Lawan Stigma Minat Baca Rendah, Perpustakaan Surabaya Tembus 474 Ribu Pengunjung

Perpustakaan Balai Pemuda mencatat 72.148 pengunjung, Perpustakaan Rungkut 19.341 pengunjung, Pojok Baca Digital (Pocadi) 1.391 kunjungan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 193.158 kunjungan, serta Mobil Perpustakaan Keliling sebanyak 138.611 pengunjung.

16 Jan 2026 - 18:47
Lawan Stigma Minat Baca Rendah, Perpustakaan Surabaya Tembus 474 Ribu Pengunjung
Masyarakat mengunjungi perpustakaan Balai Pemuda Surabaya (Istimewa)

SURABAYA, SJP – Di tengah stigma rendahnya minat baca di Indonesia, Kota Surabaya justru mencatat capaian signifikan. 

Sepanjang 2025, layanan perpustakaan yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Surabaya mencatat 474.140 kunjungan, menunjukkan geliat literasi yang kian menguat di tengah masyarakat Kota Pahlawan.

Angka tersebut menjadi sorotan tersendiri di saat berbagai lembaga internasional masih menempatkan literasi Indonesia pada posisi yang memprihatinkan. 

Data UNESCO melalui UNESCO Institute for Statistics (UIS) mencatat tingkat literasi orang dewasa Indonesia memang sudah mencapai sekitar 96 persen, namun itu baru sebatas kemampuan dasar membaca dan menulis, bukan kebiasaan membaca dan pemahaman bacaan mendalam yang ternyata masih tertinggal.

Hal itu tercermin dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, di mana skor literasi membaca siswa Indonesia berada di angka 359, jauh di bawah rata-rata negara OECD, tepatnya di angka 69 dari 80 negara.

Sebagian besar siswa Indonesia bahkan belum mencapai level minimum literasi fungsional. Kondisi itulah yang memperkuat anggapan bahwa persoalan literasi nasional bukan hanya soal bisa membaca, tetapi juga soal budaya dan minat membaca yang belum mengakar kuat.

Strategi Jemput Bola Dispusip Surabaya

Di tengah tantangan tersebut, Pemkot Surabaya memilih tidak menunggu perubahan dari pusat. Melalui Dispusip, strategi jemput bola digencarkan dengan memperkuat perpustakaan keliling dan layanan digital agar akses bacaan semakin dekat dengan warga.

Kepala Dispusip Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menegaskan penguatan layanan tidak lagi bertumpu pada gedung perpustakaan semata, melainkan pada pendekatan yang menyasar langsung aktivitas masyarakat.

"Saat ini kami memiliki dua layanan perpustakaan tetap, yaitu di Balai Pemuda dan Rungkut. Namun penguatan utama kami ada pada perpustakaan keliling dan layanan digital agar masyarakat dapat mengakses bacaan tanpa harus datang ke gedung perpustakaan," kata Yusuf, Jumat (16/1/2026).

Strategi tersebut dijalankan dengan pola waktu yang menyesuaikan ritme aktivitas warga. Pada pagi hari, mobil perpustakaan menyasar sekolah-sekolah, sementara siang hingga sore hari diarahkan ke taman kota dan ruang publik.

"Dengan pola ini, layanan perpustakaan bisa menjangkau anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum yang beraktivitas di ruang terbuka," jelasnya.

Data Dispusip Surabaya menunjukkan, dari total 474.140 kunjungan sepanjang 2025, 370.852 kunjungan didominasi kalangan pelajar. 

Rinciannya, Perpustakaan Balai Pemuda mencatat 72.148 pengunjung, Perpustakaan Rungkut 19.341 pengunjung, Pojok Baca Digital (Pocadi) 1.391 kunjungan, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 193.158 kunjungan, serta Mobil Perpustakaan Keliling sebanyak 138.611 pengunjung.

Tingginya angka kunjungan pada TBM dan mobil perpustakaan keliling menunjukkan bahwa minat baca warga muncul ketika akses bacaan didekatkan dengan aktivitas sehari-hari. Hal itu sekaligus menepis anggapan bahwa masyarakat malas membaca, sebab data justru menunjukkan respons tinggi saat layanan hadir di ruang publik.

Selain layanan keliling, Dispusip Surabaya juga memperkuat perpustakaan digital sebagai jawaban atas keterbatasan waktu dan mobilitas warga.

“Kami terus mengembangkan layanan perpustakaan digital sebagai alternatif bagi masyarakat yang tidak sempat datang langsung. Ini bagian dari upaya kami meningkatkan literasi secara berkelanjutan,” tuturnya.

Koleksi Buku Semakin Beragam

Untuk membangun kebiasaan membaca sejak dini, Dispusip Surabaya menambah koleksi bacaan anak, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Buku dongeng dan cerita bergambar diperbanyak agar anak-anak lebih tertarik mengenal dunia baca.

“Kami menambah buku anak seperti dongeng dan cerita bergambar agar anak-anak lebih tertarik membaca. Ini kami dukung dengan layanan yang ramah anak, baik secara langsung maupun digital,” imbuh Yusuf.

Tak hanya itu, Dispusip Surabaya juga memperkuat peran perpustakaan sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat melalui pendampingan manajemen, pengayaan koleksi, serta penyediaan referensi bacaan. 

Langkah tersebut dilakukan untuk membangun ekosistem literasi yang tidak bergantung pada satu titik layanan saja.

Sepanjang 2025, total koleksi buku cetak dan digital yang dimiliki Dispusip Surabaya mencapai 571.852 koleksi, terdiri dari 65.158 eksemplar buku cetak dan 1.902 judul ebook yang telah tersedia sejak 2024. Dari sisi ketersediaan bahan bacaan, Surabaya dinilai sudah sangat memadai untuk ukuran kota besar.

"Ke depan, kami akan terus memperkuat perpustakaan keliling, layanan digital, serta penataan manajemen layanan agar perpustakaan semakin mudah diakses dan menyenangkan bagi masyarakat," pungkas Yusuf.

Dengan capaian ratusan ribu kunjungan dan strategi jemput bola yang konsisten, Surabaya kini berada di barisan depan kota-kota yang berupaya mematahkan stigma rendahnya minat baca di Indonesia. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow