Tik Tok. Terbukti, selama setahun terakhir, sudah ada beberapa pesanan wayang kulit dari luar daerah hingga luar negeri.
Awalnya ia mengetahui media sosial Tik Tok dari anak sulungnya. Kemudian, dibantu dengan sang anak ia mencoba mempromosikan wayang kulit yang ia buat dengan cara live di akun Tik Tok.
"Kalau pakai Tik Tok itu baru setahunan, hasilnya sangat menguntungkan. Produk yang kami buat bisa dijangkau dari segala arah," ungkapnya.
Adi menambahkan kerajinan wayang kulit yang ia buat mampu menumbuhkan minat kalangan muda untuk belajar membuat wayang kulit yang merupakan warisan leluhur. Sudah beberapa kali ia mendapat kunjungan dari anak muda yang sengaja datang ke rumahnya untuk belajar membuat wayang kulit. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

