RSUD dr. Koesnadi Bondowoso Perkuat Surveilans TBC, Fokus pada Pengawasan Obat

RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso perkuat surveilans dan pengawasan obat untuk tekan TBC. dr. Yus Priyatna sebut TBC bisa sembuh jika pasien patuh minum obat. Kasus kematian masih terjadi akibat keterlambatan penanganan.

03 Sep 2025 - 20:01
RSUD dr. Koesnadi Bondowoso Perkuat Surveilans TBC, Fokus pada Pengawasan Obat
Dari kiri ke kanan : Agus Winarno Plt Kepala Dinas Kesehatan, dr Yus Priyatna Direktur RSUD dr H Koesnadi, Ahmad Inspektur Inspektorat, Fathur Rozi Sekda Bondowoso dan Wakil Bupati Bondowoso, As'ad Yahya Syafi'i saat dikonfirmasi perihal penanganan TBC di Wisma Wakil Bupati (Foto : Rizqi/SJP)

BONDOWOSO, SJP – Direktur RSUD dr  H Koesnadi Bondowoso, dr  Yus Priyatna menegaskan komitmennya bersama Dinas Kesehatan dan seluruh Puskesmas dalam memperkuat upaya penanganan Tuberkulosis (TBC). 

Hal ini disampaikannya saat memberikan keterangan mengenai perkembangan kasus TBC di Bondowoso tahun 2025, usai mengikuti entry meeting Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pemeriksaan kinerja pendahuluan dan penuntasan TBC di Wisma Wakil Bupati Bondowoso, Rabu (3/9/2025).

Menurut dokter spesialis paru ini, sistem surveilans dan pencatatan di Bondowoso saat ini sudah berjalan cukup baik. 

“Kita bekerja untuk melakukan surveilan ke semua puskesmas, ke semua masyarakat, dan termasuk pencatatan kita cukup baik. Jadi saat ini data di 4 rumah sakit swasta dan 25 puskesmas, sudah terlink semua dalam satu data,” jelasnya.

Ia menyebut, dari sisi sarana dan prasarana (Sarpas), Bondowoso sudah cukup siap. 

“Alhamdulillah kita cukup baik. Jadi sudah ada 7 mesin TCM (Tes Cepat Molekuler dan 25 tenaga mikroskop di puskesmas,” tambahnya.

Terkait keterkaitan TBC dengan HIV, Yus Priyatna mengingatkan perlunya sosialisasi pencegahan sejak dini kepada masyarakat, utamanya di wilayah yang angka penderita HIV nya tinggi.

“Salah satu cara kita adalah sosialisasi untuk penanggulangan HIV juga. Di antaranya untuk masalah-masalah yang bisa menimbulkan HIV itu kita redam, terutama masalah-masalah sosial. Biasanya dari luar pulau, terutama dari Bali, banyak yang pulang ke Bondowoso membawa HIV,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa TBC bisa disembuhkan apabila pasien patuh menjalani terapi dan pengobatan dari dokter.

“Jika pasiennya minum obat insyaallah sembuh. Jadi memang yang paling penting adalah pengawasan minum obat,” tegasnya.

Meski begitu, ia tak menampik bahwa sepanjang 2025 masih terdapat kasus kematian akibat TBC. 

“Cukup banyak menelan korban jiwa karena memang datanya terlambat. Kalau yang tertangani sejak awal biasanya sembuh,” ujarnya.

Untuk target yang akan datang, pihaknya bersama instansi terkait terus mencari solusi agar penanganan TBC lebih maksimal. 

“Intinya target penekanan dari BPK tadi adalah memang kita akan mencari solusi dari masalah TBC di Bondowoso,” pungkasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow