Warga Blitar Ciptakan Kompor Berbahan Oli Bekas, Alternatif Hemat Energi
Inovasi kompor berbahan oli bekas karya warga Blitar menjadi solusi alternatif di tengah kelangkaan gas elpiji, dengan harga sekitar Rp 450.000 per unit dan daya nyala hingga setengah hari.
BLITAR, SJP– Kelangkaan gas elpiji yang dikeluhkan masyarakat di berbagai daerah mendorong munculnya inovasi bahan bakar alternatif. Salah satunya datang dari Dusun Dawung, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, melalui karya warga bernama Andi.
Di tengah sulitnya memperoleh gas elpiji serta adanya kebijakan penghematan energi, Andi berhasil menciptakan kompor berbahan bakar limbah, yakni oli bekas dan minyak goreng bekas. Inovasi ini menjadi solusi praktis dan ekonomis bagi masyarakat.
Meski menggunakan bahan bakar dari limbah, kompor buatan Andi mampu menghasilkan nyala api yang stabil dan berwarna biru, menyerupai kompor gas elpiji pada umumnya.
Dari segi desain, kompor tersebut memiliki bentuk sederhana dengan rangka besi yang kokoh. Di bagian tengah terdapat tungku pembakaran serta wadah khusus untuk menampung oli dan minyak goreng bekas sebagai bahan bakar utama.
Andi menjelaskan, dalam sekali pengisian, kompor tersebut dapat menyala hingga kurang lebih setengah hari, sehingga dinilai cukup efisien untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
"Kalau untuk kebutuhan memasak sekali kita isi bahan bakar nyalanya bisa tahan kurang lebih setengah hari," ujar Andi, Kamis (9/4/2026).
Ia menuturkan, ide pembuatan kompor ini berawal dari keresahannya saat kesulitan mendapatkan gas elpiji. Dari situ, ia mencoba memanfaatkan limbah yang mudah ditemukan sebagai alternatif bahan bakar.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Tidak hanya dari Blitar dan sekitarnya, pesanan kompor juga datang dari luar pulau, seperti Kalimantan Timur.
"Ada beberapa yang pesan justru dari luar pulau. Dari Kalimantan Timur. Jadi saya kirim ke sana," imbuhnya.
Di pasaran, kompor ini dijual dengan harga sekitar Rp 450.000 per unit. Harga tersebut dinilai sebanding dengan manfaat yang ditawarkan, terutama sebagai solusi bahan bakar alternatif yang lebih terjangkau.
Dengan inovasi ini, Andi berharap masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada gas elpiji. Selain membantu mengatasi kelangkaan, pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar juga dinilai lebih ramah lingkungan.
Sumber: Beritasatu.com
Penulis: Rainila Otek, Mahasiswa Magang Unitri Malang
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

